YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Perubahan nomenklatur Bidang Ipmawati menjadi Bidang Pengarusutamaan Gender tidak lahir dalam waktu singkat. Di balik perubahan tersebut terdapat perjalanan panjang pemikiran organisasi yang terus berkembang mengikuti dinamika zaman, kebutuhan kader, serta komitmen Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) dalam membangun gerakan yang semakin adil dan inklusif.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam diskusi yang diselenggarakan Bidang Pengarusutamaan Gender PP IPM secara daring, Ahad (28/6). Forum ini mengajak kader IPM memahami bahwa perubahan nomenklatur bukanlah perubahan nilai dasar organisasi, melainkan perubahan pendekatan dalam memandang peran kader di dalam gerakan yang semakin berkemajuan.
Pemateri menjelaskan bahwa pengarusutamaan gender tidak dimaksudkan untuk mengambil alih peran perempuan ataupun menempatkan laki-laki dan perempuan sebagai pihak yang saling berhadapan. Sebaliknya, perspektif gender hadir untuk membangun cara pandang yang saling memahami serta mengoreksi sistem dan kultur organisasi yang tanpa disadari dapat melahirkan ketimpangan.
Dalam pemaparannya dijelaskan bahwa konsep seks dan gender memiliki makna yang berbeda. Seks merupakan jenis kelamin yang bersifat biologis atau kodrati, sedangkan gender merupakan konstruksi sosial yang dibentuk oleh budaya dan lingkungan. Perbedaan inilah yang kemudian menjadi dasar berkembangnya berbagai pendekatan dalam gerakan gender di tingkat global.
Perkembangan tersebut dimulai dari pendekatan gender blind, kemudian berkembang menjadi gender aware, gender specific, gender redistributive, hingga gender mainstreaming. Di Indonesia, pendekatan tersebut dikenal sebagai Pengarusutamaan Gender (PUG), yakni strategi untuk memastikan perspektif gender hadir dalam setiap kebijakan, program, dan proses pengambilan keputusan.
Dalam konteks IPM, semangat tersebut sesungguhnya telah tumbuh sejak dibentuknya Bidang IRMawati pada tahun 2006. Kehadiran bidang tersebut menjadi respons atas masih terbatasnya ruang partisipasi kader perempuan dalam organisasi. Perjalanan tersebut kemudian berlanjut melalui Bidang IPMawati hingga kini berkembang menjadi Bidang Pengarusutamaan Gender sebagai bentuk penyesuaian terhadap kebutuhan gerakan.
Pemateri juga menjelaskan bahwa pada periode 2014 - 2016 Bidang IPMawati sempat dihapus dengan harapan perempuan dapat hadir di seluruh bidang organisasi tanpa sekat. Namun, pengalaman menunjukkan bahwa berbagai isu strategis yang dihadapi pelajar perempuan, seperti kesehatan reproduksi, kekerasan seksual, ruang aman, dan kebutuhan kader perempuan lainnya, justru kurang mendapatkan perhatian secara khusus.
Karena itu, perubahan nomenklatur menjadi Bidang Pengarusutamaan Gender bukan dimaksudkan untuk mendahulukan perempuan ataupun menggantikan perjuangan Bidang Ipmawati. Sebaliknya, perubahan tersebut bertujuan menghadirkan perspektif gender sebagai arus utama yang melekat pada seluruh bidang organisasi sehingga setiap kebijakan dan program mampu menjawab kebutuhan seluruh kader, baik Ipmawan maupun Ipmawati.
Muhammadiyah sendiri telah memiliki fondasi kuat dalam membangun kesetaraan melalui gerakan Aisyiyah. Sejak awal, perempuan diposisikan sebagai mitra sejajar dalam gerakan dakwah dan tajdid. Warisan semangat inilah yang kemudian menjadi landasan bagi IPM untuk terus mengembangkan pendekatan yang lebih relevan dengan tantangan pelajar masa kini.
Perjalanan pemikiran IPM mengenai perempuan pun mengalami perkembangan yang signifikan, mulai dari memandang perempuan sebagai objek, kemudian sebagai peserta, kader, pemimpin, hingga akhirnya menghadirkan gender sebagai perspektif yang mewarnai seluruh gerak organisasi. Dengan demikian, perubahan nomenklatur bukan sekadar pergantian nama bidang, melainkan penanda berkembangnya cara berpikir organisasi dalam membangun gerakan yang lebih inklusif.
Ketua Bidang IPMawati PP IPM periode 2016 - 2018, Uswatun Hasanah, S.Psi., M.A., menegaskan bahwa perjalanan Bidang Ipmawati merupakan proses pembelajaran organisasi yang terus berkembang.
"Sejarah IPMawati bukanlah sejarah tentang lahir dan bergantinya sebuah bidang. Sejarah IPMawati adalah sejarah tentang keberanian organisasi untuk mendengar suara yang selama ini kurang terdengar, mengoreksi dirinya sendiri, dan terus belajar menjadi lebih adil," ujarnya.

