PASHMINA MENTARI Ajak Remaja Menabung Kesehatan

Foto Istimewa
Foto Istimewa

Sehat di Masa Tua Dimulai Hari Ini: PASHMINA MENTARI Ajak Remaja Kulon Progo Menabung Kesehatan

KULON PROGO, Suara Muhammadiyah — Program PASHMINA MENTARI (Menabung Kesehatan Remaja untuk Tua Mandiri) diselenggarakan di Gedung PDM Kulon Progo dengan melibatkan 30 peserta dari unsur Nasyiatul 'Aisyiyah dan jejaring kader remaja di Kulon Progo. Kegiatan pengabdian masyarakat ini merupakan program hibah Pimpinan Pusat 'Aisyiyah (PPA) yang dilaksanakan untuk memperkuat upaya promotif dan preventif kesehatan remaja melalui edukasi, skrining kesehatan dasar, dan pemberdayaan kader sebaya.

Acara dibuka oleh perwakilan PDM Kulon Progo. Dalam sambutannya, perwakilan PDM menekankan pentingnya membangun kesadaran kesehatan sejak usia muda agar remaja tidak hanya datang ke layanan kesehatan ketika sudah mengalami keluhan. 

“Remaja perlu memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk menjaga kesehatan sejak sekarang. Kegiatan seperti PASHMINA MENTARI penting karena mengajak peserta bukan hanya mendengarkan materi, tetapi juga memahami kondisi dirinya dan belajar melakukan tindakan pencegahan,” demikian pesan yang disampaikan dalam pembukaan kegiatan.

Ketua PDNA Kulon Progo, Faizatunnisa Khoiroti, S.Pd., turut hadir dan memberikan dukungan terhadap penguatan PASHMINA sebagai ruang edukasi kesehatan remaja yang berkelanjutan. 

“PASHMINA diharapkan menjadi ruang yang dekat dengan remaja, tempat mereka merasa nyaman untuk belajar, bertanya, dan saling menguatkan. Kader sebaya memiliki peran besar karena pesan kesehatan sering kali lebih mudah diterima ketika disampaikan oleh teman dengan bahasa yang sederhana dan tidak menggurui,” ujarnya.

Materi pertama disampaikan oleh Ns. Zubaida Rohmawati, S.Kep., MPH. Ia membahas healthy ageing dari perspektif perjalanan kehidupan, dengan menekankan bahwa kesehatan pada usia dewasa dan lanjut usia dipengaruhi oleh kebiasaan yang dibangun sejak masa muda. Peserta diajak mengenali kaitan antara pola makan, aktivitas fisik, kualitas tidur, kesehatan mental, pengelolaan stres, serta hubungan sosial dengan risiko penyakit tidak menular di masa depan. Pesan utama sesi ini adalah bahwa upaya “menabung kesehatan” dapat dimulai dari keputusan sederhana yang dilakukan konsisten setiap hari.

Materi kedua disampaikan oleh Indriani, SKM., MSc., yang berfokus pada faktor risiko penyakit metabolik dan upaya pencegahannya. Peserta mempelajari pentingnya menjaga berat badan sehat, memahami Indeks Massa Tubuh (IMT), mengurangi pola hidup sedentari, memilih makanan yang lebih seimbang, serta mengenali indikator sederhana seperti tekanan darah dan faktor risiko metabolik. Materi disampaikan dengan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari agar peserta dapat menghubungkan teori dengan pilihan kesehatan yang realistis.

Sebelum materi dimulai, peserta mengerjakan pre-test untuk memotret pemahaman awal. Setelah dua sesi edukasi dan simulasi, peserta kembali mengerjakan post-test sebagai bagian dari evaluasi perubahan pengetahuan. Kegiatan juga dilengkapi dengan simulasi skrining kesehatan dasar, termasuk pengukuran tekanan darah, berat badan dan tinggi badan untuk menghitung IMT, serta pengenalan pemeriksaan gula darah, kolesterol, asam urat, denyut nadi, dan frekuensi pernapasan. Simulasi dirancang agar peserta memahami bahwa skrining merupakan langkah deteksi awal, bukan penegakan diagnosis, dan hasil yang tidak normal perlu ditindaklanjuti melalui layanan kesehatan.

Nurrahmah Awalunnisa KP, peserta sekaligus Anggota Bidang Kesehatan Lingkungan, menilai kegiatan ini membantu peserta melihat kesehatan secara lebih utuh. 

“Yang menarik bagi saya, pembahasannya tidak hanya tentang penyakit, tetapi tentang kebiasaan sehari-hari yang ternyata punya dampak sampai kita dewasa dan lanjut usia. Simulasinya juga membuat materi lebih mudah dipahami karena kami langsung mencoba,” tuturnya.

Hanistiani dari PCNA Pengasih menyampaikan bahwa metode kegiatan yang interaktif membuat pesan kesehatan lebih mudah diingat. 

“Materinya terasa dekat dengan kehidupan kita. Setelah mengikuti sesi dan praktik, saya jadi lebih paham bahwa pencegahan bisa dimulai dari hal sederhana seperti lebih aktif bergerak, memperhatikan makanan, tidur cukup, dan rutin memeriksa kondisi kesehatan,” katanya.

Sementara itu, Hilda Anda Risma dari PCNA Girimulyo menyoroti pentingnya kemampuan kader dalam menyampaikan kembali informasi kesehatan kepada teman sebaya. 

“Saya merasa kegiatan ini memberi bekal yang bisa dibawa pulang. Bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk berbagi dengan teman-teman. Cara menyampaikan pesan kesehatan yang sederhana dan praktik skrining sangat bermanfaat untuk kegiatan di cabang,” ungkapnya. (Edwin Daru Anggara)