SIDOARJO, Suara Muhammadiyah – Setiap anak memiliki irama belajarnya sendiri. Ada yang melangkah cepat, ada yang butuh waktu untuk berhenti sejenak, dan ada pula yang membutuhkan uluran tangan untuk sekadar memahami arah. Bagi anak-anak berkebutuhan khusus, "uluran tangan" itu bukanlah sebuah kemewahan, melainkan kebutuhan dasar agar mereka merasa diterima.
Di sinilah peran penting seorang Guru Shadow, sosok yang sering kali menjadi jembatan antara dunia si anak dan lingkungan belajarnya.
Semangat untuk melahirkan lebih banyak sosok pendamping inilah yang menyatukan puluhan pendidik di SD Muhammadiyah 2 Sidoarjo selama dua hari, Sabtu-Ahad (18-19/7). Melalui inisiatif Unit Layanan Disabilitas (ULD) "InklusiMu" Muhammadiyah Sidoarjo, 55 guru berkumpul, bukan sekadar untuk duduk mendengarkan teori, melainkan untuk belajar "melihat" dengan hati.
Harum Kawaludin, Kepala ULD InklusiMu mengatakan, Guru Shadow bukan sekadar profesi pendamping yang duduk di samping anak saat belajar. Lebih jauh dari itu, mereka adalah penerjemah potensi.
"Kami ingin guru mampu mengenali cara anak berpikir, meruntuhkan hambatan belajarnya, dan yang paling penting, meyakinkan anak bahwa mereka punya tempat untuk berhasil," tuturnya dengan penuh harapan.
Serupa itu, Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Sidoarjo Noerwachid Soeprijanto menyebut, inklusivitas bukan sekadar tentang fasilitas fisik, melainkan tentang kesiapan hati dan kompetensi guru yang memanusiakan anak didiknya.
Kepala SLBN Pandaan Iva Evry Robiyansah berbagi kisah dari lapangan. Beliau tidak bicara tentang angka atau kurikulum kaku, melainkan tentang nyawa dalam pendidikan. Cerita-cerita tentang anak yang semula "dipandang sebelah mata" namun perlahan mekar berkat pendampingan yang sabar, membuat suasana ruangan hening.
Para peserta pun pulang dengan perspektif baru. Hafizh, pendidik PKBM Pelita Aushaf Indonesia, merasa cara pandangnya berubah total tentang bagaimana menggali potensi anak inklusi. Sementara Nesia dari SD Kreatif Muhammadiyah 16 Surabaya dan Siti Komariah dari TK ABA 8 Candi berharap langkah kecil ini terus berlanjut, bahkan semakin dalam dengan kehadiran dukungan psikologis di masa depan. (AP)

