JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menerima kunjungan Direktur Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta Muhammad Sharifani, di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Menteng Raya, Kota Jakarta Pusat, Senin (10/8).
Pertemuan tersebut menjadi momentum silaturahim sekaligus bertukar gagasan mengenai peluang penguatan kerja sama antara Muhammadiyah dan Iran, khususnya di bidang pendidikan, akademik, ilmu pengetahuan, dan teknologi.
Kunjungan Sharifani yang baru berada di Indonesia dan akan menjalankan tugas sebagai Direktur ICC tersebut diterima langsung oleh Ketua PP Muhammadiyah, Syafiq A Mughni.
Syafiq menyampaikan, pertemuan tersebut menjadi langkah awal untuk membangun hubungan yang lebih dekat dan produktif dengan Direktur ICC. Berbagai bidang yang berpotensi dikembangkan bersama turut dibicarakan, terutama kerja sama akademik dan kebudayaan.
“Ini merupakan silaturahim awal dengan Direktur Islamic Cultural Center yang baru datang ke Indonesia. Kami bertukar pikiran tentang bidang-bidang yang bisa kita kembangkan bersama,” ujar Syafiq.
Menurutnya, kerja sama dapat dilakukan secara terbuka selama diarahkan untuk menghadirkan kebaikan dan kemaslahatan bersama. Muhammadiyah juga melihat perguruan tinggi sebagai salah satu pintu penting untuk mengembangkan kolaborasi yang lebih konkret.
“Prinsipnya, kita bisa bekerja sama dengan siapa saja selama tujuannya untuk kebaikan bersama, ta'awanu 'alal birri wat taqwa,” jelasnya.
Dalam pertemuan tersebut, Syafiq menekankan pentingnya mengembangkan kerja sama yang tidak berhenti pada hubungan simbolik, tetapi dapat menghasilkan manfaat yang produktif dan aplikatif.
Salah satu bidang yang dinilai potensial adalah Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM), terutama sains dan teknologi. Kerja sama antar perguruan tinggi dapat menjadi sarana untuk memperkuat kapasitas keilmuan, pertukaran pengetahuan, serta pengembangan teknologi.
“Kerja sama ini bisa diarahkan pada bidang akademik dan kebudayaan, termasuk melalui perguruan tinggi. Kita juga ingin agar ada perhatian pada STEM, terutama sains dan teknologi,” tuturnya.
Syafiq juga menyampaikan bahwa Muhammadiyah telah memiliki pengalaman kerja sama dengan mitra di Iran. Salah satunya kerja sama antara Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSura) dengan salah satu lembaga kesehatan di Teheran dalam pengembangan ilmu dan teknologi kesehatan.
Sementara, Muhammad Sharifani menyambut baik penerimaan PP Muhammadiyah dan peluang kerja sama yang dibicarakan dalam pertemuan tersebut. Menurutnya, Muhammadiyah merupakan mitra strategis karena memiliki jaringan pendidikan dan kelembagaan yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
“Saya senang sekali dapat diterima oleh pimpinan Muhammadiyah yang memiliki banyak perguruan tinggi dan lembaga pendidikan. Muhammadiyah merupakan mitra yang sangat penting karena jaringannya tersebar luas di seluruh Indonesia,” ungkap Sharifani.
Sharifani menyebut peluang kerja sama dapat dikembangkan dalam bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, teknologi, dan bidang lainnya. Keberadaan perguruan tinggi serta jaringan akademik Muhammadiyah dapat menjadi basis untuk mempertemukan para ahli, guru besar, dan pakar dari kedua pihak.
Ia menilai pertukaran pengetahuan dan gagasan menjadi bagian penting dalam mendorong kemajuan ilmu. Kolaborasi antarpakar tidak hanya memberikan manfaat bagi pengembangan akademik, tetapi juga dapat menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi kedua pihak.
“Pertukaran pikiran sangat penting agar ilmu dapat berkembang dan maju. Kolaborasi para ahli dan pakar tentu bukan hanya bermanfaat bagi dunia akademik, tetapi juga memberikan manfaat bagi semua pihak,” tandasnya. (taufik)

