Rasio Dokter Indonesia Disebut Jauh dari Standar WHO

Publish

3 December 2025

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
404
Foto Istimewa

Foto Istimewa

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Ketersediaan tenaga medis di fasilitas kesehatan dasar masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Data BPJS Kesehatan menunjukkan bahwa terdapat 454 puskesmas yang belum memiliki dokter umum dan 2.375 puskesmas tanpa dokter gigi. Kondisi ini berdampak langsung terhadap kualitas layanan primer dan memperbesar beban pembiayaan negara, terutama sejak implementasi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Dr. dr. Arlina Dewi, M.Kes., AAK, menjelaskan bahwa minimnya tenaga medis di level primer membuat puskesmas tidak dapat menjalankan fungsi strategisnya sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan masyarakat. Padahal dalam sistem JKN, dokter umum berperan sebagai gatekeeper yang menentukan alur layanan.

“Kalau gatekeeper tidak berfungsi, alur sistem kesehatan menjadi berantakan. Rumah sakit menerima pasien yang seharusnya ditangani di layanan primer, sementara kasus yang semestinya ditangani dokter spesialis justru tertunda. Ini bukan hanya soal jumlah dokter, tetapi juga distribusi yang tidak merata,” ujar dr. Arlina dalam sesi daring, Senin (1/12).

Peningkatan jumlah rujukan berimbas pada naiknya beban biaya negara. Layanan kesehatan yang seharusnya dapat diselesaikan oleh dokter primer akhirnya ditangani oleh dokter spesialis di rumah sakit, yang biayanya jauh lebih tinggi.

Situasi ini kian berat karena ketersediaan dokter Indonesia masih jauh dari standar ideal. WHO menetapkan rasio satu dokter untuk setiap 1.000 penduduk. Dengan populasi Indonesia mencapai 278 juta jiwa, idealnya dibutuhkan sedikitnya 278 ribu dokter. Namun hingga saat ini, jumlah dokter umum baru berada di kisaran 180 ribu, sedangkan dokter gigi hanya sekitar 43 ribu.

“Jumlah dokter kita memang belum mencukupi. Dokter gigi lebih sedikit lagi, dan distribusinya sangat timpang. Banyak dokter memilih bertugas di kota besar karena fasilitas lebih lengkap, sementara di daerah 3T puskesmas bahkan tidak memiliki satu dokter pun,” tambahnya.

Melihat kondisi tersebut, dr. Arlina menekankan bahwa puskesmas dan klinik seharusnya mampu menyelesaikan sebagian besar kasus penyakit umum agar rumah sakit dapat fokus pada penanganan kasus berat.

“Jika layanan primer berjalan optimal, lebih dari 70 persen kasus sebenarnya bisa selesai di puskesmas atau klinik. Karena itu, keberadaan dokter di level pertama sangat krusial. Tanpa dokter di puskesmas, sistem rujukan akan terus membengkak, biaya negara meningkat, dan masyarakat yang paling dirugikan karena akses layanan dasar tidak terpenuhi,” pungkasnya. (NF)


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

SLEMAN, Suara Muhammadiyah - Bertempat di Aula KH Ahmad Dahlan SD Muhammadiyah Condong Catur (29/6/2....

Suara Muhammadiyah

29 June 2024

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Menyikapi memanasnya situasi politik nasional pasca-aksi demo....

Suara Muhammadiyah

1 September 2025

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah – Program Studi (Prodi) S2 Teknik Sumber Daya Air (Pengairan) Uni....

Suara Muhammadiyah

12 September 2024

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Rektor Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Herry Suhardiyanto ....

Suara Muhammadiyah

11 February 2025

Berita

Fokus pada Islam Moderat dan Kepemimpinan Wanita  SOFIA, Suara Muhammadiyah - Dalam upaya untu....

Suara Muhammadiyah

26 November 2023