YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Bulan Ramadhan menjadi kans bagi semua. Lebih-lebih dalam bulan ini niscaya memiliki impak pada aspek peningkatan. “Maka Ramadhan juga sering disebut sebagai syahrul ziyadah, bulan peningkatan,” terang Deni Asy’ari.
Peningkatan di sini penekanannya ada pada gatra spiritual. “Meningkatkan iman dan takwa,” ucap Deni. Tidak hanya di situ saja, lebih universal mencakup peningkatan dalam aspek kinerja.
"Makna ziyadah disini, menyangkut beberapa aspek, di antaranya peningkatan etos kerja, kedisiplinan waktu, kekompakan atau kerja tim dan kesabaran," jelasnya.
Menurut Wakil Sekretaris 1 Majelis Ekonomi dan Bisnis Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini, jangan sampai Ramadhan yang dijalankan hanya mengikuti arus. Namun apa yang ingin diperoleh selama menjalankan ibadah Ramadhan, justru tidak mengerti atau jauh panggang dari api.
"Jadi dalam rangka meningkatkan hasil kinerja kita di perusahaan ini, minimal bulan Ramadhan dapat kita jadikan sebagai bulan peningkatan atau syahrul ziyadah," tambahnya.
Menurut Deni, ini sejalan dengan perintah Al-Qur’an dalam surat al asr. Di mana agar kita tidak termasuk orang-orang yang merugi, maka manusia diminta untuk meingkatkan iman dan amal saleh atau etos kerja.
"Maka sudah selayaknya pasca-Ramadhan, kinerja dan kekompakan kita meningkat mengelola usaha Persyarikatan ini ke depannya. Karena kalau etosnya mengalami ziyadah, maka tentu hasilnya juga akan mengalami ziyadah. Dan jika hasilnya mengalami ziyadah, pendapatan kita secara otomatis mengalami ziyadah juga," tegasnya.
"Yang terpenting dalam menjalankan ibadah Ramadhan, kita sadar dan mengerti untuk apa dan kemana berlabuhnya diri kita setelah menjalakan ibadah ramadahan," tambah Deni, sekali lagi.
Pun demikian, sisi lainnya, Ramadhan disebut juga dengan syahrul ash-shadaqah (bulan sedekah). Deni melihat, denyut nadi sedekah umat Islam di bulan ini amat tinggi.
“Ada orang menyebutkan akan jadikan bagi-bagi uang. Ya itu boleh saja gitu ya,” katanya saat memberikan pengantar di buka puasa bersama, Sabtu (28/2) di Grha Suara Muhammadiyah.
Bisa disebut, kalau Ramadhan sebagai syahrul Qur’an (bulannya Al-Qur’an). Tak pelak, Al-Qur’an diturunkan di bulan Ramadhan. Karenanya, banyak orang yang bertungkus lumus memanfaatkan dengan mendaras Al-Qur’an sekaligus mengejawantahkan sarinya di kehidupan sehari-hari.
“Tadarus Al-Qur'an sekian juz, bahkan ada yang sampai tamat Al-Qur'annya (membaca, red),” ucapnya.
Sisi lain, disebut juga syahrul ash-shobar (bulan kesabaran). “Kita ingin Ramadhan ini bisa membentuk pribadi kita jadi orang sabar,” tutur Direktur Utama PT Syarikat Cahaya Media / Suara Muhammadiyah itu.
Manifestasi kesabaran itu dilakukan lewat berpuasa sebagai pantulan dari menahan diri. Yakni menahan diri tidak makan, minun, pemenuhan kebutuhan biologis, juga dari perangai-perangai pendestruksi esensi puasa itu sendiri.
“Kita ingin mengambil esensi itu di bulan Ramadhan ini,” tekannya.
Karena itu maka, dapat dikatakan pula, Ramadhan direpresentasikan sebagai syahrul al-jihad (bulan jihad). “Ramadan ni bulan perjuangan,” tegasnya, singkat.
Apa yang diperjuangkan? Semua hal, yang menyangkut aspek kebaikan untuk dunia dan akhirat. “Kita sadar bahwa saya mau menjadikan Ramadhan untuk diri saya (berjuang untuk sesuatu),” ujarnya.
Dalam konteks dunia kerja, syahrul al-jihad menjadi implikasinya. Bulan perjuangan untuk melakukan peningkatan. Apa yang ditingkatkan? Etos kerja, semangat teamwork, dan kekuatan dan kesabaran di dalam membangun relasi.
“Sederhana, cukup itu saja yang kita ingin bangun ya di momentum bulan Ramadhan ini,” bebernya. (Cris)

