Patriotisme Muhammadiyah Tak Perlu Diragukan, Akar Keindonesiaannya Sangat Kuat

Suara Muhammadiyah

29 August 2026

225
Ahmad Fuad Fanani, MAIR., PhD. Foto: Taufik

Ahmad Fuad Fanani, MAIR., PhD. Foto: Taufik

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Jangan beranggapan Muhammadiyah tidak patriotisme. Denyut nadi sejarah Muhammadiyah memperlihatkan, KH Abdul Kahar Mudzakkir dan KH Mas Mansur, misalnya, tokoh Muhammadiyah itu memiliki kecintaan tinggi kepada bangsa Indonesia, kendati menempuh studinya di luar negeri.

“Itu juga kita lihat ketika kita membaca riwayat belajarnya dari KH Ahmad Dahlan. Dua kali pergi ke Arab Saudi, pergi ke Makkah, tapi beliau tidak mau tinggal di sana. Beliau menyerap ilmu di sana dan kemudian ilmu disosialisasikan untuk masyarakat Indonesia,” terang Ahmad Fuad Fanani.

Dalam pada itu, kata Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden tersebut, Muhammadiyah dan elemen kelompok lain, bergerak bersama untuk hadir dalam membangun Indonesia. Tidak mendiskriminasikan satu dengan yang lainnya.

“Memperjuangkan Indonesia, yang diambil itu ide Indonesia, bukan ide kejawaan, bukan ke-Yogyakarta-an, bukan ke-Jawa Timur-an ataupun ke luar Jawa,” ujarnya, Jumat (28/8) saat Pengajian Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Ruang KH Ahmad Dahlan Gedung Dakwah Muhammadiyah, Menteng Raya, Kota Jakarta Pusat.

Di situ menunjukkan akar Muhammadiyah tidak anti patriotisme, tapi justru memiliki akar tunjang yang amat sangat kuat. Kenapa mereka mimikirkan sedemikian rupa ihwal patriotisme atau ide keindonesiaan saat itu? Fuad mendedah, mereka posisi Indonesia dibandingkan dengan tempat yang lain sangat penting dan strategis.

“Kita dari dulu sudah punya jalur internasional,” bebernya, dengan menukil disertasi Azyumardi Azra mengenai ulama Nusantara yang belajar ke Timur Tengah pada abad ke-16 dan ke-17 yang membentuk komunitas al-Bilad al-Jawi.

“Itu yang sekarang disebut Indonesia juga,” ujarnya. Diperkuat dengan Michael Francis Laffan yang menulis “Sejarah Islam di Nusantara” serta Kevin W Fogg yang menulis tentang kontribusi ulama dan pemikir Indonesia terhadap nasionalisme.

“Jadi soal patriotisme itu sebetulnya tidak perlu diragukan lagi,” tegas Fuad.

Memperkuat Jangkar Internasionalisasi

Sisi lain, Fuad membentangkan alasan Muhammadiyah perlu memperkuat internasionalisasi. Berpokok pangkal pada dua surat, pertama, Qs al-Hujurat ayat 13, orientasi penciptaan manusia dimaksudkan untuk ta’aruf (saling kenal-mengenal). Secara redaksional, katanya, surat ini berimplikasi hal ihwal internasionalisasi yang mewujud pada diplomasi dan membangun jejaring.

“Ta‘aruf itu kalau bahasa sekarang berdiplomasi, berjejaring, berhubungan dengan yang lain. Kita perlu membuat ekspansi ke tempat-tempat yang lain,” terangnya.

Kedua, Qs al-Jumuah ayat 10. Yang menurut penuturan Fuad, redaksi fantashirū fī al-arḍ (tersebar di muka bumi) memberikan titik penekanan perlunya membuat jejaring yang seluas-luasnya. “Jadi tidak cukup dengan apa yang kita punyai hari ini,” katanya.

Untuk memperlancar implementasi internasionalisasi berjalan mulus, Fuad mendorong perlu adanya kajian-kajian terkait hal yang dimaksudkan di situ. “Yang harus dilakukan terus-menerus,” sambungnya. Karena itu, Muhammadiyah seyogyanya aktif berpatisipatif membangun kerja sama dengan pelbagai negara secara meluas lagi. “Kita harus bergerak dan mau bekerja sama dengan siapa saja,” imbuhnya.

Hal demikian merujuk pengalaman Muhammadiyah selama ini, tentu tidak dapat dinafikan. Muhammadiyah sangat terbuka dengan siapa saja untuk menjalin kolaborasi dalam orientasi membangun bangsa dan peradaban lebih maju ke depannya.

“Muhammadiyah di sejumlah negara menunjukkan adanya modal sosial yang kuat, modal diplomasi yang lebih besar,” bebernya.

Pada saat yang sama, Muhammadiyah mesti terbuka terhadap tokoh Muslim dunia. Modal keterbukaan ini, lanjutnya, menjadi bagian dari diplomasi dan jalan tengah (moderat) mencegah terbentuknya mazhab-mazhab tertentu.

Di samping itu, Muhammadiyah sendiri sudah punya prasarana yang mapan yang dibuktikan adanya Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) dan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM), pendidikan, kesehatan, dan lainnya menjadi peranti memperluas jaringan dan diplomasi itu lebih masif lagi.

“Ini sebetulnya bisa kita lakukan dan kita bisa konkretkan,” tandasnya. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

LAMTENG, Suara Muhammadiyah – Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Kalirejo memperingati Milad Aisyi....

Suara Muhammadiyah

23 May 2024

Berita

Rayakan Iduladha dengan Semangat Kemanusiaan dan Persaudaraan ​JAKARTA, Suara Muhammadiyah &ndash....

Suara Muhammadiyah

30 May 2026

Berita

TULANG BAWANG, Suara Muhammadiyah – Dari menyusuri jalanan pelosok yang terjal hingga mengarun....

Suara Muhammadiyah

8 September 2025

Berita

BANDARLAMPUNG, Suara Muhammadiyah – Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Lampung Prof. Dr. H. S....

Suara Muhammadiyah

25 December 2023

Berita

KUALA LUMPUR, Suara Muhammadiyah - Dalam lawatan bertajuk Business Trip Singapura-Malaysia, Tim Suar....

Suara Muhammadiyah

11 September 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah