JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Tiada dipungkiri posisi Ranting dan Cabang di Muhammadiyah menjadi sangat penting. Kenapa begitu? Ia sebagai fondasi pergerakan dakwah di akar rumput (grassroots). “Dia menjadi kuat kalau ikatan antara anggota dan ketua kuat,” kata Abdul Mu’ti.
Soal itu, Mu’ti menilai perlu adanya pembinaan masif di dalamnya. Sebab di situlah letak fundamentalnya. “Karena itu, ekosistem antara amal usaha di tingkat Ranting, Cabang, Daerah, dan Wilayah, harus terus kita perkuat,” tekan Mu’ti, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Diperoleh di sini, pembinaan yang berkelanjutan, akan mendorong Ranting dan Cabang berada dalam satu lintasan garis orbit yang sama. “Bergerak bersama-sama. Bergeraknya harus solid, bergerak harus kuat,” katanya. Dengan outputnya, memiliki tujuan yang sama, yakni mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
“Inilah yang menurut saya harus kita bangun sebagai bagian dari penguatan Ranting dan Cabang,” tekannya, Ahad (2/8) saat Konsolidasi LPCRPM se-Jawa Bagian Barat dan Sosialisasi CRM Award 2027, di Perguruan Muhammadiyah PCM Matraman, Kayu Manis, Matraman, Kota Jakarta Timur.
Titik tekan Mu’ti pada Ranting yang sebagai akar mesti bersifat ideologis. “Dan itu, sekali lagi harus kita perkuat,” ujarnya. “Dan harus kita berikan perhatian lebih,” sambungnya, menggarisbawahi betapa krusialnya Ranting itu, lebih-lebih, mengembangkan agar Ranting itu agar jauh makin berkembang.
Agaknya, penekanan Mu’ti di situ menjadi niscaya. Terlebih saat ini, ada kecenderungan yang ditengarai beberapa kiprah mendirikan amal usaha, layanan sosial, misalnya, tapi bukan berorientasi untuk pengembangan dakwah Muhammadiyah.
“Yang punya warga Muhammadiyah, tapi amal usahanya tidak ada hubungannya dengan Muhammadiyah,” ungkap Mu’ti, yang juga Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah.
Kalau kecenderungan itu terus terjadi, di saat yang sama tidak ada jangkar penguat ideologisnya, maka dipastikan amal usaha Muhammadiyah mengalami deklinasi (pelemahan) dari sisi ideologi dan identitas gerakan.
“Karena itu ideologi ini harus kita perkuat. Tentu dengan pendekatan-pendekatan yang lebih cair, lebih inklusif,” tegasnya.
Lantas apa? Ranting perlu memperkuat ideologi Muhammadiyah. Di tengah geliat amal usaha Muhammadiyah, tapi satu sisi, dari tesmak Mu’ti, miskinya persentuhan kultural, menjadi panorama yang masih berlangsung sampai saat ini.
“Karena pemahaman Muhammadiyahnya menurut saya tidak utuh. Dan ini memang menjadi tugasnya Ranting,” jelasnya, yang diusulkan Mu’ti perlu menghadirkan pendekatan yang inklusif dalam rangka pengembangan dan penguatan Ranting.
“Janganlah warga Muhammadiyah menjadi orang yang eksklusif. Jangan kita bangun dengan masyarakat. Apa pun posisi sosial kita. Kita harus tunjukkan dalam relasi sosial kita. Relasi sosial itulah yang membuat dan menjadi pintu masuk Muhammadiyah,” tegas Mu’ti sekali lagi.
Sisi lain, perlu perkuat dengan basis amal usaha yang membuat Ranting bisa bergerak. Sebab saat ini pemahaman ihwal amal usaha justru mengalami pergeseran sekaligus penyempitan substansi di akar rumput.
“Amal usaha tidak harus selalu berupa sekolah, rumah sakit, panti asuhan,” tegasnya. Tapi, kata Mu’ti, bisa berupa masjid. “Bahkan, pengajian pun bisa disebut sebagai amal usaha,” sambungnya.
Di sinilah aksentuasi Mu’ti untuk memperkuat ekosistem Ranting dengan membuka pintu akses seluas-luasnya terhadap berbagai bentuk amal usaha. Dengan demikian, Ranting dapat tumbuh sesuai dengan potensi dan kebutuhan masyarakat di wilayah masing-masing.
“Pintu-pintu masuk di Muhammadiyah dari banyak pintu. Kekuatan terbesar persyarikatan bukan hanya terletak pada besarnya amal usaha, tetapi pada hidupnya gerakan, kuatnya ikatan jamaah, dan hadirnya kader-kader yang memiliki semangat pengabdian,” tandasnya. (Cris)

