BANTUL, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Tirtonirmolo Barat, Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kembali menyelenggarakan Pengajian Rutin Bulanan khusus anggota Pimpinan Harian dan Anggota Bidang pada Sabtu (10/1). Pengajian edisi ke-11 ini digelar di Musala At-Taqwa Kalipakis dengan mengangkat tema “Hindari Hadis Hoaks di Bulan Rajab.”
Pengajian menghadirkan narasumber Ustaz Budi Aditya Wardana, mubaligh muda lulusan Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM) Yogyakarta. Dalam paparannya, Ustaz Budi menekankan pentingnya kecermatan umat Islam, khususnya warga dan pimpinan Muhammadiyah, dalam menyikapi berbagai hadis tentang keutamaan ibadah di bulan Rajab yang marak beredar di masyarakat.
Ia menjelaskan bahwa tidak sedikit hadis yang beredar melalui media sosial dan aplikasi pesan instan seperti WhatsApp tergolong hadis lemah (ḍa‘īf), bahkan palsu. Hadis-hadis tersebut kerap dikaitkan dengan keutamaan khusus ibadah tertentu di bulan Rajab, padahal tidak memiliki dasar periwayatan dan kualitas yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Dalam kesempatan tersebut, Ustaz Budi juga mengulas keutamaan bulan Rajab dengan merujuk pada Kitab Laṭā’iful Ma‘ārif karya Imam Ibnu Rajab al-Hambali, seraya menegaskan prinsip kehati-hatian dalam beragama.
“Warga, terlebih pimpinan Muhammadiyah, harus cerdas dan tidak mudah percaya pada hadis-hadis tentang keutamaan ibadah di bulan Rajab yang tidak jelas sumber dan kualitasnya. Muhammadiyah tidak menjadikan hadis lemah atau palsu sebagai dasar hukum (hujjah) untuk diamalkan. Karena itu, jamaah perlu selektif dan berpegang pada prinsip tarjih dalam beragama,” tegasnya.
Sebagai alternatif, Ustaz Budi menganjurkan agar umat Islam memaksimalkan ibadah-ibadah sunah yang telah jelas dalilnya dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
“Di bulan Rajab ini, sebaiknya kita memperbanyak ibadah sunah yang sudah kuat dasar hukumnya, seperti puasa Senin dan Kamis, puasa ayyamul bidh, puasa Daud, salat tahajud, salat duha, salat qabliyah dan bakdiyah, salat tahyatul masjid, infak, sedekah, serta ibadah sunah lainnya,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua PRM Tirtonirmolo Barat, Sofriyanto, yang memandu jalannya pengajian, menyampaikan refleksi spiritual terkait makna bulan Rajab. Menurutnya, Rajab bukan sekadar pergantian waktu dalam kalender Hijriah, melainkan momentum untuk memperbaiki kualitas keimanan.
“Bulan Rajab adalah alarm spiritual bagi kita semua. Rajab mengajak kita berhenti sejenak, mengevaluasi arah hidup, dan menyiapkan hati menyambut Ramadan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, Rajab menjadi kesempatan untuk memperbanyak taubat, memperhalus akhlak, dan meningkatkan kualitas ibadah, bukan semata dari sisi kuantitas, tetapi juga keikhlasan dan kesungguhan.
“Ibadah tidak selalu harus besar dan dramatis. Mulailah dari hal-hal kecil namun konsisten, seperti menjaga salat, menahan lisan, meluruskan niat, dan menebar kebaikan. Jika Rajab dimanfaatkan dengan baik, insyaallah Sya’ban menjadi penguat dan Ramadan menjadi puncak perubahan diri,” pungkasnya.

