BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Rektor Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Herry Suhardiyanto menegaskan bahwa batik tidak dapat dipandang sekadar sebagai karya visual. Menurutnya, batik merupakan hasil peradaban yang menyimpan nilai budaya dan filosofi mendalam serta menjadi bagian penting dari identitas bangsa.
Hal itu disampaikan Herry saat memberikan sambutan dalam pameran Kain & Kebaya IBU #3 yang digelar prodi Kriya Tekstil dan Fashion UM Bandung pada Rabu (20/05/2026). Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ruang apresiasi karya wastra Nusantara, tetapi menghadirkan gagasan pelestarian budaya, penguatan ekonomi kreatif, hingga menjaga identitas bangsa.
Sebagai contoh, Herry menyoroti motif Mega Mendung karya Komarudin Kudiya (dosen prodi Kriya Tekstil dan Fashion) yang dinilai memiliki kekuatan estetika sekaligus merepresentasikan kekayaan budaya khas Jawa Barat. Menurutnya, setiap karya batik tidak hanya menghadirkan keindahan visual, tetapi menyimpan nilai dan pesan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Rektor menilai prodi Kriya Tekstil dan Fashion UM Bandung memiliki peran strategis dalam menjaga dan mengembangkan warisan tersebut. Program studi itu tidak hanya mengkaji aspek kreatif seni batik, tetapi berupaya menghidupkan nilai filosofisnya agar dapat dipahami dan terus diwariskan kepada masyarakat luas.
Herry juga menyoroti besarnya peluang ekonomi kreatif yang lahir dari budaya. Berbeda dengan industri konvensional yang bertumpu pada sumber daya alam, ekonomi kreatif dinilai berkembang melalui ide, kreativitas, dan inovasi. Oleh karena itu, seni dan budaya dinilai mampu menjadi sumber pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Dia mengingatkan generasi muda agar tidak memandang pelestarian budaya sebagai beban. Menurutnya, budaya justru dapat menjadi ruang ekspresi, penguatan identitas, sekaligus sarana aktualisasi diri di tengah perubahan sosial yang berlangsung sangat cepat.
Herry juga mendorong mahasiswa dan dosen untuk terus berinovasi agar budaya tetap relevan dengan perkembangan zaman. Menurutnya, kreativitas diperlukan agar nilai-nilai budaya tetap hidup tanpa kehilangan akar tradisinya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Batik Jawa Barat Sendy Dede Yusuf mengapresiasi penyelenggaraan pameran yang telah memasuki tahun ketiga tersebut. Menurutnya, keberlanjutan kegiatan itu menunjukkan komitmen UM Bandung dalam menghadirkan ruang pelestarian seni dan wastra Nusantara.
Sendy menegaskan pentingnya memahami batik dan kebaya sebagai bagian dari identitas budaya bangsa. Dia mengingatkan bahwa batik telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya tak benda Indonesia sejak 2 Oktober 2009.
Dia berharap pun sivitas akademika UM Bandung membiasakan penggunaan batik saat Hari Batik Nasional setiap 2 Oktober dan mengenakan kebaya pada peringatan Hari Kebaya Nasional setiap 24 Juli. "Bukan sekadar imbauan, tetapi perlu menjadi kebiasaan yang dijalankan bersama. Kalau tidak dimulai dari kita, perhatian terhadap warisan budaya bisa berkurang," katanya.
Pameran yang berlangsung selama tiga hari tersebut digelar Program Studi Kriya Tekstil dan Fashion Universitas Muhammadiyah Bandung bekerja sama dengan Y

