Muhammadiyah Cetak Humas Sekolah Profesional Melalui Akademi Jurnalistik

Suara Muhammadiyah

19 July 2026

171
Foto Istimewa

Foto Istimewa

PURWOKERTO, Suara Muhammadiyah – Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah mulai memperkuat strategi branding sekolah melalui pendekatan jurnalistik. Langkah itu diwujudkan dengan menggelar Akademi Jurnalistik Muhammadiyah (AJM) bertema "Branding Sekolah Muhammadiyah Melalui Kehumasan di Era Digital" di Auditorium Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Sabtu-Minggu (18-19/7/2026).

Puluhan humas sekolah Muhammadiyah dari berbagai daerah di Jawa Tengah mengikuti pelatihan intensif selama dua hari. Mereka dibekali materi mulai dari paradigma branding sekolah, strategi kehumasan, manajemen media sosial, jurnalistik, hingga praktik menyusun rencana peliputan kegiatan sekolah.

Sejumlah narasumber dihadirkan dalam kegiatan tersebut, di antaranya Doktor Ilmu Komunikasi Roni Tobroni, jurnalis Muhammadiyah Jawa Barat Kelik, konsultan branding Rulli Nashrullah, jurnalis TVRI Mukhtarom, serta praktisi pendidikan dan humas sekolah Hendra Apriyadi.

Koordinator Penguatan Media dan Jurnalistik MPI PP Muhammadiyah, Roni Tobroni, mengatakan Akademi Jurnalistik Muhammadiyah dirancang sesuai kebutuhan sekolah dengan benang merah penguatan kemampuan jurnalistik.

"Akademi Jurnalistik Muhammadiyah ini khas sesuai kebutuhan, tetapi benang merahnya adalah jurnalistik. Apa yang kita lakukan hari ini adalah branding sekolah dengan pendekatan jurnalistik," katanya.

Sementara itu, Sekretaris MPI PP Muhammadiyah Anam Sutopo menegaskan sekolah Muhammadiyah perlu melakukan rebranding agar mampu bersaing di era digital melalui pengelolaan humas yang profesional.

Menurutnya, sekolah tidak hanya membutuhkan publikasi, tetapi juga jurnalis-jurnalis muda yang mampu menyampaikan informasi secara jujur, kritis, dan berintegritas.

"Jadilah jurnalis Muhammadiyah yang kritis dan jujur. Menulislah berdasarkan fakta, boleh bertanya tetapi tetap santun. Junjung integritas, tanpa meninggalkan ketepatan dan kecepatan. Jadilah orang yang menggunakan pena untuk mencerahkan," ujarnya.

Anam juga mendorong generasi muda Muhammadiyah menjadikan dunia jurnalistik sebagai ruang dakwah sekaligus media untuk memajukan amal usaha Muhammadiyah.

Salah seorang peserta, Rian Khoirul Rizal dari Pondok Pesantren Muhammadiyah Ahmad Dahlan Kabupaten Tegal, mengaku pelatihan tersebut memberikan motivasi baru bagi sekolah dan pesantrennya untuk memperkuat literasi serta publikasi kegiatan.

"Acara ini sangat menginspirasi kami. Kami semakin semangat karena memang membutuhkan penguatan di bidang literasi, jurnalistik, dan media. Setelah ini kami akan segera berbenah agar Pondok Pesantren Muhammadiyah Ahmad Dahlan semakin dikenal masyarakat melalui media dan karya-karya santri," ungkapnya.

Ia berharap kegiatan serupa dapat terus digelar dengan melibatkan lebih banyak sekolah dan pondok pesantren Muhammadiyah. Menurutnya, potensi santri di bidang jurnalistik perlu dikembangkan sebagai bekal dakwah di masa depan.

Perkuat Citra dan Dukung SPMB

Pada sesi bertajuk Mengapa AUM Pendidikan Perlu Menulis Berita?, Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (UHAMKA), Hendra Apriyadi, MPd, mengajak seluruh Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) bidang pendidikan untuk membangun budaya publikasi melalui penulisan berita yang faktual, akurat, dan inspiratif. Menurutnya, setiap kegiatan, prestasi, inovasi, maupun praktik baik di sekolah dan madrasah perlu dipublikasikan agar diketahui masyarakat luas sekaligus menjadi bagian dari syiar dakwah Muhammadiyah yang menggembirakan.

