SURABAYA, Suara Muhammadiyah – Nikmat, niscaya menjadi elemen kehidupan. “Ketika ditunda maka akan menjadi berlipat-lipat rasa nikmatnya itu,” kata Muhammad Saad Ibrahim.
Demikian dengan puasa. Yang kata Saad termasuk bagian integral ajaran menunda kenikmatan. Kenapa begitu?
Makan dan minum yang dilakukan setiap hari, jelas Saad, merupakan manifestasi kenikmatan tiada tara dari Tuhan.
Pada saat berpuasa, Tuhan menunda untuk dapat merasakan nikmat tersebut. “Setelah kita sahur tidak makan (ditunda) terus-menerus, akhirnya sampailah kemudian magrib,” ujarnya.
Dan ketika magrib tiba, sungguh betapa dirasakan nikmatnya bisa kembali merasakan makan dan mimum. Mengapa dikatakan seperti itu? “Karena nikmat tersebut kita tunda,” kata Saad.
Secara kentara, dikemukakan Saad bahwa sesungguhnya hidup itu bagian dari menunda kenikmatan.
“Dan tentu kenikmatan yang terbesar nanti, kita peroleh di surga itu akan berlipat ganda, termasuk mendapatkan rida Allah, magfirah Allah,” tegasnya.
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini menyebut dua variabel itu menjadi sebuah kenikmatan yang dahsyat. Lain halnya dengan nikmat yang terhampar di dunia ini.
“Tapi itu sedikit, dan tidak dahsyat,” bebernya, Sabtu (21/2) di TvMu Channel dalam program Tausiyah Kiai Saad Ibrahim.
Jika memburu nikmat dunia secara masif, disebut Saad, mengorbankan kenikmatan yang jauh lebih dahsyat dan bahkan fundamental ketika hidup di akhirat kelak.
“Kalau kita tidak dapat menikmati di kehidupan akhirat maka akan terjadi rugi rugi besar,” tegasnya, menandaskan, ajaran agama pada dasarnya mengajarkan untuk menunda kenikmatan. (Cris)

