Pengajian Majelis Tabligh PDM Kudus Madrasah Ibrahimiyah: Merawat Spirit Kurban dan Implementasi Pola Asuh Islami, Penguatan Kesalehan ritual-sosial serta Pola Asuh Generasi Alpha
KUDUS, Suara Muhammadiyah - Ahad, 21 Mei 2026, Pengajian rutin Ahad Pon Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Kudus menghadirkan pembicara Talqis Nurdianto, L.C., M.A., Ph.D. dengan moderator Kholilurrahman, S.Pd., di ruang Crystal Building Universitas Muhammadiyah Kudus, Jalan Ganesha 1, Purwosari Kota Kudus. Adapun materi mulai pukul 06.30 WIB, Talqis yang juga Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyampaikan materi tentang ‘Madrasah Ibrahimiyah : Kesalehan Pasca-Tasyrik, Mengubah Momentum Ibadah Musiman Menjadi Karakter Ketaatan yang Berkelanjutan) ”, yang dihadiri Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM), Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM), PRA, PCA dan jamaaah Muhammadiyah/’Aisyiyah se Kabupaten Kudus.
Sedangkan Talqis Nurdianto yang lulusan dari Universitas Al Azhar Kairo, Mesir bidang bahasa Arab menjelaskan bahwa Kesalehan Pasca-Tasyrik, Mengubah Momentum Ibadah Musiman Menjadi Karakter Ketaatan yang Berkelanjutan. ”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” (HR. Muslim), dan ’Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya dengan harapan ada 3 (tiga) hal yaitu,
Pertama, Ketaatan sepanjang tahun, komitmen untuk konsisten menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah SWT, tidak terbatas pada bulan atau momen tertentu seperti Ramadan atau Dzulhijjah saja. Hal ini merupakan fondasi spiritual untuk mencapai kedewasaan iman dan ketakwaan hakiki
Kedua, Aksi sosial berkelanjutan, tindakan terorganisir untuk menciptakan perubahan positif jangka panjang yang tidak hanya memberikan bantuan sementara, tetapi juga memberdayakan masyarakat dan menjaga kelestarian lingkungan
Ketiga, Ketulusan yang tidak berujung, Esensi Ketulusan: Ketulusan adalah kondisi di mana hati bersih, jujur, dan apa adanya tanpa kepalsuan. Ketika ketulusan diberikan tanpa ujung (tanpa pamrih), ia menjadi bentuk pemberian kasih sayang yang paling tulus.
Talqis menegaskan kembali bahwa setiap muslim harus senantiasa beramal Sholih,
”Setiap amal itu pasti ada masa semangatnya. Dan setiap masa semangat itu pasti ada masa futur (malasnya). Barangsiapa yang kemalasannya masih dalam sunnah (petunjuk) Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, maka dia berada dalam petunjuk. Namun barangsiapa yang keluar dari petunjuk tersebut, sungguh dia telah menyimpang.” (HR. Tabroni). Dan setiap masa semangat itu pasti ada masa futur (malasnya). Barangsiapa yang kemalasannya masih dalam sunnah (petunjuk) Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, maka dia berada dalam petunjuk. Namun barangsiapa yang keluar dari petunjuk tersebut, sungguh dia telah menyimpang.” (HR. Tabroni)
Talqis yang juga Pengurus Asosiasi Pengurus Asrama Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah se Indonesia (Aslama PTMA) menegaskan kembali bahwa dalam Refleksi Ibrahim dan Ismail, ada Kisah pengorbanan agung Nabi lbrahim dan keikhlasan mutlak Nabi Ismail menawarkan cetak biru (blueprint) moral yang tidak akan usang dimakan zaman, yaitu : Integritas Iman, Komunikasi efektif dan aplikasi harian.
Talqis Nurdianto yang lulusan Ph.D dari Universiti Sains Islam Malaysia menjelaskan kembali bahwa Filosofi Takwa dalam Madrasah Ibrahimiyah ;
Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang muhsin. Al-Ḥajj [22]:37
Aksi Takwa, KH. Ahmad Dahlan: "Agama itu tidak hanya sekadar disimpan di dalam akal pikiran atau diucapkan di lisan, melainkan diamalkan dan dibuktikan dengan pertolongan nyata kepada umat." Contoh: Shohibul kurban yang ikhlas tidak menuntut bagian terbaik untuk dirinya, melainkan mempercayakan penuh distribusinya kepada kepanitiaan/Lazismu demi kemaslahatan mustahik terjauh.
Filosofi Takwa
“Jika seseorang sakit atau melakukan safar, maka dia akan dicatat melakukan amalan sebagaimana amalan rutin yang dia lakukan ketika mukim (tidak bepergian) dan dalam keadaan sehat.” (HR. Bukhari)
Filosofi takwa akan berdampak mengikis Egoisme diri, Ibadah kurban adalah medan latihan untuk “menyembelih’; target spiritual sejatinyoa adalah melahirkan keikhlasan yang murni dalam mengabdi kepada Allah dan melayani masyarakat, dengan makna Egoisme personal (an-nafs al ammarah), hewan sembelihan hanyak simbol fisik dan komunikasi antar budaya dan global, sedangkan filosofi takwa akan berdampak juga mengikis egoisme sosial, kurban untuk ketahanan pangan; takwa yang dicapai melalui ibadah kurban harus berbuah tindakan taktis mengatasi kelaparan dan malnutrisi anak-anak.
(Supardi)