Hendra yang juga Anggota Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah serta pengelola media digital Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah menyampaikan bahwa publikasi yang dilakukan secara konsisten merupakan salah satu strategi membangun reputasi lembaga pendidikan. Sekolah yang aktif menyampaikan informasi kepada publik akan lebih mudah memperoleh kepercayaan masyarakat karena dinilai terbuka, profesional, dan memiliki budaya mutu.

"Setiap kegiatan baik yang dilakukan sekolah jangan berhenti menjadi dokumentasi. Kegiatan tersebut perlu diolah menjadi berita yang mengandung nilai informasi, inspirasi, dan manfaat bagi masyarakat. Dengan demikian, sekolah akan semakin dikenal dan kepercayaan masyarakat pun terus meningkat," ujarnya.

Dalam pemaparannya, Hendra menjelaskan sedikitnya enam manfaat utama publikasi berita bagi AUM Pendidikan, yaitu membangun citra dan kepercayaan masyarakat, menjadi media promosi yang kredibel dan hemat biaya, menampilkan prestasi guru dan murid, menarik minat calon murid beserta orang tua, memperkuat hubungan dengan media massa, serta menghasilkan konten yang dapat dipublikasikan melalui berbagai platform, seperti website, media sosial, media cetak, maupun media daring.

Ia menambahkan bahwa publikasi yang berkualitas juga memberikan dampak positif terhadap Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB). Menurutnya, orang tua saat ini tidak hanya mempertimbangkan lokasi atau fasilitas sekolah, tetapi juga rekam jejak lembaga yang dapat dilihat melalui pemberitaan dan aktivitas digital. Sekolah yang aktif mempublikasikan prestasi, inovasi pembelajaran, kegiatan keagamaan, serta pengembangan karakter memiliki peluang lebih besar memperoleh kepercayaan masyarakat.

Selain penyampaian materi, peserta memperoleh pendampingan praktik menulis berita dengan menerapkan unsur 5W+1H (what, who, when, where, why, dan how). Peserta juga mempelajari teknik menyusun judul, lead, isi berita, pemilihan narasumber, serta etika jurnalistik agar menghasilkan berita yang informatif, berimbang, mudah dipahami, dan dapat dipertanggungjawabkan.

"Berita yang baik harus memenuhi unsur 5W+1H, berdasarkan fakta, disampaikan secara jujur, serta memberikan manfaat kepada pembaca. Publikasi yang berkualitas bukan sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga menjadi media syiar dakwah Muhammadiyah yang menggembirakan," jelasnya.

Suasana pelatihan berlangsung interaktif. Para peserta tampak antusias mengikuti setiap sesi dengan aktif berdiskusi, mengajukan pertanyaan, dan berbagi pengalaman mengenai pengelolaan website maupun media sosial sekolah. Diskusi juga membahas strategi membangun tim media sekolah yang mampu menghasilkan konten secara berkelanjutan.

Peserta, Ulfiyani, yang merupakan tim media sosial SMP Muhammadiyah 2 Sirampog, Kabupaten Brebes, mengaku memperoleh banyak wawasan baru selama mengikuti pelatihan.

"Setelah mengikuti Akademi Jurnalistik Muhammadiyah 2026, saya berharap ilmu yang diperoleh dapat diimbaskan kepada tim media di SMP Muhammadiyah 2 Sirampog. Kami ingin mengelola media sosial dan publikasi sekolah secara lebih profesional agar sekolah semakin dikenal masyarakat luas. Harapannya, publikasi yang baik dapat memperkuat citra sekolah dan memberikan dampak positif terhadap peningkatan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB)," ungkapnya.

Kegiatan tersebut diikuti sekitar 50 peserta yang terdiri atas kepala sekolah, guru, dan pengelola media kreatif sekolah/madrasah Muhammadiyah dari jenjang SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK, hingga pondok pesantren Muhammadiyah yang berasal dari Tegal, Pemalang, Brebes, Banyumas, Purwokerto, dan Cilacap. (HA/Humas )


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Dr H Irwan Akib, MPd meng....

Suara Muhammadiyah

18 July 2024

Berita

CILACAP, Suara Muhammadiyah - Peresmian gedung baru SMK Muhammadiyah 1 Sampang Cilacap, oleh Pimpina....

Suara Muhammadiyah

8 May 2024

Berita

CILACAP, Suara Muhammadiyah - Sembilan anak Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Muhamm....

Suara Muhammadiyah

22 June 2024

Berita

 SUKABUMI, Suara Muhammadiyah – Mahasiswa Program Studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, da....

Suara Muhammadiyah

12 July 2026

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah — Majelis Pendayagunaan Wakaf Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) ....

Suara Muhammadiyah

16 February 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah