MANOKWARI, Suara Muhammadiyah – Dalam upaya melahirkan generasi muda yang peduli lingkungan melalui pendekatan yang inklusif, tim pendamping program GreenAbility melaksanakan agenda pemetaan jaringan lintas iman di Pulau Mansinam, Manokwari. Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian pengembangan modul pembelajaran konservasi bagi SMA Muhammadiyah Conservation (SMAMCO) Manokwari ini bertujuan untuk mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dan moral ke dalam kurikulum pendidikan lingkungan.
Agenda hari ketiga ini melibatkan kolaborasi strategis antara berbagai unsur, di antaranya para guru SMAMCO Manokwari, akademisi dari Universitas Muhammadiyah Manokwari, serta pengurus wilayah Muhammadiyah dan Pemuda Muhammadiyah Papua Barat. Kehadiran berbagai elemen ini menegaskan komitmen kolektif dalam membangun model pendidikan konservasi yang berakar pada realitas sosial dan budaya di Tanah Papua.
Mansinam: Simbol Toleransi dan Titik Balik Sejarah
Pemilihan Pulau Mansinam sebagai pusat kegiatan refleksi bukan tanpa alasan. Sebagai situs sejarah tempat mendaratnya dua misionaris Jerman, Carl Wilhelm Ottow dan Johann Gottlob Geissler pada 5 Februari 1855, pulau ini merupakan simbol lahirnya peradaban baru dan penyebaran agama Kristen Protestan di Papua.
"Mansinam bukan sekadar destinasi sejarah, melainkan ruang refleksi tentang bagaimana nilai-nilai keberagaman dan toleransi telah tumbuh lama di Manokwari. Kami percaya bahwa semangat menjaga alam adalah bahasa universal yang melampaui batas-batas perbedaan keyakinan," ujar perwakilan tim GreenAbility di sela-sela diskusi.
Integrasi Teologi dalam Pendidikan Konservasi
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan diskusi mendalam yang melibatkan tokoh dan praktisi dari latar belakang agama Islam, Protestan, dan Katolik. Diskusi ini menghasilkan gagasan krusial: menjadikan teologi sebagai fondasi etis dalam menjaga lingkungan.
Para peserta menyepakati bahwa pendidikan konservasi tidak boleh hanya terpaku pada aspek saintifik atau ilmiah semata. Dengan memasukkan perspektif teologis dari berbagai agama, siswa diharapkan mampu melihat aktivitas menjaga alam sebagai sebuah panggilan spiritual dan amanah moral.
"Kami ingin siswa SMAMCO memahami bahwa menjaga hutan dan biodiversitas Papua bukan hanya tugas ekologis, tetapi merupakan bentuk ibadah dan tanggung jawab kita sebagai manusia kepada Sang Pencipta. Integrasi narasi lintas iman dalam modul ini akan memperkuat motivasi intrinsik siswa dalam menjaga bumi sebagai rumah bersama," tambahnya.
Membangun Masa Depan Hijau yang Inklusif
Hasil dari kunjungan dan pemetaan di Pulau Mansinam ini akan segera dituangkan dalam draf modul pembelajaran konservasi SMAMCO. Melalui pendekatan partisipatif ini, program GreenAbility berharap SMAMCO Manokwari dapat menjadi pionir lembaga pendidikan yang mampu menyatukan kecerdasan ekologis dengan kearifan lokal serta nilai-nilai lintas iman.
Kegiatan ini ditutup dengan sesi diskusi reflektif dan makan malam bersama di Kota Manokwari, yang semakin mempererat jejaring kolaborasi antara lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, dan tokoh agama demi kelestarian alam di Tanah Papua.
