Prof Hamim Ilyas: Ilmu, Keramahan, dan Jejak Akhlak Mulia

Publish

13 June 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
83
Prof Hamim Ilyas

Prof Hamim Ilyas

Oleh: Muhammad Ridha Basri

Kepergian orang-orang baik selalu menyisakan ruang kosong yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Ada sesuatu yang terasa ikut pergi bersama mereka: kehangatan, kebijaksanaan, keteladanan, dan sering kali sebuah cara memandang hidup yang selama ini diam-diam menerangi banyak orang.

Pada 23 Mei 2026, Prof Dr KH Hamim Ilyas berpulang. Duka tidak hanya menyelimuti keluarga dan murid-muridnya, tetapi juga mereka yang pernah bersentuhan dengan gagasan, kebaikan, dan ketulusan yang beliau tebarkan sepanjang hidup. Sebab, kehilangan seorang ulama bukan sekadar kehilangan seorang individu. Kita kehilangan satu mata air yang selama ini mengalirkan pengetahuan, kebijaksanaan, dan keteduhan.

Saya mengenal nama Hamim Ilyas sejak menjadi mahasiswa di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada 2012. Saat itu saya kuliah di Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, sementara beliau mengajar di Fakultas Syariah dan Hukum. Dua fakultas ini memiliki sejarah panjang sebagai rumah bagi para pemikir besar yang membentuk wajah intelektual Islam Indonesia.

Fakultas Syariah pernah melahirkan tokoh-tokoh seperti Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy dan Asjmuni Abd. Rahman. Sementara Fakultas Ushuluddin dikenal melalui nama-nama besar seperti Simuh dan Mukti Ali. Generasi berikutnya terus melanjutkan tradisi itu. Dari Ushuluddin lahir Amin Abdullah, Siti Ruhaini Dzuhayatin, hingga Fahruddin Faiz. Dari Syariah muncul Syamsul Anwar, Yudian Wahyudi, Noorhaidi Hasan, dan tentu saja Hamim Ilyas.

Namun, berbeda dengan sebagian intelektual yang menonjol karena kehadiran publiknya, Hamim Ilyas tidak pernah tampak berisik. Beliau bukan tipe akademisi yang selalu hadir di panggung-panggung atau menjadi pusat perhatian. Tetapi justru karena itulah namanya selalu muncul di forum-forum yang penting. Ia hadir bukan karena mencari sorotan, melainkan karena bobot keilmuan dan integritas yang membuat kehadirannya dibutuhkan.

Nama beliau semakin sering saya dengar ketika aktif di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Di kalangan kader Muhammadiyah, Hamim Ilyas dikenal sebagai salah satu pemikir yang konsisten mengembangkan pembacaan Islam yang berkemajuan, inklusif, dan berakar kuat pada Al-Qur'an.

Kedekatan saya dengan pemikiran beliau semakin bertambah ketika menjadi wartawan Suara Muhammadiyah pada 2016. Dalam berbagai isu keagamaan yang membutuhkan perspektif mendalam, nama Hamim Ilyas hampir selalu masuk dalam daftar narasumber yang layak diwawancarai. Beliau adalah salah satu rujukan yang dipercaya mampu menjelaskan persoalan-persoalan kompleks dengan bahasa yang jernih dan menenangkan.

Di kantor Suara Muhammadiyah, rapat redaksi setiap Selasa hampir selalu ditemani oleh almarhum Buya Ahmad Syafii Maarif. Forum itu sering berubah menjadi ruang percakapan keilmuan yang hidup. Buya Syafii membagikan kegelisahan, hasil bacaan, dan refleksi-refleksi intelektualnya. Semua orang bebas menyampaikan pandangan dan berbeda pendapat.

Suatu hari, Buya bercerita panjang tentang sebuah buku yang baru selesai dibacanya. Dengan antusias ia mengulas berbagai gagasan yang terkandung di dalamnya. Buku itu berjudul Fikih Akbar: Prinsip-Prinsip Teologis Islam Rahmatan Lil 'Alamin, karya Hamim Ilyas yang terbit pada 2018.

