Muhammadiyah Diplomacy Training di UM Bandung, Siapkan Kader Berwawasan Global

Publish

6 June 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
174
Foto Istimewa

Foto Istimewa

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Muhammadiyah terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat sumber daya manusia melalui program-program vokasi yang berdaya saing global, hal ini yang disampaikan oleh Imam Addaruqutni Ketua Lembaga Hubungan dan Kerjasama International Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada 6-7 Juni 2026, pada sesi penutupan MDT (Muhammadiyah Diplomacy Training) Batch Four di Universitas Muhammadiyah Bandung. 

Ketua LHKI PP Muhammadiyah menegaskan kembali komitmen dalam pembangunan komunitas dan keberlanjutan diperlukan serangkaian program strategis yang dirancang untuk memberikan dampak positif bagi masyarakat luas, terutama aspek program universitas Muhammadiyah Bandung yang berfokus pada upaya kolaboratif untuk memajukan komunitas dan dibutuhkan perencanaan strategis yang komprehensif dalam berbagai hal, termasuk program-program yang melibatkan partisipasi aktif dari komunitas, terutama poin penting penekanan pada posisi komunitas dalam setiap program.

UM Bandung tidak hanya berperan sebagai institusi pendidikan, tetapi juga sebagai fasilitator dalam memberdayakan masyarakat yang memiliki sumber daya dan jaringan yang relevan untuk kemajuan UM Bandung yang mengintegrasikan aspek keberlanjutan dan pola hidup sehat dalam inisiatifnya. Ini sejalan dengan visi universitas untuk menciptakan lingkungan yang lebih baik dan masyarakat yang lebih sejahtera.

Menyoroti ekspansi jaringan Muhammadiyah di berbagai belahan dunia dan peluncuran program "Get Job" yang inovatif. Lanjut Imam lebih menekankan bahwa jaringan Muhammadiyah kini telah tersebar luas di berbagai belahan dunia, mulai dari Amerika Serikat, Qatar, Timur Tengah, hingga wilayah lainnya. "Mudah-mudahan apa yang kita lakukan hari ini menjadi inspirasi bagi kita semua, termasuk bagi calon pemimpin Muhammadiyah di masa depan," ujarnya.

Fokus utama acara ini adalah apresiasi terhadap program "Get Job" yang diinisiasi oleh Pak Anshori. Program ini dirancang khusus untuk membantu siswa dan lulusan dari lingkungan pendidikan Muhammadiyah, khususnya SMK dan perguruan tinggi, agar lebih siap memasuki dunia kerja. Program ini tidak hanya berfokus pada transfer ilmu teknis, tetapi juga bertujuan untuk menginspirasi para peserta agar menjadi calon-calon pemimpin Muhammadiyah di masa depan, baik di tingkat nasional maupun internasional.

"Pelatihan Informasi Vokasi Muhammadiyah Global",  adalah sebuah inisiatif yang diharapkan dapat menjadi wadah bagi generasi muda Muhammadiyah untuk mengembangkan diri dan berkontribusi lebih luas sebagai langkah nyata dalam memperkuat jaringan vokasi Muhammadiyah di kancah global," tambah Imam.

Sementara itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2005–2015 Din Syamsuddin menilai Muhammadiyah memiliki peluang besar untuk berkontribusi dalam diplomasi, perlindungan, dan peningkatan kualitas pekerja migran Indonesia.

Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah memberikan pelatihan dan pembekalan kepada calon pekerja migran sebelum mereka berangkat ke luar negeri agar memiliki keterampilan yang memadai.

Hal tersebut disampaikan Din saat menjadi narasumber dalam kegiatan Muhammadiyah Diplomacy Training (MDT) yang diselenggarakan oleh Lembaga Hubungan dan Kerja Sama Internasional (LHKI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Auditorium KH Ahmad Dahlan, Kampus Universitas Muhammadiyah Bandung, pada Sabtu (06/06/2026).

Menurut Din, persoalan pekerja migran Indonesia dapat dilihat dalam tiga fase besar, yakni fase keberangkatan, masa bekerja di luar negeri, dan fase kepulangan ke tanah air. Pada setiap fase tersebut terdapat berbagai persoalan krusial yang membutuhkan perhatian dan perlindungan yang serius.

