Muhammadiyah Dorong Pelestarian Lingkungan sebagai Jalan Menuju Baldatun Thayyibatun

Suara Muhammadiyah

30 June 2026

197
Dr KH Muhammad Saad Ibrahim, MA

Dr KH Muhammad Saad Ibrahim, MA

SURAKARTA, Suara Muhammadiyah – Ada sebuah negeri yang direpresentasikan oleh Al-Qur’an amat subur dan makmur: Saba’ namanya. Hal ini sebagaimana terkonfirmasi di Qs Saba’ ayat 15.

“Jalan-jalannya kanan kirinya berupa kebun-kebun. Udaranya pun juga sejuk,” kata Muhammad Saad Ibrahim, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Atas limpahan nikmat yang begitu rupa itu, kesyukuran menjadi keniscayan untuk diekspresikan. Demikian seru Allah dalam redaksi ayat tersebut.

“Inilah rezeki dari Allah. Maka bersyukurlah kalian kepada Allah,” ujar Saad, Rabu (24/6) saat Kajian Webinar Series #60 Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Bersyukur di sini dimaknai pada upaya menjaga keberlangsungan rezeki dari Allah. Lebih tepatnya, kata Saad, dikontekstualisasikan pada lingkungan yang sehat.

“Pohon-pohonan banyak bertumbuhan. Buah-buahnya melimpah tidak dirusak. Inilah menyadari tentang rezeki yang diberikan oleh Allah. Dan perlunya manusia menjaga rezeki itu dalam konteks ini,” terangnya.

Demikian halnya menyangkut hal ihwal menanam pohon. Upaya ini, sebut Saad, sebagai manifestasi menjaga lingkungan. Yakni dengan merawat, mengembangkan, memelihara, menanam, sampai kemudian benar-benar bisa dimanfaatkan orang-orang di sekitarnya.

“Maka ketika syarat-syarat itu dipenuhi lalu konsekuensinya kawasan itu menjadi baldah thayyibah,” jelasnya.

Tapi, amat disayangkan baldah thayyibah yang sesuai dengan yang dicita-citakan, dan semestinyalah dapat diwujudkan bersama oleh umat Islam, justru tidak berlangsung lama.

“Setelah itu generasi berikutnya tidak lagi menyadari rezeki itu dari Allah yang perlu dilestarikan, dijaga dan sebagainya, mereka lalu ingkar kepada Allah,” bebernya.

Apa yang kemudian terjadi jika itu tidak menjadi atensi bersama? “Yang terjadi bukan baldatun thayyibatun, tapi baldatun khabitsatun (negeri yang jelek) dan rabbun muadzibun (Tuhan yang mengazab),” sambung Saad.

Pertanyaannya yang segera muncul, lantas, bagaimana baldatun thayyibatun itu bisa diwujudkan? Ketika melongok negeri Indonesia, ada ungkapan yang pernah dikemukakan, qith`atun minal-jannah[ti] nuqilat ilal-ardl[i], yakni merepresentasikan Indonesia sebagai sepotong surga di atas bumi.

Tautan dengan itu, seyogianya patut bersyukur atas pemberian rezeki yang diberikan Allah melalui pemberian alam yang begitu kayanya; lautan, pohon, tanaman, hewan, dan sebagainya.

“Kalau itu yang terjadi, maka sesungguhnya ungkapan baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur bisa tertuju pada kita,” tegasnya.

Sebab apa? Pesona kekayaan alam Indonesia yang demikian rupanya itu, dijaga dan dirawat secara saksama. Lantas, adakah orang Indonesia yang bersyukur dalam konteks itu?

“Pasti ada orang-orang yang menyadari bahwa Allah telah menganugerahkan kita dengan anugerah yang luar biasa berupa bumi Indonesia ini,” tegasnya lagi.

Di sinilah peran yang diambil dalam dakwah Muhammadiyah. Yakni mengajak orang untuk mendawamkan menjaga lingkungan dengan sebaik-baiknya.

“Inilah cara Muhammadiyah untuk memajukan kesejahteraan bangsa,” pungkas Saad. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

Sampaikan Tabligh Akbar dalam Gerakan Sholat Subuh Berjamaah UMY YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - M....

Suara Muhammadiyah

13 November 2023

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Wakil Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) UM Bandung Cecep Taufikur....

Suara Muhammadiyah

2 October 2024

Berita

SLEMAN, Suara Muhammadiyah – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjadi p....

Suara Muhammadiyah

25 February 2025

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah — Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh) kembali menorehkan ....

Suara Muhammadiyah

6 December 2024

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Mahasiswa semester 5 Analis Kesehatan Universitas Muhammadiyah Prof. D....

Suara Muhammadiyah

10 January 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah