TEGAL, Suara Muhammadiyah – Pembinaan Kepala Sekolah Muhammadiyah Kabupaten Tegal mengusung tema “Penguatan Kompetensi Literasi dan Profesionalisme Kepala Sekolah Muhammadiyah” sebagai bagian dari upaya strategis revitalisasi Pendidikan Berkemajuan. Kegiatan ini menghadirkan Hendra Apriyadi, S.Pd., M.Pd., Anggota Majelis Dikdasmen & PNF PP Muhammadiyah sekaligus dosen di Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA, Ahad (1/3).
Dalam pemaparannya, Hendra menegaskan bahwa revitalisasi bukan sekadar pembaruan administratif, melainkan penguatan komitmen untuk memperkokoh fondasi pendidikan serta menyesuaikan langkah dengan tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri gerakan. Menurutnya, Muhammadiyah sejak awal dikenal sebagai gerakan tajdid (pembaruan) dalam bidang pendidikan. Pendidikan Berkemajuan tidak hanya berkaitan dengan fasilitas fisik, tetapi juga menyangkut pola pikir maju, sistem yang tertata, serta kepemimpinan yang visioner.
Revitalisasi Dimulai dari Kepemimpinan
Hendra menekankan bahwa perubahan sekolah sangat ditentukan oleh kepemimpinan yang progresif dan adaptif. Kepala sekolah merupakan penggerak utama organisasi pendidikan. Ketika literasi kepala sekolah kuat dan profesionalismenya kokoh, arah pengembangan sekolah menjadi jelas dan terukur.
Revitalisasi, lanjutnya, diwujudkan melalui penguatan budaya literasi yang substansial, penerapan manajemen berbasis data dan evaluasi berkelanjutan, inovasi pembelajaran, serta penciptaan sekolah sebagai ruang tumbuh karakter dan akhlak mulia. Kepala sekolah yang literat mampu membaca perubahan sosial, perkembangan teknologi, serta kebutuhan peserta didik masa kini, sekaligus menjadi agen transformasi di lingkungan sekolah.
Literasi sebagai Energi Pembaruan
Dalam konteks Pendidikan Berkemajuan, literasi dipandang sebagai energi intelektual. Kepala sekolah yang gemar membaca, menulis, berdiskusi, dan terus belajar akan membangun budaya akademik yang dinamis. Guru terdorong untuk meningkatkan kompetensi, sementara peserta didik termotivasi untuk berpikir kritis dan kreatif.
Budaya literasi yang kuat menjadikan sekolah bukan sekadar tempat transfer pengetahuan, melainkan pusat pengembangan intelektual dan karakter yang adaptif terhadap perubahan.
Profesionalisme sebagai Pilar Kepercayaan
Selain literasi, profesionalisme menjadi pilar penting dalam membangun kepercayaan publik. Tata kelola yang transparan, pelayanan yang prima, serta peningkatan mutu pembelajaran akan memperkuat citra sekolah Muhammadiyah di tengah masyarakat.
Kepala sekolah tidak hanya berperan sebagai manajer, tetapi juga sebagai teladan nilai-nilai Islam Berkemajuan yang moderat, inklusif, dan berorientasi pada kemaslahatan. Integritas menjadi fondasi utama dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas dan berdaya saing.
Penguatan Fungsi AUM Pendidikan
Pada kesempatan yang sama, Fathin Hammam, S.Sos., M.Pd., menekankan pentingnya penguatan tiga fungsi utama Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) bidang pendidikan, yaitu: (1) fungsi pelayanan pendidikan yang unggul dan maju, (2) fungsi dakwah, dan (3) fungsi pengkaderan.
Ia menyampaikan bahwa orientasi pengembangan AUM saat ini harus bertumpu pada peningkatan kualitas, bukan sekadar kuantitas. Sinergi antar-AUM, khususnya di bidang pendidikan, juga perlu diperkuat. Peserta didik dari TK ABA diarahkan melanjutkan pendidikan ke SD Muhammadiyah, kemudian ke SMP Muhammadiyah, hingga SMA Muhammadiyah sebagai bentuk kesinambungan sistem pendidikan dan kaderisasi.
Menguatkan Spirit Tajdid
Pembinaan kepala sekolah ini menjadi momentum untuk meneguhkan kembali spirit tajdid Muhammadiyah dalam mencerdaskan kehidupan umat dan membangun peradaban melalui pendidikan. Revitalisasi tidak dimaknai sebagai menciptakan sesuatu yang sepenuhnya baru, melainkan memperkuat kembali nilai dan arah perjuangan pendidikan Muhammadiyah.
Hendra menegaskan, ketika kepala sekolah bertumbuh, sekolah akan berkembang. Ketika sekolah berkembang, generasi unggul akan lahir. Dengan demikian, Pendidikan Berkemajuan tidak berhenti pada tataran konsep, tetapi terwujud dalam praktik nyata di lingkungan sekolah.
Kegiatan ini diharapkan menjadi ruang konsolidasi gerakan pendidikan Muhammadiyah agar semakin unggul, mencerahkan, dan menggembirakan, serta mampu menjawab tantangan zaman melalui kepemimpinan yang literat dan profesional. *H

