YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Suasana hangat dan penuh semangat terasa dalam acara Ramah Tamah yang diselenggarakan oleh Pimpinan Pusat Forum Alumni Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (FORNI PUTM) pada Senin (06/04). Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk mempererat silaturahim antara alumni, thalabah pengabdian, serta jajaran pimpinan baru PUTM periode 2026–2030.
Acara yang diikuti peserta dari berbagai daerah di Indonesia ini tidak hanya menjadi ajang temu kangen antar angkatan, tetapi juga forum strategis untuk merumuskan arah baru peran alumni dalam menjawab tantangan umat di era modern.
Ketua FORNI, Dr. Sujino, membuka acara dengan penuh khidmat dan semangat. Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya menjadikan silaturahim sebagai sarana penguatan kolektif. “Kita bersyukur kepada Allah, malam ini bisa bersilaturahim dalam rangka penguatan bersama, sebagai sarana komunikasi, dan juga untuk memberikan support kepada pimpinan PUTM yang baru,” ujarnya.
Ia juga menyoroti kiprah alumni PUTM yang telah tersebar di berbagai bidang, mulai dari pendidikan, kaderisasi, hingga ekonomi syariah dan sosial keagamaan. Menurutnya, alumni PUTM bukan sebatas bagian dari Muhammadiyah, tetapi harus menjadi penggerak utama. “Alumni PUTM tidak hanya sebagai anggota, tetapi sebagai muharrik—penggerak—dan juga sebagai mundzir basyir di tengah umat,” tegasnya.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa tantangan ke depan semakin kompleks. Oleh karena itu, ia berharap alumni mampu meningkatkan daya saing dan peran strategisnya. “Kita berharap pertemuan ini melahirkan titik temu agar alumni bisa lebih berdaya, tidak hanya unggul dalam membaca kitab dan istinbath hukum, tetapi juga menjadi ulama yang membawa manfaat nyata bagi umat,” tambahnya.
Dalam sesi taujihat, Ketua BPH PUTM, Hamim Ilyas, menyampaikan pandangan mendalam tentang arah pembaruan Islam dan peran strategis alumni. Ia mengaku bangga melihat kekompakan alumni yang tergabung dalam FORNI. “Saya senang melihat teman-teman alumni kompak dan memiliki komitmen untuk memajukan PUTM,” ungkapnya.
Lebih jauh, ia menekankan pentingnya transformasi paradigma keberagamaan. Menurutnya, umat Islam selama ini terlalu fokus pada kesalehan individual. “Keberagamaan kita masih menekankan pada kesalehan ritual dan individu, sementara kesalehan sosial belum terbangun dengan kuat. Ini yang harus kita ubah,” jelasnya.
Ia kemudian mengaitkan hal tersebut dengan gagasan pembaruan Muhammadiyah, termasuk Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) dan fatwa terkait dam haji. “Dengan KHGT dan fatwa dam haji, kita ingin mendorong perubahan keberagamaan umat agar tidak hanya ritual, tetapi juga berdampak pada ekonomi dan sosial,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya kemandirian ekonomi umat. Menurutnya, Muhammadiyah harus mulai bergerak ke sektor industri dan ekonomi. “Kalau negara tidak optimal dalam industrialisasi, maka Muhammadiyah harus mengambil peran. Ini peluang besar bagi kita,” terangnya.
Dalam konteks global, ia bahkan membuka peluang besar bagi alumni PUTM untuk berkiprah di dunia internasional. “Kita berharap alumni PUTM ke depan bisa menjadi imam masjid, pemimpin, bahkan duta di negara-negara muslim, membawa Islam yang otentik dan berkemajuan,” ujarnya.
Sementara itu, Mudir PUTM yaitu Muhamad Rofiq Muzakkir, memilih pendekatan dialogis dalam menyampaikan arah kebijakan ke depan. Ia menyebut pertemuan ini sebagai “hiwar” atau pertukaran gagasan. “Kami ingin mendengar masukan dari para alumni. Ini bukan sebatas tausiah, tetapi dialog untuk merumuskan masa depan PUTM,” katanya.
Ia mengungkapkan bahwa periode ini telah mulai melakukan berbagai langkah strategis, termasuk Focus Group Discussion (FGD) terkait internasionalisasi dan pengembangan kurikulum. “Kita ingin alumni PUTM tidak hanya alim dalam ilmu agama, tetapi juga memiliki kemampuan global, menguasai bahasa, riset, dan memahami perkembangan zaman,” jelasnya.
Menurutnya, profil ideal alumni PUTM adalah kombinasi antara ulama, intelektual, dan penggerak masyarakat. “Alumni harus alim dalam agama, tetapi juga mampu menjadi akademisi, peneliti, dan muharrik di tengah masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya kemandirian ekonomi bagi para ulama. Tak kalah penting, ia menyoroti urgensi memahami perkembangan teknologi dan ekonomi modern, termasuk kripto dan investasi. “Perubahan dunia sangat cepat. Kita harus menyiapkan alumni yang tidak gagap menghadapi realitas baru ini,” tambahnya.
Acara ramah tamah ini ditutup dengan sesi dialog interaktif, yang semakin menegaskan bahwa sinergi antara alumni dan pimpinan menjadi kunci utama kemajuan PUTM. Dari forum ini, tampak jelas bahwa PUTM sedang bergerak menuju fase baru, tidak hanya mencetak ulama yang ahli dalam teks, tetapi juga pemimpin yang mampu menjawab tantangan global. Silaturahim ini bukan sebatas pertemuan, melainkan langkah awal menuju transformasi besar untuk melahirkan ulama Muhammadiyah yang berdaya, mandiri, dan mendunia. (Badru)