Buya tidak hanya mendiskusikannya dalam rapat. Ia kemudian menuliskan refleksinya dalam dua tulisan di kolom Resonansi Harian Republika dengan judul “Al-Islam: Din wa Ni'mah wa Rahmah.” Dari situ saya semakin memahami betapa serius dan pentingnya sumbangan intelektual Hamim Ilyas dalam membangun teologi Islam yang berorientasi pada rahmat dan kemanusiaan.

Sekitar masa pandemi Covid-19, saya memperoleh kesempatan yang lebih berharga: belajar langsung dari beliau. Di Masjid As-Salam, tidak jauh dari rumahnya, Hamim Ilyas mengajak beberapa anak muda untuk mengaji bersama tentang Fikih Akbar. Jumlah kami hanya tujuh orang. Kami berkumpul seminggu sekali dalam suasana yang sederhana dan akrab.

Beliau memperkenalkan kami pada aplikasi Al-Bahisul Qur'ani. Metode pengajiannya menarik. Kami tidak sekadar mendengar ceramah, tetapi diajak menelusuri ayat, membandingkan penafsiran, dan berdialog dengan berbagai kitab tafsir yang tersedia dalam aplikasi tersebut. Beliau tidak mengajar dengan cara menggurui. Ia mengajak kami berpikir bersama.

Dari situ saya belajar bahwa bagi Hamim Ilyas, ilmu bukan sesuatu yang selesai. Ilmu adalah proses pencarian yang terus berlangsung. Sayangnya, forum pengajian ini tidak berlangsung lama. Banyak dari kami tidak selalu bisa hadir secara rutin. Pandemi berlalu. Kesibukan demi kesibukan baru kembali menghampiri. Dan forum pengajian ini pun perlahan bubar.

Suatu ketika saya mengantar Andar Nubowo, salah satu punggawa Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) yang saat itu sedang menempuh studi doktoral di Prancis, untuk mewawancarai beliau di Yogyakarta. Pertemuan berlangsung di sebuah rumah makan Sunda di kawasan Timoho.

Obrolan yang awalnya direncanakan singkat berubah menjadi diskusi panjang selama berjam-jam. Dari tauhid rahamutiyah, Tafsir At-Tanwir, pemberdayaan zakat, dinamika Islam Indonesia pasca kasus Ahok, hingga fenomena gerakan Islam transnasional, beliau menguraikan berbagai gagasan dengan cara yang tenang namun menggugah. Tidak ada kesan menggurui. Tidak ada upaya menunjukkan superioritas intelektual. Yang hadir justru percakapan yang hidup dan mencerahkan.

Pada kesempatan lain, Ahmad Fuad Fanani yang sedang studi doktoral di Australia meminta bantuan saya mencari salah satu buku Hamim Ilyas yang sudah langka: Dan Ahli Kitab Pun Masuk Surga: Pandangan Muslim Modernis terhadap Keselamatan Non-Muslim (2005). Setelah mencarinya di berbagai toko buku tanpa hasil, saya pun datang ke rumah beliau untuk meminta izin meminjam dan memfotokopinya.

Dari kunjungan-kunjungan semacam itulah saya mengenal sisi lain Hamim Ilyas yang mungkin tidak tercatat dalam buku-buku ataupun daftar jabatan akademiknya. Beliau selalu menyambut tamu dengan penuh antusias. Percakapan berlangsung hangat dan tidak tergesa-gesa. Namun yang paling membekas justru terjadi saat pertemuan berakhir.

Beliau akan mengantar tamu hingga ke gerbang rumahnya yang sederhana. Ketika saya membereskan barang di atas motor dan bersiap pulang, beliau tetap berdiri di sana. Ia tidak segera masuk ke rumah. Ia menunggu sampai tamunya benar-benar meninggalkan gang dan tidak lagi terlihat. Awalnya saya mengira itu kebetulan. Ternyata tidak. Berulang kali saya datang ke rumahnya, kebiasaan itu selalu terulang. Beliau selalu mengantar dan menunggu sampai tamu benar-benar pulang.

Padahal saat itu beliau sudah sepuh. Saya hanyalah anak muda berusia dua puluhan tahun yang bukan siapa-siapa. Beliau memiliki banyak kesibukan dan tanggung jawab yang jauh lebih penting daripada berdiri beberapa menit di depan gerbang. Namun ia tetap melakukannya. Mungkin bagi sebagian orang itu hal kecil. Tetapi justru dari hal-hal kecil semacam itulah seseorang memperlihatkan kualitas dirinya yang sesungguhnya. Adab seperti itu terasa semakin langka hari ini.

Kehangatan Hamim Ilyas juga hadir secara alami. Orang dapat merasakan energi positif ketika berada di dekatnya. Ia bukan sosok yang banyak berbicara, tetapi kehadirannya membuat orang merasa nyaman. Dalam banyak percakapan, beliau tidak sibuk menunjukkan pengetahuan yang dimilikinya. Sebaliknya, sering kali beliau yang lebih dahulu bertanya tentang kehidupan, pekerjaan, atau kegelisahan lawan bicaranya. Ia membuat orang lain merasa dihargai. Di situlah letak salah satu keistimewaannya.

Hamim Ilyas adalah tipe ulama yang menjadikan ilmu sebagai jalan pencerahan, bukan alat untuk meninggikan diri. Intelektualitas tidak beliau tampilkan sebagai menara gading yang jauh dari kehidupan masyarakat. Ia hadir dalam bahasa yang sederhana, argumentasi yang jernih, dan sikap yang menghormati perbedaan.

Dalam berbagai gagasannya selalu tampak keyakinan yang sama: agama harus menjadi rahmat yang memuliakan manusia. Agama tidak boleh berubah menjadi instrumen yang melahirkan ketakutan, kebencian, atau permusuhan.

Karena itu, banyak orang merasa dekat dengannya, bahkan ketika tidak pernah menjadi murid langsungnya.

Dalam tradisi Islam, ilmu tidak diwariskan melalui buku semata. Ilmu hidup melalui manusia yang menghidupinya. Para ulama klasik mengajarkan bahwa sanad bukan hanya rantai nama yang menghubungkan guru dan murid, melainkan juga rantai keteladanan yang menghubungkan karakter, adab, dan cara hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dalam pengertian itulah Hamim Ilyas merupakan salah satu mata rantai penting dalam tradisi keilmuan Islam Indonesia. Ia mewariskan gagasan, sekaligus cara berpikir, cara berdialog, cara berbeda pendapat, dan cara memandang manusia dengan penuh penghormatan. Warisan seperti itu jauh lebih sulit digantikan dibandingkan jabatan, gelar akademik, atau posisi kelembagaan apa pun.

Kepergian seorang ulama memang selalu meninggalkan kekosongan. Namun pada saat yang sama, kepergian itu mengingatkan kita tentang tanggung jawab untuk menjaga dan melanjutkan warisan yang telah ditinggalkannya.

Prof Hamim Ilyas telah menuntaskan perjalanannya sebagai pencari, pengajar, dan penyampai ilmu. Yang tersisa bagi kita sekarang adalah tugas yang tidak ringan: memastikan agar mata air pengetahuan, kebijaksanaan, dan kemanusiaan yang beliau wariskan tidak mengering bersama kepergiannya.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Puasa dan Ketahanan Keluarga Oleh: Dr. M. Samson Fajar, M.Sos.I., Dosen UM Metro Hari pertama Rama....

Suara Muhammadiyah

11 March 2024

Wawasan

Refleksi Milad ke-60, Menuju IMM Progresif di Masa Depan Oleh: Muhammad Ikhlas Prayogo, Sekertaris ....

Suara Muhammadiyah

17 March 2024

Wawasan

Oleh: Dodok Sartono SE, MM  Muhammadiyah sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia terus ....

Suara Muhammadiyah

26 November 2024

Wawasan

Sabar dan Syukur, Dua Sayap Menuju kebahagiaan  Oleh: Muhammad Fitriani, Bina rohani RS Islam ....

Suara Muhammadiyah

15 October 2025

Wawasan

Oleh: Cristoffer Veron P, Sekretaris Pimpinan Cabang Muhammadiyah Jetis Yogyakarta. Mahasiswa Progra....

Suara Muhammadiyah

3 December 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah