Perempuan dan Algoritma
Oleh: Yulianti, Dosen & Peneliti Komunikasi, Universitas Islam Bandung
Algoritma tidak pernah tidur. Ia bekerja tanpa suara, tanpa wajah, tanpa jeda. Ia menentukan apa yang muncul di layar kita, berita mana yang mengemuka, isu apa yang viral, bahkan produk apa yang tiba-tiba kita butuhkan. Di era digital, algoritma menjadi kurator perhatian.
Namun di tengah dunia yang digerakkan oleh kode dan data, ada kerja lain yang tak tercatat dalam sistem: kerja perempuan menjaga relasi.
Pertanyaannya sederhana, tetapi mendasar: di tengah arus algoritma, di mana posisi perempuan? Mengatur, atau justru diatur?
Algoritma bekerja dengan logika keterlibatan. Ia mengutamakan yang ramai, yang memicu reaksi, yang membuat orang bertahan lebih lama di layar. Shoshana Zuboff dalam The Age of Surveillance Capitalism (2019) menjelaskan bagaimana ekonomi digital dibangun di atas ekstraksi perhatian dan perilaku pengguna. Setiap klik, jeda, dan respons direkam, diolah, lalu diarahkan kembali kepada kita dalam bentuk konten yang semakin personal.
Kita hidup dalam ekonomi perhatian.
Di sisi lain, Manuel Castells dalam The Rise of the Network Society (1996) menunjukkan bahwa struktur sosial modern bergerak dalam jejaring—relasi tidak lagi terikat ruang fisik, melainkan arus informasi. Dalam jaringan ini, siapa yang terlihat lebih sering, sering kali lebih dianggap berpengaruh.
Namun, di balik arus yang cepat itu, ada jenis kerja yang jarang dibicarakan: kerja menjaga suasana, meredakan konflik, mengingatkan dengan lembut, dan memastikan hubungan tetap utuh. Kerja ini sering dilakukan perempuan—baik di ruang keluarga, komunitas, maupun ruang digital.
Arlie Hochschild dalam The Managed Heart (1983) menyebutnya sebagai emotional labor—kerja emosional yang menuntut seseorang mengelola perasaan demi menjaga stabilitas sosial. Jika dulu kerja ini banyak terlihat dalam profesi layanan, hari ini ia merembes ke ruang digital.
Perempuan menjadi penjaga grup keluarga.
Pengingat ulang tahun.
Penghubung generasi tua dan muda.
Penyaring informasi agar tidak memicu konflik.
Penjaga nada agar tetap hangat.
Kerja ini tidak digaji. Tidak tercatat. Tidak pernah viral. Tetapi tanpanya, banyak relasi akan rapuh.
Di sinilah paradoks muncul.
Algoritma dirancang untuk mempercepat, memancing respons, dan memperbanyak interaksi. Tetapi perempuan sering bekerja untuk memperlambat—menenangkan, menimbang, dan merawat.
Hartmut Rosa dalam Social Acceleration (2013) menyebut zaman modern sebagai era percepatan sosial. Segalanya bergerak cepat, tetapi manusia justru merindukan resonansi—hubungan yang membuat mereka merasa benar-benar terhubung (Resonance, 2019). Resonansi tidak lahir dari banyaknya notifikasi, melainkan dari kualitas perhatian.
Di tengah percepatan itu, perempuan sering menjadi penjaga resonansi.
Ketika percakapan digital memanas, merekalah yang menulis, “Sudah, jangan diperdebatkan.”
Ketika kabar simpang siur menyebar, merekalah yang bertanya, “Sudah dicek kebenarannya?”
Ketika grup mulai sepi, merekalah yang memulai sapaan.
Kerja ini tampak kecil, tetapi efeknya besar. Ia menjaga jembatan yang tidak terlihat oleh mesin.
Dalam Islam, peran menjaga relasi bukan perkara remeh. Al-Qur’an menegaskan dalam Surah At-Taubah ayat 71:
“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain…”
Ayat ini tidak menempatkan perempuan sebagai pelengkap, melainkan sebagai mitra dalam menjaga tatanan sosial. Konsep wilayah di sini adalah kolaborasi—kerja bersama untuk kebaikan.
Lebih jauh, Surah An-Nahl ayat 97 menegaskan:
“Barang siapa beramal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka pasti Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik.”
Nilai amal tidak dibedakan oleh gender. Yang membedakan adalah kualitas niat dan dampaknya.
Dalam konteks digital, menjaga keharmonisan, merawat empati, dan memastikan relasi tetap hidup adalah bentuk amal sosial yang nyata. Ia mungkin tidak terlihat seperti aktivisme besar, tetapi ia menopang struktur kehidupan sehari-hari.
Ironisnya, algoritma tidak pernah menghitung kerja ini.
Ia menghitung klik, bukan kesabaran.
Ia menghitung komentar, bukan kebijaksanaan.
Ia menghitung durasi tonton, bukan ketulusan.
Karena itu, pertanyaan “perempuan mengatur atau diatur?” menjadi semakin relevan.
Di satu sisi, perempuan adalah pengguna yang juga dipengaruhi algoritma: terpapar standar kecantikan, tuntutan produktivitas, dan ekspektasi sosial yang terus diulang melalui konten. Algoritma bisa membentuk persepsi diri dan tekanan sosial baru.
Namun di sisi lain, perempuan juga adalah agen. Mereka bukan hanya konsumen konten, tetapi produsen nilai. Mereka membentuk budaya percakapan, menentukan nada interaksi, dan menjaga ekosistem relasi tetap manusiawi.
Algoritma mungkin mengatur arus informasi.
Tetapi perempuan sering mengatur arus perasaan.
Dalam ruang keluarga, mereka memastikan teknologi tidak memutuskan silaturahmi. Dalam komunitas, mereka merawat percakapan agar tidak berubah menjadi permusuhan. Dalam jejaring sosial, mereka menjadi pengingat bahwa di balik setiap akun ada manusia.
Hari Perempuan Internasional sering dirayakan dengan statistik partisipasi kerja atau representasi politik. Itu penting. Tetapi ada wilayah lain yang juga layak diperhatikan: peran perempuan dalam menjaga kohesi sosial di tengah sistem digital yang semakin mekanis.
Di dunia yang semakin dikendalikan oleh kecerdasan buatan, ada kecerdasan lain yang tidak kalah penting: kecerdasan empati.
Dan empati tidak pernah dihasilkan oleh algoritma. Ia dilatih, dirawat, dan diwariskan—sering kali oleh perempuan.
Maka, alih-alih hanya bertanya apakah algoritma netral atau bias, mungkin kita perlu bertanya lebih dalam: bagaimana memastikan nilai-nilai kemanusiaan tetap hidup di tengah sistem yang serba otomatis?
Jika algoritma menentukan apa yang kita lihat, siapa yang menentukan bagaimana kita memperlakukan satu sama lain?
Di sanalah peran perempuan menjadi strategis.
Mereka mungkin tidak menulis kode.
Tetapi mereka menulis pesan yang menenangkan.
Mereka mungkin tidak merancang sistem.
Tetapi mereka merawat hubungan di dalamnya.
Di tengah dunia yang bergerak cepat dan terhitung, kerja perempuan sering berlangsung sunyi—tetapi menentukan.
Algoritma boleh saja mengatur arus.
Namun kemanusiaan tetap ditentukan oleh siapa yang merawatnya.
Dan dalam banyak ruang—keluarga, komunitas, dan jejaring digital—perempuan masih menjadi penjaga yang paling setia.
Selamat Hari Perempuan Internasional 8 Maret

