YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Ada sebuah adagium Bugis, rebba sipatokkong, malelu sipakainge. Padaidi padaelo, sipatuo sipatokkong, yang artinya kurang lebih, ”Jika hanyut saling mengaitkan (menolong), jika tumbang saling menegakkan, jika lupa saling mengingatkan.”
Demikian Dany Rahmat Muharram, Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah mengatakan saat pengukuhan formasi PP IPM periode 2026-2028, Ahad (12/4) di Amphitarium lantai 9 Gedung KH. Ahmad Dahlan, Kampus 4 Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta.
“Falsafah inilah yang menjadi roh kedatangan saya di hadapan para hadirin sekalian,” katanya, yang disaksikan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir, Ketua PP Muhammadiyah Muhammad Busyro Muqoddas, Ketua PP Muhammadiyah Irwan Akib, Ketua PP ‘Aisyiyah Siti Aisyah, dan jajaran pimpinan ortom lainnya.
Dany menyingkap, pengukuhan ini bukan sekadar sebatas kulit seremonial. Tetapi, lebih substansialnya, sebagai titik picu penguatan komitmen terhadap laju pergerakan IPM di persada kehidupan.
“Di pundak kitalah tersemat lambang pena. yang bukan hanya menjadi pajangan kain, tetapi sebagai simbol tanggung jawab intelektual dan moral untuk pelajar yang ada di seluruh Indonesia,” terangnya.
Visi utama yang diusung IPM dalam periode ini yaitu “Arah Baru IPM: Membumikan Gerakan, Mencerdaskan Semesta.” Bagi Dany, visi tersebut meniscayakan respons atas kegundahan perubahan zaman yang amat kompleksitas dan sarat tantangan yang tidak mudah.
“Kita hidup di era di mana informasi melimpah ruah, namun makna sering hilang. Kita hidup di mana informasi ini dan teknologi melesat begitu cepat, namun empati terkadang melambat,” bebernya.
Karenanya, ke depan, IPM tidak boleh sampai terkurung dalam urusan formal dan administrasi. Apalagi, hanya sekadar rapat, tapi minus melakukan aktualisasi nyata di lapangan kehidupan.
Sementara pelajar di akar rumput sendirian masih menghadapi aneka permasalahan yang mesti mendapat dukungan. Pokok mendasarnya seperti melawan perundungan, melawan depresi, dan ketidakpastian masa depan.
“Kita harus turun ke sekolah-sekolah, turun ke madrasah-madrasah, hingga ke komunitas-komunitas pelajar di pelosok desa. Kita ingin menciptakan sebuah realitas baru bahwa di mana ada masalah pelajar, di situ ada IPM yang menyelesaikan,” beber Dany.
Sementara, konteks mencerdaskan semesta, sebutnya, sebagai sifat melampaui (beyond). Bukan dipandang sekadar cendekia semata, tetapi aksi nyata dengan menjelma sebagai agen pencerahan.
“Ini adalah panggilan rahmatan lil alamin. Arah baru ini menuntut kita untuk menjadi organisasi yang inklusif, adaptif, namun tetap teguh memegang prinsip dakwah amar makruf nahi mungkar,” tandasnya.
Dany mengajak seluruh kader IPM di berbagai tingkatan untuk bergerak bersama. Dan juga menjadikan IPM sebagai kekuatan utama perubahan di kalangan pelajar.
“Jangan biarkan IPM hanya menjadi catatan kaki dalam sejarah pelajar Indonesia. Jadikan IPM sebagai judul utama dari setiap perubahan positif di negeri ini,” pungkasnya. (Cris)
