Naik untuk Kuat, Turun untuk Berjuang: Pelajaran Isra’ Mi’raj bagi Kader Muhammadiyah

Publish

16 January 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
229
Dokumen pribadi

Dokumen pribadi

Naik untuk Kuat, Turun untuk Berjuang: Pelajaran Isra’ Mi’raj bagi Kader Muhammadiyah

Oleh: Amrizal

Setiap kader Muhammadiyah hampir pasti pernah berada di titik lelah. Rapat yang sepi, kerja sunyi yang jarang diapresiasi, kritik yang datang tanpa jeda, hingga godaan untuk mundur dan memilih jalan hidup yang lebih nyaman. Ironinya, semua itu terjadi di tengah jargon besar tentang dakwah, pencerahan, dan pengabdian umat. Di ruang-ruang sunyi itulah, banyak kader bertanya dalam hati: sampai kapan harus bertahan, dan untuk apa semua ini diperjuangkan?

Dalam suasana batin semacam itulah, peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW layak dibaca ulang. Bukan semata sebagai mukjizat spiritual yang agung, tetapi sebagai sumber inspirasi paling jujur tentang bagaimana seorang pejuang iman bertahan, bangkit, dan kembali membawa risalah kebaikan ke tengah realitas yang keras.

Isra’ Mi’raj terjadi pada fase paling gelap dalam kehidupan Nabi Muhammad. Setelah wafatnya Khadijah dan Abu Thalib, Nabi kehilangan penopang emosional dan sosial. Dakwah ditolak, hinaan dan kekerasan menjadi keseharian. Secara psikologis dan sosial, Nabi berada di titik nadir. Namun justru dalam kondisi itulah Allah “mengangkat” Nabi—melakukan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu menembus langit hingga Sidratul Muntaha. Ini bukan pelarian dari realitas, melainkan penguatan batin sebelum kembali menghadapi realitas yang lebih berat.

Masalah utama dalam kaderisasi dan perjuangan hari ini sering kali bukan kekurangan program, melainkan kelelahan makna. Banyak kader tetap bergerak, tetapi kehilangan orientasi. Aktivisme berubah menjadi rutinitas, dakwah terasa administratif, dan perjuangan tidak lagi menghadirkan ketenangan batin. Dalam ilmu pendidikan dan psikologi sosial, kondisi ini dikenal sebagai kelelahan moral: seseorang masih aktif, tetapi kehilangan alasan terdalam mengapa ia bertahan. Isra’ Mi’raj memberi pelajaran penting bahwa perjuangan membutuhkan momen “naik”—menata ulang jiwa—sebelum kembali “turun” ke medan pengabdian.

Isra’ Mi’raj bukan akhir perjalanan Nabi, justru awal babak baru. Nabi tidak tinggal di langit. Ia kembali ke Makkah, menghadapi ejekan, penolakan, bahkan tuduhan tidak masuk akal. Namun Nabi pulang membawa satu “oleh-oleh” utama dari langit: sholat. Bukan kekuasaan, bukan kemudahan hidup, melainkan sholat. Sebuah ibadah yang menjadi penopang jiwa, latihan disiplin, dan sumber kekuatan batin.

Di sinilah letak pesan terdalam Isra’ Mi’raj bagi kader Muhammadiyah. Sholat bukan sekadar kewajiban ritual, tetapi proses pembentukan diri. Dalam perspektif pendidikan karakter, sholat adalah latihan konsistensi, ketundukan, dan kesadaran diri. Ia membentuk daya tahan (resilience), kemampuan untuk tetap tegak di tengah tekanan. Maka tidak berlebihan jika dikatakan: perbaiki sholatmu, maka Allah akan memperbaiki dirimu.

Esensi seorang kader sejatinya adalah terus memperbaiki diri. Tidak ada kader yang sempurna, tetapi kader sejati tidak berhenti berbenah. Isra’ Mi’raj mengajarkan bahwa sebelum mengubah dunia, manusia harus terlebih dahulu menguatkan hubungannya dengan Tuhan. Karena itu, tidak ada alasan bagi seorang kader Muhammadiyah untuk meninggalkan sholat. Jika sholat wajib sudah ditegakkan, maka tanggung jawab moral berikutnya adalah meningkatkannya: membiasakan sholat berjamaah di masjid, menghidupkan sholat-sholat sunnah, hingga mampu mengetuk sunyi malam lewat sholat tahajud. Di sanalah kader ditempa—bukan di panggung, tetapi di hadapan Allah.

Kader Muhammadiyah bukan sekadar pelaksana program organisasi. Ia adalah manusia yang memikul risalah. Seperti Nabi, kader sering berjalan di jalan sunyi. Tidak semua perjuangan terlihat, tidak semua pengabdian dicatat. Namun sholat menjaga agar perjuangan itu tidak kehilangan arah. Ia menjadi kompas batin yang menuntun kader agar tetap jujur, rendah hati, dan ikhlas.

Isra’ Mi’raj juga mengajarkan bahwa kekuatan spiritual bukan untuk menjauh dari dunia, tetapi untuk meneguhkan langkah di dunia. Nabi tidak pulang dengan cerita langit semata, tetapi dengan perintah sholat yang membumi. Bagi kader, ini berarti bahwa idealisme harus ditopang oleh disiplin spiritual. Tanpa itu, semangat mudah rapuh, dan perjuangan mudah berubah menjadi ambisi pribadi.

Dalam konteks sosial hari ini, tantangan kader Muhammadiyah semakin kompleks. Budaya instan, pragmatisme, dan godaan kekuasaan sering menggerus ketulusan. Isra’ Mi’raj memberi pesan etis yang tegas: kemuliaan tidak lahir dari jalan pintas, tetapi dari kesetiaan menjalani proses. Nabi menempuh malam panjang, melewati berbagai fase, sebelum kembali ke bumi dengan tanggung jawab yang lebih besar.

Bagi Muhammadiyah, yang sejak awal membawa misi dakwah dan pembaruan, pesan ini sangat relevan. KH. Ahmad Dahlan mencontohkan bahwa ibadah harus melahirkan keberpihakan sosial. Sholat tidak berhenti di sajadah, tetapi berlanjut pada kepedulian terhadap fakir miskin, pembaruan pendidikan, dan keberanian melawan ketidakadilan. Kader yang dekat dengan Tuhannya akan lebih mudah berpihak pada kemanusiaan.

Pada akhirnya, perjalanan seorang kader Muhammadiyah adalah perjalanan panjang yang sejiwa dengan spirit Isra’ Mi’raj. Ada fase gelap, ada kelelahan, ada godaan untuk berhenti. Namun selalu ada kesempatan untuk “naik”—memperbaiki sholat, menata niat, menguatkan batin—agar bisa “turun” kembali membawa kebaikan.

Di situlah kader diuji: bukan seberapa tinggi jabatannya, tetapi seberapa dekat ia dengan Tuhannya. Sebab risalah kebaikan tidak akan pernah selesai. Ia hanya berpindah tangan. Dan kader yang menjaga sholatnya, menjaga jiwanya—itulah kader yang akan menjaga risalah tetap hidup. Wallahu a’lam Bish Shawab.

Penulis adalah Wakil Ketua MPKSDI PWM Sumut dan Mahasiswa S3 Pasca Sarjana UNY, Dosen Unimed


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Panduan Hidup Sehat dalam Al-Qur’an Oleh: Suko Wahyudi Al-Qur’an adalah kitab suci ter....

Suara Muhammadiyah

26 March 2024

Wawasan

Oleh: Ika Sofia Rizqiani, S.Pd.I., M.S.I, Dosen Al Islam dan Kemuhammadiyah di Prodi Agribisnis UMMI....

Suara Muhammadiyah

21 September 2025

Wawasan

Masjid Kita Masjid Inklusif Oleh: Dr Muhammad Julijanto, Dosen Fakultas Syariah UIN Raden Mas Said ....

Suara Muhammadiyah

29 January 2025

Wawasan

Resolusi 2026: Menata Diri di Tengah Tsunami Digital Penulis: Syahnanto Noerdin, Ketua Bidang Kerja....

Suara Muhammadiyah

2 January 2026

Wawasan

Sebentar lagi yang ditunggu-tunggu akan segera tiba. Bulan mulia, Ramadhan namanya. Bulan ini senant....

Suara Muhammadiyah

28 February 2025