BANTAENG, Suara Muhammadiyah - Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Bantaeng, Samsud Samad, menegaskan pentingnya Baitul Arqam sebagai ruang peneguhan cara berpikir dan pemahaman ke-Muhammadiyahan bagi guru dan tenaga kependidikan. Ia optimis ruang Baitul Arqam melahirkan komitmen bersama dalam menjalankan misi Muhammadiyah secara utuh dan konsisten.
Samsud menyadari bahwa tidak guru dan tenaga kependidikan di sekolah Muhammadiyah berlatar belakang kader persyarikatan. Namun, ia menekankan bahwa perbedaan latar belakang tersebut seharusnya bertemu pada satu titik, yakni keteguhan dalam pengabdian sesuai nilai dan misi Muhammadiyah.
“Apakah pengabdian itu karena status ASN, penambahan jam mengajar, atau karena memang dibutuhkan, seluruh gerak langkahnya harus teguh pada misi Muhammadiyah,” kata Samsud saat menyampaikan amanah pembukaan Baitul Arqam Guru dan Tenaga Kependidikan Perguruan Muhammadiyah se-Kabupaten Bantaeng di Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas, Jumat, 16 Januari 2026.
Ia juga menegaskan, Muhammadiyah tidak lagi ingin mendengar keluhan tentang minimnya perhatian terhadap sekolah milik Persyarikatan. Menurut dia, pendidik dan tenaga kependidikan memegang peran strategis dalam mengantarkan generasi muda menuju masa depan yang lebih baik.
“Bapak dan ibu sekalian adalah penentu gerbang emas generasi kita,” ujar dia.
Singgung Insiden Pengeroyokan Guru di Jambi: Menyayat Hati
Lebih lanjut, Samsud menyinggung peristiwa yang menyayat hati di Jambi, ketika seorang guru SMK dikeroyok oleh siswanya. Ia menilai kejadian tersebut sebagai alarm keras rapuhnya instrumen moral generasi muda saat ini.
“Kita hanya melihat video potongan, tidak utuh. Tapi peristiwa itu sangat menyayat hati, ada moralitas yang rapuh,” kata dia.
Contoh semacam itu, kata Samsud, harus menjadi perhatian semua unsur di sekolah Muhammadiyah, termasuk di Bantaeng.
Hal yang juga penting adalah pendidikan atau sekolah Muhammadiyah tak melahirkan generasi ‘strawberry’. “Generasi yang tampak baik dari luar namun rapuh secara mental dan moral,” tutur dia.
Berdasarkan pengalaman, contoh-contoh demikian, bagi Samsud, bukanlah andai-andai semata. Ia mengungkapkan adanya sekitar 20 anak di Bantaeng yang mengalami gangguan psikologis berat berdasarkan informasi dari Unit PPA Polres Bantaeng.
Ia lalu mengaitkan kondisi tersebut dengan pesan Alquran, Samsud mengutip QS An-Nisa Ayat 9 tentang kekhawatiran lahirnya generasi yang lemah. Ia lalu menegaskan, guru Muhammadiyah harus menjadi benteng utama pembentukan karakter anak bangsa.
Setidaknya, ada empat prinsip yang wajib dimiliki guru Muhammadiyah, yakni kepribadian yang kuat, kepekaan sosial, kompetensi pedagogik, dan profesionalisme. Keempat prinsip itu, kata Samsud, menjadi pondasi penting dalam menjaga arah pendidikan dan peradaban.
“Jika ini diabaikan, maka akan lahir generasi yang mengikuti hawa nafsu dan menemui kesesatan,” tandas dia.
Diketahui, guru dan tenaga kependidikan yang terlibat sebagai peserta berjumlah 100. Masing-masing peserta berasal dari satuan pendidikan tingkat dasar, SMP/MTs, dan SMK/MA: SD Muhammadiyah Bantaeng, MI Muhammadiyah Ereng-ereng, MTs Muhammadiyah Panaikang, MTs Muhammadiyah Bantaeng, MTs Muhammadiyah Ereng-ereng, dan SMP Ahlu Shuffah Muhammadiyah Karatuang. Selain itu, juga hadir peserta dari MA Muhammadiyah Panaikang, MA Muhammadiyah Bantaeng, SMK Ahlu Shuffah Muhammadiyah Karatuang, dan MA Muhammadiyah Panaikang. (umar/riz)

