DENPASAR, Suara Muhammadiyah — Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Bali menyelenggarakan Muhammadiyah Disaster Resilience Forum pada 10 Oktober 2026 di Kampus BIM University Denpasar. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana (Bulan PRB) sekaligus menjadi ruang untuk memperkuat sinergi dalam upaya mitigasi bencana dan adaptasi perubahan iklim di Provinsi Bali.
Forum ini menghadirkan narasumber dari MDMC PP Muhammadiyah, Lentera Hijau dan 350.id. Kegiatan tersebut juga dihadiri perwakilan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Bali, Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen), serta Lazismu Bali. Pertemuan ini menjadi kesempatan untuk bertukar perspektif mengenai tantangan perubahan iklim sekaligus mengidentifikasi peluang kerja sama dalam membangun ketangguhan masyarakat dan satuan pendidikan.
Ketua MDMC Bali, Yon Eko Saputro, menyampaikan bahwa penyelenggaraan forum ini merupakan tindak lanjut dari Rapat Kerja Nasional (Rakernas) MDMC di Yogyakarta. Inisiatif tersebut juga menjadi bagian dari upaya MDMC Bali untuk memperkuat ketangguhan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), khususnya di bidang pendidikan.
“Melalui penguatan jejaring dan komunikasi lintas lembaga, MDMC Bali mendorong agar isu mitigasi bencana dan adaptasi perubahan iklim semakin terintegrasi dalam pengelolaan satuan pendidikan Muhammadiyah. Sehingga sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar yang aman, tetapi juga mampu membangun kesadaran dan kesiapsiagaan menghadapi risiko bencana,” jelas Yon Eko Saputro.
Dalam sesi pemaparan, perwakilan Lentera Hijau dan 350.id menguraikan kondisi perubahan iklim di Bali, berbagai tantangan yang ditimbulkan, serta langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk menghadapinya. Pembahasan ini menyoroti pentingnya peningkatan kesadaran publik, penguatan aksi lingkungan, dan penerapan strategi mitigasi serta adaptasi yang sesuai dengan kondisi lokal.
Sementara itu, Priyo A. Sancoyo dari MDMC PP Muhammadiyah menekankan pentingnya kolaborasi antarlembaga dalam membangun ketangguhan satuan pendidikan. Upaya tersebut perlu mencakup pengurangan risiko bencana, peningkatan kapasitas warga sekolah, serta penciptaan lingkungan belajar yang aman, nyaman, inklusif, dan berkelanjutan.
Melalui forum ini, MDMC Bali mendorong penguatan kemitraan antara unsur Muhammadiyah, komunitas pemerhati lingkungan, dan berbagai organisasi terkait. Sinergi tersebut diharapkan tidak berhenti pada pertukaran gagasan, tetapi berlanjut menjadi program bersama yang mendukung kesiapsiagaan bencana dan adaptasi perubahan iklim, terutama di lingkungan pendidikan.
Yon Eko Saputro berharap, hasil pertemuan ini dapat menjadi landasan bagi pelaksanaan program yang lebih terarah dan berkelanjutan. “Ke depan, sinergi tersebut diharapkan dapat diwujudkan melalui program nyata, khususnya penguatan kesiapsiagaan dan adaptasi perubahan iklim di satuan pendidikan yang ada di Provinsi Bali,” ungkap Yon Eko Saputro. (diko)

