Muhammadiyah dan Jalan Baru Ekonomi Umat

Suara Muhammadiyah

16 September 2026

177
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Muhammadiyah dan Jalan Baru Ekonomi Umat

Oleh: Agus Herta Sumarto, Ekonom Indef, Anggota PCM Panawuan Garut 

Lebih dari satu abad Muhammadiyah hadir di tengah perjalanan bangsa  Indonesia. Jejaknya paling mudah dikenali dari sekolah, perguruan tinggi, rumah  sakit, klinik, panti sosial, dan berbagai pelayanan kemanusiaan yang tersebar dari  kota-kota besar hingga daerah-daerah terpencil. Kita patut bersyukur karena dari  rahim Persyarikatan telah tumbuh jaringan pelayanan sosial yang besar dan  kokoh. Namun, sebagai orang yang tumbuh dan berkhidmat di lingkungan  Muhammadiyah, saya melihat ada satu pertanyaan yang perlu kita jawab  bersama: setelah pendidikan dan kesehatan, apakah Muhammadiyah sudah  waktunya melakukan lompatan yang sama besarnya di bidang ekonomi? 

Pertanyaan tersebut bukan berarti Muhammadiyah selama ini absen dari  kegiatan ekonomi. Justru sejarah menunjukkan bahwa Muhammadiyah lahir di  lingkungan masyarakat yang memiliki etos dagang kuat. Kauman, Kotagede,  Pekajangan, Laweyan, dan sejumlah pusat awal pertumbuhan Muhammadiyah  memiliki hubungan erat dengan para saudagar dan pengusaha. Kemandirian  gerakan pada masa awal juga ditopang oleh mereka. Karena itu, membangun  kekuatan ekonomi sesungguhnya bukan memasukkan sesuatu yang asing ke  dalam Muhammadiyah. Kita sedang menghidupkan kembali salah satu DNA  gerakan yang sejak awal telah ada. 

Perbedaannya, tantangan ekonomi hari ini jauh berbeda dengan satu abad  lalu. Kekuatan ekonomi tidak lagi cukup bertumpu pada kemurahan hati  beberapa saudagar besar. Ia membutuhkan kelembagaan, skala usaha, teknologi,  jaringan produksi, pembiayaan, distribusi, tata kelola, dan sumber daya manusia  profesional. Dengan kata lain, semangat kewirausahaan Muhammadiyah perlu  bergerak dari kekuatan individual menuju kekuatan institusional. 

Modal awalnya sebenarnya sangat besar. Data Persyarikatan menunjukkan  Muhammadiyah memiliki lebih dari lima ribu sekolah, lebih dari 160 perguruan  tinggi, sekitar 130 rumah sakit, ratusan klinik, serta jaringan organisasi yang  menjangkau hampir seluruh Indonesia. Di belakangnya terdapat mahasiswa,  siswa, dosen, guru, dokter, tenaga kesehatan, pegawai, alumni, jamaah, keluarga  besar Muhammadiyah, dan masyarakat yang berinteraksi setiap hari dengan amal 

usaha Muhammadiyah. Ini bukan sekadar jaringan sosial. Jika dikelola secara  tepat, ia merupakan ekosistem ekonomi yang luar biasa besar. Di sinilah menurut saya cara pandang kita perlu mulai berubah. Selama ini, amal usaha lebih sering dipandang berdasarkan fungsi sektoralnya seperti sekolah untuk mendidik, universitas untuk menghasilkan sarjana, rumah sakit  untuk melayani kesehatan, dan lembaga sosial untuk melayani masyarakat.  Semua itu benar. Tetapi pada saat yang sama, setiap amal usaha juga  menciptakan permintaan ekonomi yang besar. Rumah sakit membutuhkan obat,  alat kesehatan, infus, makanan, linen, teknologi informasi, furnitur dan jasa  logistik. Sekolah dan perguruan tinggi membutuhkan seragam, buku, alat tulis,  komputer, makanan, jasa transportasi, hingga pemeliharaan gedung.  Pertanyaannya adalah siapa yang selama ini menikmati efek pengganda ekonomi  dari belanja besar tersebut? 

Oleh karena itu, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah membangun  peta ekosistem ekonomi Muhammadiyah secara komprehensif dalam skala  nasional. Kita perlu mengetahui dengan presisi berapa nilai aset, belanja tahunan,  kebutuhan barang dan jasa, jumlah pelaku usaha warga, kemampuan produksi,  hingga potensi pembiayaan yang tersedia. Tidak mungkin membangun strategi  ekonomi besar hanya berdasarkan perkiraan. Muhammadiyah membutuhkan  semacam economic dashboard yang menghubungkan data amal usaha, pelaku  bisnis, koperasi, BTM, BPRS, UMKM, dan potensi pasar di seluruh wilayah. 

Langkah kedua adalah mengonsolidasikan unit-unit ekonomi ke dalam  arsitektur bisnis yang lebih terintegrasi dan profesional. Muhammadiyah sudah  memiliki berbagai embrio usaha seperti lembaga keuangan, ritel, hotel, SPBU,  koperasi, hingga sejumlah perusahaan. Bahkan belakangan mulai dikembangkan  Mentari Mart dan rencana pabrik infus Suryavena untuk memenuhi kebutuhan  jaringan rumah sakit. Arah seperti ini harus diperbesar. Bukan berarti seluruh  usaha harus dimiliki dan dikendalikan secara sentral, tetapi harus ada holding atau badan investasi yang mampu melakukan konsolidasi modal, menentukan  sektor prioritas, membangun tata kelola, serta menciptakan sinergi antarusaha. 

Langkah ketiga, dan mungkin yang paling cepat memberikan dampak,  adalah membangun rantai pasok Muhammadiyah. Kita tidak harus memproduksi  sendiri seluruh barang yang dibutuhkan. Yang lebih penting adalah membangun  sistem yang mempertemukan kebutuhan amal usaha dengan kemampuan  produksi warga dan masyarakat. UMKM yang mampu membuat seragam,  makanan, furnitur, alat kebersihan, produk pertanian atau berbagai kebutuhan 

lain dapat masuk sebagai pemasok setelah memenuhi standar kualitas dan harga.  Persyarikatan berperan sebagai agregator, penjaga standar, pembuka pasar dan,  jika diperlukan, penghubung pembiayaan. 

Dengan pola tersebut, pembinaan UMKM berubah secara fundamental.  Selama ini terlalu banyak program pemberdayaan berhenti pada pelatihan seperti pelatihan kemasan, digital marketing, pencatatan keuangan, atau  kewirausahaan. Semuanya penting, tetapi pelaku usaha kecil sering kali memiliki  persoalan yang jauh lebih sederhana: produknya mau dijual ke mana? Maka  filosofi pemberdayaan harus bergeser dari sekadar memberikan pelatihan menjadi  memberikan jalan menuju pasar. Muhammadiyah mempunyai pasar itu di depan  mata. 

Langkah keempat adalah membangun jaringan distribusi dan ritel yang lebih  kuat. Kehadiran Mentari Mart dan berbagai jaringan ritel lokal Muhammadiyah  dapat dijadikan titik awal, tetapi orientasinya jangan sekadar mendirikan  minimarket. Ia harus dikembangkan sebagai distribution hub bagi produk UMKM,  petani, peternak, nelayan, koperasi, dan usaha milik warga. Integrasikan jaringan  fisik tersebut dengan platform digital sehingga produk dari satu daerah dapat  menemukan pasar di daerah lain. Jika ribuan titik Muhammadiyah dapat  terhubung dalam jaringan perdagangan yang sama, skala ekonominya akan  berubah sama sekali. 

Langkah kelima adalah memperkuat sisi pembiayaan. Ekonomi tidak  mungkin tumbuh hanya dengan pasar, ia juga membutuhkan modal. BTM, BPRS,  koperasi, wakaf produktif, dana investasi dan kemitraan dengan lembaga  keuangan harus ditempatkan dalam satu ekosistem pembiayaan produktif. Kita  perlu membedakan dengan tegas antara dana sosial untuk membantu  masyarakat yang membutuhkan dan modal produktif untuk membuat  masyarakat naik kelas. Zakat dan sedekah penting untuk melindungi mereka  yang berada di bawah, tetapi investasi dan pembiayaan produktif diperlukan agar  mereka memiliki tangga untuk bergerak ke atas. 

Dalam jangka lebih panjang, Muhammadiyah juga layak memikirkan  Muhammadiyah Investment Fund yang dikelola secara profesional, prudent,  transparan, dan sesuai prinsip syariah. Dana tersebut dapat menjadi kendaraan  investasi untuk membangun perusahaan di sektor-sektor yang memiliki  hubungan kuat dengan kompetensi Muhammadiyah seperti kesehatan,  pendidikan, pangan, industri halal, teknologi pendidikan, teknologi kesehatan,  energi terbarukan, hingga ekonomi digital. Prinsipnya sederhana, sebagian 

sumber daya umat harus mampu bertransformasi menjadi aset produktif yang  terus menciptakan nilai tambah. 

Langkah keenam adalah menjadikan perguruan tinggi Muhammadiyah  sebagai mesin pencetak entrepreneur. Selama ini keberhasilan universitas masih  banyak diukur dari berapa banyak lulusan yang terserap dunia kerja. Ukuran itu  perlu dilengkapi dengan pertanyaan baru: berapa perusahaan yang lahir dari  kampus Muhammadiyah? Berapa mahasiswa yang setelah lulus mampu  menciptakan lapangan pekerjaan? Berapa hasil penelitian dosen yang berubah  menjadi produk komersial dan dapat dijual di pasar? Setiap PTMA idealnya  memiliki inkubator bisnis, venture builder, mentor pengusaha, akses modal awal,  serta jalur khusus agar produk mahasiswa dan alumni dapat diuji di pasar  internal Muhammadiyah. 

