Pengajian Muhammadiyah Harus Menggembirakan

Suara Muhammadiyah

21 February 2024

1922
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah dr H Agus Taufiqurrahman, SpS., MKes

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah dr H Agus Taufiqurrahman, SpS., MKes

PEKALONGAN, Suara Muhammadiyah – Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah dr H Agus Taufiqurrahman, SpS., MKes menyebut bahwa kehadiran Muhammadiyah bermula dari kelompok pengajian. Dalam sejarahnya Muhammadiyah memang memiliki tradisi tersendiri untuk membumikan nilai-nilai ajaran agama Islam bagi warganya.

“Kalau Muhammadiyahnya subur, harusnya pengajiannya juga makmur. Karena dulu dari kelompok pengajian,” ujarnya dalam Pengajian Umum Pra Musyawarah Nasional (Munas) XXXII Tarjih Muhammadiyah di Masjid At-Taqwa Pekajangan, Pekalongan, Jawa Tengah, Rabu (21/2).

Agus menyebut Kiai Haji Ahmad Dahlan mengajarkan agama Islam lewat metoda pengajian. Pendiri Muhammadiyah tersebut mengaplikasikan pengajiannya dengan mengajarkan Surat Al-‘Ashr selama tempo delapan bulan. Kiai Haji Ahmad Dahlan berpandangan surat tersebut bukan hanya sekadar untuk dihafal, akan tetapi lebih tepatnya untuk diamalkan secara nyata.

“Al-‘Ashr hanya 3 ayat. Di Al-Qur’an hanya 3 surat yang ayatnya hanya 3, salah satunya Al-‘Ashr. Ngajinya sampai lebih dari setengah tahun. Dan ini (Surat Al-‘Ashr) diajarkan sampai 8 bulan,” katanya.

Tidak hanya Al-‘Ashr yang berulang-ulang diajarkan oleh KH Ahmad Dahlan. Ada surat lain, yakni Al-Ma’un. Surat ini diajarkan oleh KH Ahmad Dahlan selama tempo 3 bulan. Surat tersebut menjadi ide penggerak dari organisasi Muhammadiyah masih kokoh berdiri sampai hari ini.

“Dari spirit ngaji inilah yang kemudian memunculkan gerakan yang disebut dengan Muhammadiyah,” ucapnya.

Agus mengingatkan orang bermuhammadiyah hanya sekadar mengurus organisasi, tanpa ditopang dengan mengaji ajaran agama Islam secara komprehensif, dikonotasikan dalam istilah Jawa sebagai Koyo Wayang Ilang Gapite. Artinya tercerabut spirit dakwahnya, yakni dakwah Amar Makruf Nahi Mungkar.

“Maka bersyukur dalam rangka Munas ada pengajian. Sehingga di Muhammadiyah itu milad juga ada pengajian. Nanti isinya memang pengajian-pengajian dan tidak cukup waktunya untuk mengaji Islam yang begitu luas. Dan saya yakin masing-masing kita sudah sangat memahami kabar gembira bagi orang-orang yang suka hadir di majelis ilmu akan dimudahkan ke surga-Nya,” tuturnya.

Agus menyampaikan dalam praktiknya, pengajian di Muhammadiyah membawa tarikan napas kegembiraan. Yakni memahami Islam tidak kaku dan keras, melainkan dengan suasana cair dan penuh dengan kegembiraan sehingga dapat menyerap sari dari nilai-nilai ajaran agama Islam secara totalitas.

“Maksudnya agar mengamalkan pesan Nabi kepada sahabat yang diutus untuk menjadi gubernur di sebuah tempat. Basyiruu Walaa Tunaffiruu, Yassiruu Walaa Tu'assiruu. ‘Gembirakan, jangan bikin lari, mudahkan jangan dipersulit. Sehingga mengaji di Muhammadiyah itu harusnya menggembirakan’,” tegasnya. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

KUDUS, Suara Muhammadiyah - Pada bulan Ramadhan 1445H/2024 M, Lembaga Zakat Infak dan Shodaqoh Muham....

Suara Muhammadiyah

2 April 2024

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Fakultas Farmasi dan Sains Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA (U....

Suara Muhammadiyah

27 April 2026

Berita

PALANGKA RAYA, Suara Muhammadiyah – Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Kalimantan Tengah meng....

Suara Muhammadiyah

22 June 2026

Berita

SURABAYA, Suara Muhammadiyah – Memasuki usia satu abad Majelis Tarjih dan Tajdid (MTT) Muhamma....

Suara Muhammadiyah

7 July 2026

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah — Masjid Nurul Haq Muhammadiyah menggelar Salat Iduladha 1447 Hijr....

Suara Muhammadiyah

28 May 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah