MAKASSAR, Suara Muhammadiyah — Limbah kulit kopi yang selama ini menjadi produk samping pengolahan kopi dikembangkan Tim Peneliti Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar menjadi pupuk organik granul bernilai tambah. Produk tersebut mengintegrasikan teknologi slow-release dengan inokulum cendawan endofit untuk mendukung budidaya kopi organik yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Inovasi itu dikembangkan melalui penelitian bertajuk “Pengembangan dan Validasi Prototipe Pupuk Granul Slow-Release Kulit Kopi Berinokulum Cendawan Endofit untuk Kopi Organik.” Program tersebut mendapat pendanaan dari Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui skema Program Hilirisasi Riset–Pengujian Model dan Prototipe Tahun 2026.
Penelitian dipimpin Syamsia dari Program Studi Agroteknologi Unismuh Makassar, bersama Andi Rahayu Anwar dan Irwan Mado Sejumlah mahasiswa juga dilibatkan dalam proses pengembangan hingga pengujian prototipe.
Pengembangan pupuk tersebut berangkat dari tingginya volume produk samping yang dihasilkan dalam pengolahan kopi. Berdasarkan dokumen pengembangan prototipe, setiap satu kilogram buah kopi atau coffee cherry dapat menghasilkan sekitar 43–50 persen limbah berupa kulit kopi atau husk/pulp.
Jika tidak dikelola dengan baik, limbah tersebut dapat menjadi persoalan lingkungan. Namun, kandungan biomassa di dalam kulit kopi membuka peluang untuk mengolahnya menjadi input pertanian yang memiliki nilai guna sekaligus nilai ekonomi.
“Pengolahan kopi menghasilkan produk samping berupa limbah kulit kopi yang sebenarnya masih memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan. Melalui pengolahan lebih lanjut, limbah tersebut dapat dikembangkan menjadi pupuk organik granul sehingga memberikan nilai tambah sekaligus mendukung penerapan ekonomi sirkular pada komoditas kopi,” ujar Syamsia, saat dikonfirmasi Selasa, 1 September 2026.
Kulit kopi tersebut kemudian diolah dan diformulasikan menjadi pupuk dengan ukuran granul yang ditargetkan sekitar 2–5 milimeter. Bentuk granul dipilih karena lebih praktis untuk pengemasan, penyimpanan dan distribusi, sekaligus memudahkan pengaturan dosis ketika diaplikasikan pada tanaman.
Namun, inovasi yang dikembangkan tim Unismuh tidak berhenti pada pengubahan limbah menjadi pupuk organik. Produk tersebut dirancang menggunakan mekanisme slow-release agar unsur hara dilepaskan secara bertahap dan lebih terkendali.
Mekanisme tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pemupukan sekaligus mengurangi kehilangan unsur hara. Formulasi pupuk kemudian diperkuat dengan cendawan endofit yang berfungsi sebagai komponen biofungsional dan diarahkan menjadi bioinokulan atau biostimulan bagi tanaman.
Kebaruan teknologi tersebut terletak pada pengintegrasian tiga komponen, yakni limbah kulit kopi sebagai sumber bahan organik lokal, teknologi granul slow-release, dan inokulasi cendawan endofit dalam satu matriks granul.
Dengan formula itu, pupuk yang dihasilkan tidak hanya diarahkan untuk memberikan unsur hara secara bertahap, tetapi juga memiliki fungsi biologis yang berpotensi mendukung pertumbuhan tanaman kopi.
Pengembangan prototipe saat ini telah bergerak dari tahapan formulasi dan produksi menuju pengujian serta validasi. Tim peneliti telah melakukan pengujian laboratorium terhadap karakteristik fisik, kimia, dan mekanisme pelepasan hara pupuk granul.
Menurut Syamsia, pengujian menjadi tahapan penting karena keberhasilan suatu prototipe tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan produk secara fisik, tetapi juga harus dibuktikan melalui parameter mutu dan kinerjanya.
“Pengujian laboratorium terhadap karakteristik fisik, kimia, dan pelepasan hara telah kami lakukan. Produk yang dikembangkan tidak cukup hanya berhasil dibuat dalam bentuk granul, tetapi karakteristik dan kinerjanya juga harus dibuktikan melalui pengujian,” jelasnya.
Tahapan berikutnya dilakukan melalui pengujian langsung pada tanaman. Saat ini tim tengah mengamati respons pertumbuhan bibit kopi di greenhouse serta pembibitan kopi milik mitra.
Pengujian pada pembibitan mitra menjadi penting karena membawa prototipe keluar dari lingkungan laboratorium menuju kondisi yang semakin mendekati penggunaan sebenarnya.
“Saat ini kami sedang mengamati respons pertumbuhan bibit kopi, baik di greenhouse maupun di pembibitan kopi mitra. Data yang diperoleh akan menjadi bagian penting untuk membuktikan kinerja prototipe pada lingkungan yang relevan,” kata Syamsia.
Pelibatan mitra sekaligus menjadi bagian dari proses mendekatkan hasil penelitian kepada calon pengguna. Apabila pengembangannya berjalan sesuai target, produk tersebut berpotensi digunakan petani kopi, kelompok tani dan Gapoktan, koperasi kopi, unit pembibitan, hingga UMKM produsen pupuk organik.

