Pengajian PDM Kota Tegal Memperkuat Tauhid dan Silaturahmi

Suara Muhammadiyah

24 March 2025

1420
Foto Istimewa

Foto Istimewa

TEGAL, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Tegal menggelar Pengajian dan Buka Puasa Bersama yang disponsori oleh LAZISMU Kota Tegal pada Ahad (23/3/2025) di Masjid Ulil Al-Bab SMA Muhammadiyah Kota Tegal dan  menghadirkan Ustadz Ghusni Darajatun M.Pd., sebagai narasumber.

Acara ini dihadiri oleh keluarga besar Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Tegal, PCM, PRM, dan Ortom Muhammadiyah di Kota Tegal. Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk mempererat silaturahmi sekaligus membahas perkembangan Muhammadiyah, khususnya di kota Tegal.

Acara dibuka dengan sambutan dari Kepala SMA Muhammadiyah Kota Tegal, Sulaiman, M.Pd., yang menyambut baik terselenggaranya kegiatan ini. Ia berharap kegiatan pengajian dan buka puasa bersama ini membawa keberkahan serta memperkuat komitmen bersama Muhammadiyah di kota Tegal.

“Kami berharap melalui silaturahmi pengajian dan buka bersama ini, PDM senantiasa diberikan kelancaran dan keberkahan dalam menjalankan tugas dan kewajibannya,” ujar Sulaiman.

Dalam Sambutan PDM Kota Tegal yang pada kesempatan ini diwakili oleh Baharudin, M.Pd., juga menyambut baik serta mengapresiasi para jamaah yang hadir dengan penuh semangat walaupun sedang berpuasa dan mengharap balasan berupa pahala dari Allah SWT. Lebih lanjut, Ia memaparkan beberapa pesan diantaranya tentang menghidupi masjid-masjid Muhammadiyah di sekitar kota Tegal.

“Salah satu tolak ukur Muhammadiyah dilihat dari jamaah di masjid-masjid milik muhammadiyah,” kata Baharudin.

Sesi berikutnya yaitu pengajian. Dalam tausyiahnya, Ghusni Darajatun mengusung tema "Tauhid".  Ia mengupas delapan tema “Tauhid” berdasarkan Q.S Al-Qasas ayat 5. Tema tersebut mencakup Tuhan, keyakinan terhadap keesaan Allah, dan satu-satunya tuhan yang berhak disembah serta sebagai sandaran hidup.

Mengutip dari doa “Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyatina qurrota a'yun waj'alna lil muttaqina imama” yang merupakan potongan Q.S Al-Furqan ayat 74 yaitu doa untuk memperoleh keturunan yang baik serta ketenangan hati dan selalu dibaca sehabis shalat. Allah langsung menjawabnya dengan Q.S Al-Qasas ayat 5 yang berbunyi “wa nurîdu an namunna ‘alalladzînastudl‘ifû fil-ardli wa naj‘alahum a immataw wa naj‘alahumul-wâritsîn” yang artinya “Kami berkehendak untuk memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu, menjadikan mereka para pemimpin, dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi)”.

Penggalan ayat diatas merupakan kisah dari keselamatan nabi Musa terhadap kekejaman Fira'un pada zaman tersebut. Maksud dari kedua ayat tersebut adalah Allah SWT telah berjanji kepada orang-orang yang senantiasa meminta dan bersandar kepadanya niscaya diberikan pula apa yang telah Allah janjikan, seperti dalam Q.S Al-Qasas ayat 5, Allah SWT berjanji akan menjadikan mereka pemimpin dan mewarisi bumi. "Bagi Allah SWT hal tersebut mudah dan tiada yang tidak mungkin jika sudah dikehendakinya," ungkapnya. 

Lebih jelas mengenai tema kali ini, Ia menjelaskan tentang semut yang bahkan manusia tidak diketahui pada saat itu, disimak pada Q.S An-Naml ayat 18-24. Dalam ayat 18 ada hal yang paling mengejutkan dimana diksi ayat yang menyebutkan menggunakan kata “qalat namlatun” tidak cukup jika hanya diartikan “berkata seekor semut”. Ghusni menjelaskan secara rinci terjemah penggalan ayat tersebut.

"Terjemah dari qalat namlatun mestinya “(telah) berkata seekor semut betina”. Sebab namlatun membawa tanda ta’ marbutoh (ة) sebagai tanda isim mu’annats atau kata benda perempuan, sehingga semut yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah semut betina. Demikian pula kata qalat yang mendahuluinya berasal dari qala yang disandari hiya, yakni isim dhamir yang menunjukan subjek mu’annats dan mufrad (perempuan tunggal)," jelasnya.

Jika kisah semut ini dikaitkan dengan dunia manusia, seorang yang bisa memberi perintah adalah pemerintah atau seorang pemimpin. Artinya dalam ayat ini ditegaskan bahwa semut betina tersebut adalah pemimpin para semut. Sehingga dapat digunakan istilah Ratu Semut.

"Dari penjelasan ini bisa kita ketahui bahwa memang Allah SWT itu sandaran hidup kita, karena Allah mengetahui apa yang tidak kita ketahui," tambahnya.

Dipenghujung taushiyah, Ia mengajak berdoa bersama untuk Muhammadiyah dan keberkahan hidup serta mengakhiri kegiatan baik ini dengan berbuka puasa dan shalat maghrib berjamaah. (MFN/ND)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

PURWOREJO, Suara Muhammadiyah - SMP Muhammadiyah Butuh dalam rangka meningkatkan ketaqwaan kepada Al....

Suara Muhammadiyah

14 October 2023

Berita

YOGYGAKARTA, Suara Muhammadiyah - Bantul (2/12) Pimpinan Cabang Muhammadiyah Jetis (PCM Jetis) Bantu....

Suara Muhammadiyah

2 December 2023

Berita

MADIUN, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Madiun (UMMAD) menyelenggarakan Rapat Kerja (R....

Suara Muhammadiyah

6 November 2023

Berita

MALANG, Suara Muhammadiyah — Proses pengukuhan kelulusan siswa SD ‘Aisyiyah Kamila dan S....

Suara Muhammadiyah

27 May 2026

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Pimpinan Cabang Muhammadiya (PCM) Gedongtengen mengadakan rap....

Suara Muhammadiyah

7 June 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah