Perguruan Tinggi Muhammadiyah Bukan Pemain Figuran, Bidik Reputasi Akademik hingga Internasionalisasi

Suara Muhammadiyah

25 July 2026

352
Prof Ahmad Muttaqin, SAg., MAg., MA., PhD

Prof Ahmad Muttaqin, SAg., MAg., MA., PhD

MEDAN, Suara Muhammadiyah – Muhammadiyah begitu rupa dalam menggarap misi mencerdaskan kehidupan bangsa. Maujudnya, dengan mendirikan lembaga pendidikan, yakni perguruan tinggi, yang saat ini jumlahnya mencapai 165, tersebar di seluruh Indonesia.

“(Dari) 165 ini terdiri dari 11 di bawah koordinasi Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, dan 164 di bawah koordinasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah di bawah Majelis Diktilitbang,” ujar Ahmad Muttaqin.

Dilaporkan Muttaqin, awal bulan Juli 2026, Politeknik 'Aisyiyah Batam resmi beroperasi. Hal ini berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 654/B/O/2026.

“Saat ini, masih ada 2 perguruan tinggi Muhammadiyah lagi yang sedang berproses di Papua, salah satunya di Merauke dan Timika,” kata Sekretaris Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian Dan Pengembangan Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu.

Jauh daripada itu, saat ini, banyak masyarakat menaruh perhatian begitu rupa kepada Muhammadiyah. Bukti konkretnya apa? Muhammadiyah menerima hibah salah satu sekolah tinggi ilmu tarbiyah di Ketapang, Kalimantan Barat.

“Itu diserahkan izin operasionalnya, sekaligus tanah dan bangunannya untuk dikelola dan diserahkan kepada Muhammadiyah,” beber Muttaqin.

Di sinilah menunjukkan, Muhammadiyah dalam menggarap misi mencerdaskan kehidupan bangsa tidak main-main. Serius, fokus, dan tersistematisasi dengan baik dengan wujud nyata.

“Muhammadiyah dalam konteks perguruan tinggi, saya kira bukan pemain figuran, tapi kita adalah bagian dari aktor utama,” tegasnya.

Karena itu, dipaparkan saat Pelantikan Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, Sabtu (25/7), Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah telah menetapkan kompas strategis dalam pengembangan perguruan tinggi. Pertama, reputasi akademik, kedua, memberikan dampak nyata (social impact), ketiga, melakukan internasionalisasi berdampak.

Berikutnya yang keempat, transformasi menuju “Unggul”, kelima, penguatan ideologi dan Al Islam dan Kemuhammadiyahan, dan yang keenam, yaitu tata kelola yang unggul.

“Unggul dalam perguruan tinggi Muhammadiyah harus unggul yang seunggul-unggulnya. Unggul yang diperoleh melalui proses akreditasi BAN-PT bukan garis finish, tapi itu starting point (titik awal) untuk menuju keunggulan-keunggulan yang lebih berdampak,” tegasnya lagi.

Muttaqin mengingatkan, untuk mencapai ke titik itu, niscaya menuntut transformasi absolut pada enam dimensi fundamental. Apa saja? Di antaranya meliputi unggul, berkemajuan, berdaya saing, berkelanjutan, berdampak, dan diminati dan laku.

“Kita pastikan memberikan manfaat kepada orang lain,” tandasnya. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

KEBUMEN, Suara Muhammadiyah - Pada puncak acara Jambore Nasional 1 Jamaah Tani Muhammadiyah yang ber....

Suara Muhammadiyah

21 September 2025

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Reza Firdaus mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Jak....

Suara Muhammadiyah

13 March 2024

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Tentara Nasional Indonesia (TNI) merayakan ulang tahun ke 79 ....

Suara Muhammadiyah

5 October 2024

Berita

Reformasi Pendidikan Menjadi Kuncinya YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Himpunan Mahasiswa Pascasarj....

Suara Muhammadiyah

7 May 2025

Berita

SURABAYA, Suara Muhammadiyah - Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) SD/MI Muhammadiyah Kota Surabaya ....

Suara Muhammadiyah

13 August 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah