JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Sidang Pleno ke-11 Kongres Umat Islam Indonesia VIII tak ubahnya acara perenungan dosa-dosa. Seperti yang kita pernah tonton di TV. Bagaimana tidak, disepanjang pemateri menyampaikan khutbahnya, selalu terselip sebuah pertanyaan tentang kepercayaan. Anda percaya atau tidak kalau suatu hari minyak bumi, baru bara, atau mineral lain di dalam bumi Indonesia akan habis.
Jawaban pun beragam, ada yang memilih percaya, tak jarang yang tidak percaya bahwa minta bumi akan habis, sebagian sisanya tidak mengacuhkan jari tanda tidak memilih satupun. Arcandra Tahar pun menyebut kelompok yang terakhir ini sebagai kelompok yang tidak memiliki kepercayaan. Audience pun tertawa.
Membahas tema tentang Ketahanan Energi Nasional, mantan orang nomor wahid di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra membuka diskusi dengan sebuah pertanyaan mendasar. Apa yang dimaksud dengan, "Digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat" sebagaimana tertuang di dalam pembukaan Undang-undang Dasar (UUD) 1945. Namun ada satu pertanyaan yang jauh lebih urgent dan konkrit "Bagaimana cara mewujudkannya." Para peserta yang hadir di ballroom Hotel Bidakara, Jakarta Selatan termenung, tampak serius memikirkan sesuatu.
Untuk mengelola sumberdaya alam agar berdampak besar bagi kemakmuran rakyat, setidaknya ada empat poin pentingnya yang disampaikan Arcandra. Pertama, siapa yang saat ini mengelola sumberdaya alam Indonesia. Apakah mereka putra-putri terbaik bangsa, atau orang dengan status WNA. Kedua, apakah teknologi yang digunakan adalah teknologi buatan sendiri, atau malah milik negara asing.
Ketiga, pada ranah pendanaan, siapa yang terlibat dalam investasi di sektor sumberdaya alam Indonesia. Apakah mereka warga negara Indonesia atau bahkan warga negara asing. Dan yang keempat, apakah hasil dari pengelolaan sumberdaya alam ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, atau malah lari ke luar negeri.
Di forum yang dihadiri para kiai, ulama dan tokoh agama, Arcandra mengajak kita untuk merenung dan berpikir. Tentang potensi alam Indonesia yang begitu besar. Namun sayang, dalam pengelolaan hingga hasilnya dimanfaatkan oleh negara asing.
Diakhir sesi tak ada jawaban. Hanya tersisa renungan yang harus dibawa pulang. Tentang kapan bangsa ini dapat berdaulat secara penuh dalam menjalankan amanat UUD 1945. (diko)

