YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Memasuki bulan Syawal, niscaya ada peningkatan. Demikian dasar pemaknaan yang ditarik dari kata Syawal itu sendiri.
“Jadi seseorang baru boleh dikatakan berhasil puasa Ramadhannya kalua memasuki bulan Syawal ada tanda-tanda peningkatan dalam dirinya,” tegas Fathoni Siradj, Jumat (20/3) saat Khutbah Idul Fitri 1447 H di Lapangan Kopertis Bumijo V Yogyakarta.
Menurut Ketua Dewan Masjid Indonesia itu, ada beberapa parameter dikatakan terjadi peningkatan.
Pertama, mujtahid. Yakni, kemampuan seseorang untuk menggali hukum dari sumber utama ajaran Islam, yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadis.
“Bagi yang mampu berijtihad, menguasai syarat dan rukunnya, silakan berijtihad,” tekannya.
Paling tidak, umat Islam tampil menjadi muttabi’, mengikuti pendapat orang lain, namun memahami dalil-dalilnya, bukan sekadar mengekor saja.
“Kita jangan sampai terjerumus di level 3, yaitu orang yang tajdid buta,” pesannya.
Dalam konteks berbangsa dan bernegara, mujtahid adalah orang yang memiliki kemampuan Menyusun Undang-Undang dan ketepatan hukum lainnya bersumber nilai-nilai Pancasila.
“Produk hukum yang dihasilkannya selaras denga nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa dan 4 sila lainnya,” jelasnya, yang juga Wakil Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta tersebut.
Kedua, Mujaddid. Menurut Fathoni, merupakan orang yang memiliki kecerdasan tinggi. Juga kemampuan melihat masa depan.
“Ia mampu menciptakan inovasi-inovasi baru buat kemajuan agama, nusa, dan bangsa,” tuturnya.
Ketiga, mujahid. Dimaknai sebagai orang yang siap berjuang di jalan Allah (jihad fi sabilillah). Fathoni mengetengahkan, dia harus terus berjuang agar dirinya dan masyarakat di sekitarnya, selalu berada dalam bingkai keridhaan Allah.
“Jihad yang kita butuhkan bukanlah jihad mengangkat senjata, tetapi jihad mengendalikan diri dan mendorong terciptanya sebuah sistem sosial yang bermartabat,” urainya.
Melalui karakter mujahid ini, dia akan semakin bersemangat shalat jamaahnya di masjid.
“Lebih rajin disbanding sebelum Ramadhan yang lalu,” ungkapnya, seraya berupaya agar hidupnya selalu bermanfaat untuk sesama.
“Demikian pula dalam mengkaji Al-Qur’an dan diiinul Islam juga semakin bergelora,” sambung Fathoni.
Keempat, muwahhid. Adalah oang yang selalu mengedepankan persatuan dan kesatuan (quwwatul ijtima’iyah). Orang ini berupaya mewujudkan wihdatul ummah.
“Ia selalu berada di barisan terdepan untuk mewujudkan ukhuwwah Islamiyah (persaudaraan sesama umat Islam), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sesama warga negara), dan ukhuwah insaniyyah (persaudaraan sesama umat manusia),” ulasnya.
Menurut Fathoni, karakter ini amat dibutuhkan oleh bangsa Indonesia saat ini. Mengingat kultur Indonesia sendiri beragam, yang riskan terjadinya konflik.
“Insyaallah selama kita dilandasi oleh niat Ikhlas mencari ridha Allah, dan niat demi kemajuan bangsa, maka akan selalu menghasilkan kebaikan buat kita semua,” jelasnya.
Kelima, musaddid. Artinya orang memiliki kemampuan untuk meluruskan bila terjadi anomali.
“Ia mampu memberikan kritik dan sekaligus mampu mengemukakan Solusi pemecahannya,” urainya.
Lebih-lebih, bangsa Indonesia hari ini sangat membutuhkan orang berkarakter musaddid.
“Bukankah sekarang banyak terjadi fakta-fakta yang menyedihkan?” tanya Ari, menyebut merebak minuman keras di Yogyakarta tahun 2024 lalu.
“Untungnya muncul barisan anak-anak muda yang berkarakter musaddid tampil menyeadarkan semua pihak akan bahaya miras ini,” tandasnya. (Cris)
