YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah — Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta menegaskan bahwa pelestarian lingkungan hidup kini bukan lagi sekadar isu teknis atau kebijakan publik semata, melainkan telah menjadi pilar ideologis yang tak terpisahkan dari gerakan Islam Berkemajuan.
Dalam Pengajian Ramadhan 1447 H bertajuk "Keadaban Ekologis untuk Masa Depan Semesta" yang diselenggarakan di Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Sabtu (28/2/2026), PWM DIY menyerukan perlunya membangun fondasi peradaban yang berlandaskan pada amanah keagamaan untuk menjaga bumi. Langkah ini diambil sebagai respons atas meningkatnya krisis iklim, bencana ekologis, dan menurunnya kualitas ruang hidup manusia yang kian mengkhawatirkan.
Ketua PWM DIY, Dr. Muh Ikhwan Ahada, MAg, dalam sambutannya menekankan bahwa tema tersebut lahir dari kegelisahan terhadap realitas kerusakan alam yang nyata di depan mata. Merujuk pada Surah Ar-Rum ayat 41, ia mengingatkan bahwa kerusakan di darat dan laut adalah akibat ulah tangan manusia agar mereka merasakan dampak perbuatannya dan kembali ke jalan yang benar. "Tema kita terinspirasi dari realitas dan kondisi serta keadaan yang ada. Kerusakan alam karena pertambangan yang tidak bertanggung jawab nyata di depan mata," ujar Ikhwan di hadapan ratusan peserta pengajian.
Kondisi ekologis Indonesia saat ini dipaparkan dalam data yang sangat memprihatinkan, mulai dari pencemaran air hingga hilangnya paru-paru dunia. Ikhwan mengungkapkan bahwa 60 persen sungai di Indonesia kini tercemar dengan tingkat radiasi menengah hingga berat, yang berarti mayoritas sumber air sedang tidak baik-baik saja. Ia juga menyoroti hancurnya ekosistem laut akibat tumpukan sampah plastik yang mencapai 33,86 juta ton pada tahun 2024, menjadikan pemandangan bawah laut layaknya lokasi bekas perang nuklir. "Setiap menit kita kehilangan hutan seluas empat kali lapangan bola di Indonesia. Udara kita menjadi semakin panas," tambahnya.
Di tengah keprihatinan tersebut, PWM DIY menunjukkan optimisme melalui berbagai prestasi nasional yang diraih oleh unsur pembantu pimpinannya. Ikhwan mengapresiasi MPKSDI PWM DIY sebagai lembaga perkaderan paling inovatif nasional, serta Lazismu DIY yang menyabet predikat Lazismu terbaik 2025 secara nasional. Ia juga membanggakan raihan Anugerah Kalpataru 2024 oleh aktivis Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) dalam bidang pengolahan sampah. Meski DIY secara administratif kecil dibandingkan wilayah lain, Ikhwan menegaskan semangat organisasi yang militan. "Maka DIY itu tidak keliru kalau kemudian kita katakan small but beautiful and powerful," tegasnya.
Sebagai langkah konkret ke depan, Muhammadiyah DIY mendorong penguatan literasi dan aksi nyata melalui peluncuran buku "Ekologi Berkemajuan" oleh Majelis Lingkungan Hidup (MLH), yang memuat konsep sekaligus praktik terbaik (best practice) seperti pengembangan Green School di berbagai amal usaha. Ikhwan berharap agar isu lingkungan ini masuk ke dalam segmentasi pembelajaran di sekolah-sekolah, dakwah, serta tablig agar setiap warga Muhammadiyah mampu menjadi "duplikator kebaikan" dalam menjalankan mandatnya sebagai khalifah di muka bumi.
Muhammadiyah DIY mendorong transformasi gerakan dari sekadar wacana teologis menuju praktik nyata melalui konsep "Ekologi Berkemajuan". Ketua Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) PWM DIY, Andy Putra Wijaya, menjelaskan bahwa pengajian ini bertujuan melahirkan kesadaran ekologis yang kokoh dalam kehidupan beragama, termasuk implementasi di amal usaha seperti sekolah, kampus, dan masjid.
Sebagai langkah konkret, dilakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan Balai Perhutanan Sosial (BPS) wilayah Jawa-Madura-Bali serta peluncuran buku panduan praktis untuk mewujudkan ekosistem "Green School" di lingkungan pendidikan Muhammadiyah.
Sementara itu, Rektor UAD, Prof. Muchlas, MT, menekankan bahwa kesadaran masyarakat global saat ini telah menempatkan faktor lingkungan sebagai pilar utama dalam kebijakan industri modern. Dalam konsep Industri 5.0, aspek ketahanan (resilience) dan pertimbangan ekologis menjadi prasyarat mutlak yang berjalan beriringan dengan fokus pada manusia.
Selain itu, Muchlas pun menegaskan bahwa seluruh fasilitas universitas akan terus mendukung agenda persyarikatan guna memastikan keadaban ekologis ini tumbuh kembang di lingkungan warga Muhammadiyah.
"Tugas kita adalah memperjuangkan agar keadaban ekologis ini bisa tumbuh kembang di lingkungan persyarikatan kita," pungkasnya.
Rangkaian agenda pengajian ini juga akan dilaksanakan prosesi wisuda angkatan pertama Sekolah Ideologi Muhammadiyah (SIM) sebagai bagian dari penguatan kaderisasi yang berkelanjutan.