Namun ada satu hal yang harus dijaga. Penguatan ekonomi Muhammadiyah  jangan berubah menjadi eksklusivisme ekonomi. Tujuannya bukan membuat  seluruh transaksi hanya berputar di kalangan sendiri dan menutup pintu bagi  pihak lain. Muhammadiyah sejak awal hadir untuk bangsa. Karena itu, ekosistem  internal harus berfungsi sebagai landasan untuk memperbesar manfaat keluar.  UMKM yang dibesarkan Muhammadiyah harus mampu masuk pasar nasional  bahkan global. Produk yang lahir dari kampus Muhammadiyah harus digunakan  masyarakat luas. Perusahaan Muhammadiyah harus menjadi perusahaan  Indonesia yang kompetitif dan memberi manfaat kepada siapa pun. 

Di sinilah saya melihat relevansi baru Teologi Al-Ma'un. Selama lebih dari  satu abad, semangat Al-Ma'un telah diterjemahkan secara luar biasa melalui  sekolah, rumah sakit, panti sosial, bantuan bencana, dan pelayanan kepada  kelompok yang membutuhkan. Pada abad kedua Muhammadiyah, semangat yang  sama dapat diperluas dari helping the poor menuju empowering the poor; dari  membantu orang bertahan hidup menuju membantu mereka naik kelas secara  ekonomi. 

Petani tidak cukup hanya diberi bantuan pupuk, tetapi perlu dihubungkan  dengan teknologi, pembiayaan, pengolahan dan pasar. Pedagang kecil tidak cukup  diberi modal, tetapi harus memiliki akses terhadap rantai pasok. UMKM tidak  cukup diajari membuat produk, tetapi perlu dipertemukan dengan pembeli.  Mahasiswa tidak cukup diberikan teori kewirausahaan, tetapi perlu mendapatkan  kesempatan membangun perusahaan. Dengan cara itulah dakwah ekonomi  memperoleh bentuk yang nyata.

Saya percaya Muhammadiyah memiliki modal sosial, modal manusia,  jaringan kelembagaan dan kepercayaan publik yang sulit ditandingi.  Tantangannya bukan lagi apakah Muhammadiyah mampu memasuki bidang  ekonomi. Pertanyaannya adalah apakah seluruh potensi yang tersebar itu dapat  dikonsolidasikan menjadi kekuatan produktif. Pendidikan dan Kesehatan telah  membuktikannya. Kini ekonomi menunggu keberanian institusional yang sama. 

Kita tentu tidak ingin Muhammadiyah menjadi konglomerasi yang  kehilangan jiwa gerakannya. Yang kita butuhkan justru korporasi sosial keagamaan yang sehat, profesional, kompetitif, tetapi tetap menjadikan  kemaslahatan sebagai orientasi akhirnya. Keuntungan bukan tujuan terakhir,  melainkan bahan bakar untuk memperbesar dakwah, menciptakan pekerjaan,  meningkatkan kesejahteraan, dan memperluas manfaat bagi bangsa. 

Jika pada abad pertama Muhammadiyah membangun manusia Indonesia  melalui sekolah dan rumah sakit, maka pada abad keduanya Muhammadiyah  perlu semakin kuat membangun kemandirian manusia Indonesia melalui  kekuatan ekonomi. Dari ruang kelas kita telah mencerdaskan bangsa. Dari rumah  sakit kita telah menjaga kehidupan. Kini dari pasar, perusahaan, koperasi,  industri dan jaringan usaha, sudah waktunya Muhammadiyah ikut lebih besar  membangun kesejahteraan Indonesia.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Pilkada dalam Ancaman Ketidakpercayaan Warga  Oleh: Ahsan Jamet Hamidi, Ketua Pimpinan Ranting....

Suara Muhammadiyah

2 December 2024

Wawasan

Menjadi Perempuan Berdaya dan Pembelajar Sepanjang Hayat Menjaga Kekokohan Peri Kehidupan Bangsa M....

Suara Muhammadiyah

22 December 2023

Wawasan

Kecerdasan Imitasi dan Desentralisasi Fatwa; Tulisan Menyambut Munas Tarjih 33 di Surabaya Oleh: Is....

Suara Muhammadiyah

26 August 2026

Wawasan

Oleh : Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Hari ini, saya akan mengulas s....

Suara Muhammadiyah

4 December 2024

Wawasan

Refleksi Akhir Tahun dan Optimisme Tahun 2025 Oleh: Afita Nur Hayati, Bekerja di Universitas Islam ....

Suara Muhammadiyah

31 December 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah