YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah resmi meluncurkan logo Tanwir dan Milad ke-114, Sabtu (12/9) di Kantor PP Muhammadiyah, Cik Ditiro, Kota Yogyakarta.
Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah yang akan berlangsung di Palu, Sulawesi Selatan ini, mengusung tema "Bersama Satukan Bangsa."
Sebagai tuan rumah acara, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Tengah Muh Amin Parakkasi menyebut, pihaknya terus melakukan persiapan dan konsolidasi secara tersistematisasi jelang berlangsungnya acara tersebut.
"Kami ingin memastikan Sulawesi Tengah Insyaallah akan menjadi tuan rumah yang baik ramah, tertib, dan kesan yang membahagiakan bagi seluruh peserta dan tamu yang hadir," ujarnya.
Terkait peluncuran logo, disebut Amin bukan sekadar identitas visual, akan tetapi menjadi simbol dimulainya gerakan bersama dan semangat bersama menuju suksesnya Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah.
"Insyaallah keluarga besar Muhammadiyah Sulawesi Tengah siap menyambut Tanwir Muhammadiyah. Kota Palu siap menyambut seluruh peserta dan tamu Persyarikatan," ucapnya.
Sementara, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menekankan, logo tersebut memiliki nilai dan makna yang sangat mendalam. Demikian menggarisbawahi substansialnya kehidupan.
"Hidup ini niscaya punya makna dan estetika. Karena dengan keduanya kita hidup bisa sarat nilai dan tidak gersang," jelasnya.
Disebut Haedar, ketika hidup punya nilai makna dan estetika, maka akan banyak kekayaan yang bisa diraih. Sekaligus juga mencegah hidup menjadi serba instrumental, gersang.
"Dan kalau gersang, itu akan jadi titik picu karhutla kehidupan kita yang mudah terbakar gara-gara kita tidak punya nilai makna dan kehilangan estetika," sebutnya.
Makna Simbol Pohon Kelor
Logo Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah ini terdapat pohon kelor. Menurut Haedar, pohon kelor disebut pohon ajaib. Sebab bisa tumbuh dan hidup di musim dan tempat mana pun.
"Dia lambang dari kesederhanaan dan ketangguhan," jelasnya.
Karena itu, spirit Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah, Haedar mengajak kepada seluruh pimpinan dan warga Persyarikatan agar makin memperkuat kesederhanaan yang punya nilai (qimah, value) dan ketangguhan.
"Bukan kesederhanaan sebagai populisme dan ketangguhan di mana kita bisa adaptif tetapi kuat dalam setiap zaman dan pergerakan," terang Haedar.
Selain itu, daun kelor sebagai simbol keluasan. Dalam sebuah adagium dikatakan, "Dunia tak selebar daun kelor." Dikemukakan Haedar, dunia itu bersifat universal. "Itu luas sekali," ucapnya.
Artinya, lanjut Haedar, daun kelor itu lambang keluasan, keluasan wawasan, keluasan pikiran, keluasan pergaulan dan keluasan jelajah pergerakan Muhammadiyah.
"Jadi itu daun kelor. Sehingga dengan keluasan itu lalu hidup menjadi inklusif. Dan kita bisa menghadapi kehidupan dengan universalisme yang bernilai," bebernya.
Selain itu, pohon kelor dimaknai sebagai lambang kesejahteraan dan kemakmuran. "Pohon kelor adalah pohon keajaiban karena dia adalah lambang kesejahteraan dan memakmurkan. Terbukti bahwa daun kelor itu bisa dimasak. Dan enak asal masaknya baik," selorohnya, menandaskan. (Cris)