“Dalam ketiga fase itu terdapat titik-titik rawan yang sering kali menimbulkan masalah bagi pekerja migran. Karena penempatan tenaga kerja melibatkan banyak pihak, peluang terjadinya praktik yang tidak adil dan berorientasi keuntungan semata masih cukup besar,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa hingga saat ini penempatan pekerja migran Indonesia masih didominasi oleh perusahaan penyalur tenaga kerja atau agensi. Sementara penempatan secara mandiri jumlahnya masih sangat kecil, yakni kurang dari 10 persen.

Permasalahan yang sering muncul pada fase pra-keberangkatan, lanjut Din, adalah rendahnya tingkat pendidikan calon pekerja migran. Bahkan, masih ditemukan calon pekerja migran yang tidak menamatkan pendidikan dasar. Kondisi tersebut membuat mereka rentan mengalami eksploitasi dan kesulitan beradaptasi dengan tuntutan pekerjaan di negara tujuan.

“Banyak yang berangkat tanpa keterampilan yang cukup. Ketika sampai di negara tujuan, mereka menghadapi peralatan dan sistem kerja yang berbeda dengan kondisi di kampung halaman. Akibatnya, mereka mengalami culture shock, kesulitan bekerja, bahkan tidak jarang mendapat perlakuan tidak layak dari majikan,” katanya.

Din juga menyoroti pentingnya keterlibatan organisasi kemasyarakatan Islam dalam memberikan pendampingan kepada pekerja migran. Saat menjabat sebagai Direktur Jenderal Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja Depnaker RI, dia pernah mendorong organisasi perempuan seperti Aisyiyah dan Fatayat NU untuk membentuk wadah perlindungan bagi pekerja migran yang kembali ke Indonesia.

Mayoritas pekerja migran Indonesia adalah perempuan yang membutuhkan pendampingan dan perlindungan berkelanjutan. Oleh karena itu, menurutnya, ini merupakan ruang yang masih sangat terbuka untuk digarap Muhammadiyah.

Melalui ortom-ortom yang dimiliki, misalnya, Muhammadiyah dapat menggelar pelatihan, pembekalan, dan pendampingan bagi calon pekerja migran agar mereka memiliki kecerdasan, keterampilan, dan kesiapan menghadapi tantangan di negara tujuan.

Din menambahkan, selain meningkatkan kapasitas calon pekerja migran, program tersebut juga dapat menjadi upaya pencegahan terhadap berbagai risiko, termasuk kasus pelecehan seksual yang kerap dialami pekerja migran perempuan.

Sementara itu, Rektor Universitas Muhammadiyah Bandung Herry Suhardiyanto menyampaikan apresiasi kepada penyelenggara karena telah memilih UM Bandung sebagai lokasi pelaksanaan Muhammadiyah Diplomacy Training.

Herry menilai diplomasi merupakan kemampuan yang sangat penting, terutama dalam konteks perlindungan warga negara Indonesia, termasuk pekerja migran yang berada di luar negeri. Ia berharap kegiatan tersebut mampu melahirkan kader-kader Muhammadiyah yang memiliki kapasitas diplomasi dan mampu berkontribusi di tingkat organisasi, nasional, maupun internasional.

Kegiatan ini akan digelar selama dua hari. Acara ini dihadiri Ketua PP Muhammadiyah Syafiq Mughni, Ketua Lazismu Ahmad Imam Mujadid Rais, Wamen P2MI Zulfikar Ahmad Tawalla, Duta Besar Bunyan Saptomo, Duta Besar Salman Al-Farisi, Ketua Departemen Hubungan dan Kerja Sama Luar Negeri Imam Addaruqutni, Sekretaris LHKI Yayah Khisbiyah, dan LHKI PP Muhammadiyah Bidang Perjanjian Internasional Agung Rachmat Hidayat.*(FA/FK)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

KLATEN, Suara Muhammadiyah – Bendahara Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah Dyah Suminar berkun....

Suara Muhammadiyah

3 June 2026

Berita

JAKARTA, Suara Muhammdiyah — Berdasarkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 7 Tahun 2025 tentan....

Suara Muhammadiyah

25 August 2025

Berita

SURABAYA, Suara Muhammadiyah — Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PCPM) Semampir bersama Pim....

Suara Muhammadiyah

15 June 2025

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Kauman Yogyakarta menyele....

Suara Muhammadiyah

3 October 2023

Berita

MALANG, Suara Muhammadiyah - Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (FH UMM) resmi meluncurk....

Suara Muhammadiyah

30 May 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah