YOGYAKARRTA, Suara Muhammadiyah – Perjalanan Muhammadiyah dan'Aisyiyah sekarang berhadapan dengan realitas baru. Bukti konkretnya, ekosistem kita berubah cepat dan kompleks.
Demikian Haedar Nashir mengemukakan, saat Resepsi Milad ke-109 ‘Aisyiyah, Selasa (19/5) di Covention Hall Walidah Dahlan Universitas 'Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta.
“Tantangan kita juga semakin kompleks, bahkan muncul berbagai realitas baru yang dulu tidak hadir, yakni revolusi teknologi informasi,” bongkarnya.
Sekalipun begitu, Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah tetap bergelora dalam dakwahnya. Karena apa? Tentu saja segala rupa usaha yang dilakukan itu berkorelasi dengan amal yang diwujudkan dalam amal usaha, program, dan kegiatan yang progresif dan produktif.
“Muhammadiyah-'Aisyiyah itu semakin terbaik. Bukan simbolisme menengok ke belakang kecuali untuk inspirasi kesejarahan yang membangkitkan motivasi baru, tetapi untuk melangkah ke depan yang jauh, jauh lebih baik,” terangnya.
Atas hal itu, Haedar mengingatkan, pertama, tantangan yang dihadapi di kemudian hari ihwal kompetisi dengan berbagai pergerakan di segala bidang kehidupan; dakwah, pendidikan, lembaga kesehatan, dan lain sebagainya.
“Semua hampir terjadi mobilitas baru di mana punya orang pun berkembang bahkan lebih baik lagi dari kita. Sementara boleh jadi kita berada di jalan yang sama atau berjalan di tempat.,” ujar Haedar.
Merujuk magnum opus Ibnu Khaldun, Muqaddimah, dikatakan kalau masyarakat berkembang dari level budaya nomaden yang primitif (al-badhawah) menuju level budaya menetap dan yang lebih maju (al-hadharah). Proses ini didorong dari ikatan ashabiyah dan kebutuhan ekonomi.
“Di situ akan terjadi perubahan di mana mereka yang badui dengan sikap hidup yang terbelakang dan nomaden, itu berubah-ubah menjadi modern,” jelasnya.
Hal tersebut seperti hukum sunatullah, kata Haedar. Kalau dalam ilmu sosial disebut sebagai hukum alam, tapi sunatullah.
“Artinya, manusia dan masyarakat itu sunatullahnya itu harus berkembang menjadi makin maju, apa pun tantangannya,” tegasnya.
Dalam konteks itu, berlaku hukum Charles Darwin dalam konsep asal-usul manusia yang menyatakan bahwa, species yang tidak bisa beradaptasi dengan lingkungannya dia akan punah dan yang bisa beradaptasi dia akan terus bertahan.
Hukum Darwin itu kemudian, dikembangkan oleh filsuf Inggris, Herbert Spencer (1864) dengan teori survival of the fittest, bahwa mereka yang bisa berjuang dengan gigih, unggul, maka dia yang bisa bertahan dan bisa menguasai kehidupan. Teori ini disebut Darwinism Social.
“Kecuali untuk satu hal, saya memberikan catatan kritis untuk teori primata dan asal-usul manusia, Darwin salah besar. Tapi, untuk tapi untuk perjuangan hidup itu berlaku hampir di banyak tempat,” tekan Haedar.
Di situlah letak peran Muhammadiyah-‘Aisyiyah. Jika pergerakan dakwah dijalankan apa adanya, maka hasilnya sesuai dengan yang dilakukan. Namun, akan berbeda jika dakwah itu dilandasi semangat bersaing untuk menjadi lebih baik.
“Kita harus bangkit dengan spirit baru dan daya juang yang tinggi," tandasnya. (Cris)

