YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Islam itu agama yang mengurus dunia dan akhirat. “Untuk sampai ke akhirat, kita lewat dunia,” kata Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir. Di situlah perlunya membangun keseimbangan (tawazun).
Demikian Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah menggarisbawahi Qs al-Qasas ayat 77. Kuncinya apa? “Berbuat baik,” ujarnya. Yang dalam tesmak Islam disebut dengan ihsan.
“Itu berbuat yang terbaik dan melampaui di muka bumi,” terangnya. Tetapi, penegasan Haedar di situ, agar jangan sampai berbuat destruktif (merusak) di muka bumi.
“Karena Allah tidak suka terhadap mereka yang merusak di muka bumi,” bebernya. Di sinilah Muhamamdiyah mesti memberi teladan dalam konteks tersebut.
“Kalau kita punya trauma sosial bahwa tambang, hutan, lautan, digali, diolah, maka Muhammadiyah harus jadi contoh menggali, mengeksplore tanpa merusak,” tegasnya.
Laku merusak masih mewarnai umat manusia dalam mengelola alam. “Yang sering salah itu cara kita mengelola,” bebernya, Sabtu (19/9) saat Grand Launching Mentari Bayt Coin (MBC) di SM Tower Malioboro Yogyakarta.
Di samping salah dalam mengelolanya, juga pada saat yang sama, amat tebalnya laku berlebihan (israf) yang mengerangkeng jiwa. “Agama juga melarang berlebihan,” tekannya.
Maka, dengan limpahan sumber daya alam yang terbentang di semesta raya ini, tekan Haedar, Muhammadiyah akan dan senantiasa bijak-bestari dalam mengelolanya.
“Muhammadiyah pun nanti ketika mengelola tambang, emas, Insyaallah tidak akan berlebihan,” tegasnya.
Kenapa demikian? Disebut Haedar, Pimpinan Pusat Muhammadiyah selalu mengawasi secara moral, spiritual, dan sebagainya dalam konteks tersebut.
“Yang board ini tidak akan pernah turut campur dalam urusan-urusan bisnisnya,” terangnya, menggarisbawahi lebih lanjut. (Cris)

