Pemuda Muhammadiyah Perlu Beradaptasi dalam Berdakwah

Suara Muhammadiyah

10 May 2025

1412
Dahnil Anzar Simanjuntak

Dahnil Anzar Simanjuntak

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Dalam suasana penuh kebersamaan, Dahnil Anzar Simanjuntak, Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah periode 2014-2018, hadiri Malam Tasyakuran Milad ke-93 tahun Pemuda Muhammadiyah, Kamis (8/5) di Hotel Green Sahid Jakarta.

Acara ini menjadi momentum untuk berbagi pengalaman dari para alumni Pemuda Muhammadiyah salah satunya yaitu Dahnil, yang kini menjabat sebagai Wakil Kepala Badan Penyelenggara Haji periode 2024-2029. Ia turut menyampaikan pengalamannya semasa menjadi juru bicara di kementerian pertahanan.

“Saya tidak pernah berpikir yang dulunya lingkungan saya pemuda Muhammadiyah, kampus ini tiba-tiba militer yang tidak pernah sama sekali saya tekuni. Tapi terakhir saya berpikir, pernah menjadi panglima tertinggi Kokam,” ungkapnya.

Melalui itu, Dahnil berpesan kepada Pemuda Muhammadiyah agar terbiasa beradaptasi dengan lingkungan-lingkungan baru. “Jangan sampai kita merasa hebat di lingkungan pemuda Muhammadiyah tetapi diluar kita tidak mampu berkompetisi,” tegasnya.

Ia juga mengajak kepada Pemuda Muhammadiyah untuk segera keluar menghadapi situasi politik, menurutnya hal ini dapat membentuk sikap kenegarawanan dan kedewasaan serta memupuk hal-hal buruk.

“Saya ini wakil kepada badan, orang partai yang ditunjuk karena (jadi) jubir pak Prabowo. Tetapi mas Mu’ti, mas Fajar dan mas Zulfikar itu murni representasi Muhammadiyah,” ungkapnya.

Lebih jauh, Dahnil juga menyampaikan cerita singkat dalam acara tersebut. “Dua peristiwa penting dalam hidup saya yang menjadi argumentasi dan identitas terkuat adalah ketika saya bermuhammadiyah. Saya SD di Aceh daerah Tamiyang, di situ ada dua masjid. Satu namanya langgar Takwa, di situ ada satu tokoh namanya Tok Kasim, yang mengajak kami shalat ke langgar Takwa.”

“Tok Kasim ini punya strategi untuk anak-anak yang suka ribut, dibuatnya kami ada dibarisan shaf depan, sedangkan orang tua ada di shaf belakang. Akhirnya tidak bergerak sama sekali karena diawasi dari belakang,” lanjutnya.

Dahnil mengatakan pendidikan Kemuhammadiyahan dan aktivisme dimulai pada saat Ia menempuh pendidikan di SMA 1 Muhammadiyah tangerang. “Muhammadiyah memberikan harapan untuk anak yang kehilangan harapan,” katanya.

Tokoh Tok Kasim dan SMA Muhammadiyah 1 Kota Tangerang adalah representasi dari Muhammadiyah yang memberikan harapan dan menampilkan dakwah yang sabar, merangkul dan memberikan solusi. Karena tantangan hari ini tidak mudah, sosial media merubah semua pola dakwah.

“Sekarang anak muda tidak mau bergabung organisasi, yang menarik adalah komunitas. Kalau Muhammadiyah, Pemuda Muhammadiyah, IPM tidak berubah, siap-siap akan tinggal nama menjadi yayasan Muhammadiyah,” ujarnya.

Di akhir testimoninya, Dahnil mewanti untuk berperilaku sesuai dengan nilai agama. “Jangan sampai kita paham agama, tetapi kemudian laku dan perilaku kita bertentangan dengan nilai agama. Sedangkan mereka yang tidak paham agama bisa berlaku seperti orang yang paham agama,” pungkasnya. (Tia)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

CILACAP, Suara Muhammadiyah - Ratusan anak-anak PAUD/TK dan SD/MI se - Kecamatan Dayeuhluhur, mengik....

Suara Muhammadiyah

9 August 2026

Berita

SURABAYA, Suara Muhammadiyah – Guest teacher di kelas 3-E dan 4-C SD Muhammadiyah 4 Pucang Sur....

Suara Muhammadiyah

13 February 2025

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah -Suara Muhammadiyah. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Univ....

Suara Muhammadiyah

8 September 2025

Berita

Belajar Toleransi dari Dua Lebaran Penulis: Syahid Mujibur Rahman, Tinggal di Panaragan Jaya, Kecam....

Suara Muhammadiyah

28 December 2025

Berita

SAMARINDA, Suara Muhammadiyah - Ranting itu penting, Cabang harus berkembang, Masjid makmur mem....

Suara Muhammadiyah

11 March 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah