Peringkat Keempat Dunia ScholarGPS, Dosen Farmasi UMY Dorong Inovasi Kebutuhan Pasien

Foto Istimewa
Foto Istimewa

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Dosen Program Studi Farmasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. apt. Muhammad Thesa Ghozali, M.Sc., masuk jajaran Highly Ranked Scholars ScholarGPS edisi 2026. Ia menempati peringkat keempat dunia pada topik keahlian khusus mobile app atau aplikasi seluler untuk kategori kinerja penelitian lima tahun terakhir.

Capaian tersebut berkaitan dengan konsistensi penelitiannya dalam memanfaatkan teknologi digital untuk edukasi pasien. Melalui pengembangan aplikasi seluler, Ghozali berupaya membantu pasien memahami penyakit dan langkah-langkah pengelolaannya.

Selain Ghozali, Rektor UMY, Prof. Dr. Achmad Nurmandi, M.Sc., juga masuk daftar Highly Ranked Scholars edisi 2026.

ScholarGPS merupakan platform analitik akademik yang memetakan profil dan kinerja penelitian berdasarkan publikasi ilmiah. Pemeringkatannya menggunakan indikator produktivitas publikasi, dampak yang diukur melalui sitasi, serta indeks-h sebagai indikator bibliometrik yang disebut platform tersebut sebagai ukuran kualitas.

Predikat Highly Ranked Scholar diberikan kepada peneliti yang masuk kelompok 0,05 persen teratas dalam kategori pemeringkatan tertentu. Penilaian tersedia untuk rekam jejak sepanjang karier maupun kinerja lima tahun terakhir, dengan memperhitungkan kontribusi kepenulisan dan pengecualian sitasi terhadap karya sendiri. 

Posisi keempat Ghozali merujuk pada kategori khusus mobile app dalam periode lima tahun terakhir, bukan peringkat keseluruhan peneliti dunia.

Berdasarkan profil ScholarGPS yang menjadi rujukan capaian tersebut, Ghozali tercatat memiliki 74 publikasi, terdiri atas 61 artikel jurnal, 11 makalah konferensi, dan dua bab buku. Sebanyak 28 publikasi terbit pada 2025, sedangkan 70 publikasi mencantumkan afiliasi UMY.

Topik penelitiannya antara lain terkait asma dengan 13 publikasi, aplikasi seluler dengan sembilan publikasi, dan diabetes dengan delapan publikasi.

Ghozali mulai menekuni penelitian aplikasi seluler sekitar 2017. Ketertarikannya berawal dari pemanfaatan informatika dan sistem informasi untuk mendukung manajemen farmasi.

Saat itu, ia menemukan penelitian mengenai aplikasi seluler yang terbit sekitar 2015. Temuan tersebut mendorongnya mengeksplorasi penerapan teknologi serupa dalam pelayanan kesehatan, khususnya edukasi pasien.

“Saya kemudian terpikir, kenapa tidak diterapkan langsung oleh tenaga kesehatan, dalam hal ini farmasi, kepada pasien. Saat itu pengguna ponsel kebanyakan usia muda, jadi saya mencari penyakit yang banyak diderita di usia tersebut, dan salah satunya asma,” ujar Ghozali saat diwawancarai secara daring pada Rabu (28/10).

Gagasan itu diwujudkan melalui pengembangan aplikasi untuk pasien asma. Penelitian tersebut juga menjadi bagian dari disertasinya.

Pandemi COVID-19 kemudian memperluas arah risetnya. Perkembangan telemedisin, telefarmasi, dan Internet of Things mendorong Ghozali mengeksplorasi inovasi digital untuk mendukung pelayanan kesehatan.

Penelitiannya berkembang untuk beragam kebutuhan, mulai dari penilaian kondisi asma hingga pengelolaan diabetes.

“Ada hipotesis bahwa semakin paham pasien tentang penyakitnya dan langkah awal cara menangani kondisinya, kekambuhannya bisa menurun. Intinya, kita ingin meningkatkan pengetahuan pasien, dan pasien dapat melakukan apa yang sudah ia ketahui,” jelas Ghozali.

Ghozali menyambut pengakuan ScholarGPS sebagai dorongan untuk terus mengembangkan inovasi dan memperkuat kontribusi akademik UMY.

Menurutnya, berbagai inovasi di UMY perlu didukung publikasi ilmiah dan penyebarluasan informasi agar manfaatnya lebih dikenal masyarakat. Hasil penelitian juga perlu diarahkan untuk menjawab kebutuhan nyata, termasuk membantu pasien memahami dan mengelola kondisi kesehatannya.

Pengembangan aplikasi edukasi pasien menjadi salah satu bentuk pemanfaatan teknologi untuk memperluas akses informasi kesehatan. Melalui pendekatan tersebut, pengetahuan tenaga kesehatan dapat disampaikan dalam format yang lebih mudah dijangkau pasien.

Bagi Ghozali, konsistensi riset dan kolaborasi akademik menjadi bekal untuk terus mengembangkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan pelayanan kesehatan. (ID)