Refleksi 13 Tahun Perjalanan PTM Maumere

Suara Muhammadiyah

10 October 2026

119
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Refleksi 13 Tahun Perjalanan PTM Maumere: Evaluasi Keberpihakan Kepemimpinan terhadap Kaderisasi IMM

Oleh Zulkifli, Ketua PDPM Sikka

Sebagai Ketua Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Sikka, saya merasa perlu menyampaikan sebuah refleksi dan kritik terhadap perjalanan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) Maumere, khususnya dalam menjalankan amanah Persyarikatan pada aspek dakwah, perkaderan, dan keberpihakan terhadap Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).

Kritik ini bukan lahir dari sikap ingin melemahkan institusi Muhammadiyah. Sebaliknya, kritik ini lahir karena kecintaan terhadap Muhammadiyah. Sebab mencintai Muhammadiyah bukan hanya dengan memuji ketika keadaan terlihat baik, tetapi juga berani mengingatkan ketika ada amanah Persyarikatan yang perlu diperkuat.

Perjalanan PTM Maumere sejak masih bernama IKIP Muhammadiyah Maumere hingga berkembang menjadi Universitas Muhammadiyah Maumere (UNIMOF) merupakan bagian dari sejarah perjuangan Muhammadiyah di Kabupaten Sikka. Kurang lebih 13 tahun perjalanan tersebut tentu telah memberikan banyak kontribusi dalam bidang pendidikan.

Namun, perjalanan sebuah Perguruan Tinggi Muhammadiyah tidak cukup hanya diukur dari perkembangan akademik, jumlah lulusan, pembangunan fasilitas, maupun keberhasilan administratif. Ada pertanyaan yang lebih mendasar yang harus dijawab bersama:

Sejauh mana PTM Maumere telah menjalankan amanah Muhammadiyah sebagai tempat dakwah dan perkaderan?

Sebab PTM bukan hanya lembaga pendidikan. PTM adalah bagian dari gerakan Muhammadiyah. PTM memiliki tanggung jawab untuk melahirkan manusia yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga memiliki ideologi, komitmen, dan semangat perjuangan Muhammadiyah.

Muhammadiyah tidak hanya dibangun oleh gedung yang besar, tetapi dibangun oleh kader-kader yang siap menjaga dan meneruskan perjuangan Persyarikatan.

Karena itu, setelah 13 tahun perjalanan PTM Maumere, menjadi penting untuk melakukan evaluasi terhadap proses kaderisasi yang berjalan, khususnya melalui Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) sebagai organisasi otonom resmi Muhammadiyah.

IMM bukan sekadar organisasi mahasiswa yang bergerak dalam kegiatan kemahasiswaan. IMM adalah wadah perkaderan yang dipersiapkan untuk melahirkan kader intelektual, kader dakwah, dan kader kepemimpinan Muhammadiyah.

Namun, kaderisasi tidak akan berjalan hanya dengan tuntutan kepada kader. Kader tidak bisa hanya diminta aktif, bergerak, dan berkompetisi, sementara proses pembinaan tidak diberikan secara maksimal.

Seorang ayah tidak akan menyalahkan anaknya ketika anak belum mampu berjalan jauh. Seorang ayah akan membimbing, melatih, dan menguatkan anaknya agar mampu berdiri sendiri. Begitu pula pemimpin Muhammadiyah, tugasnya bukan hanya menilai kader, tetapi membina kader.

Jika hari ini ada pertanyaan mengapa IMM belum maksimal, maka pertanyaan itu harus dijawab secara bersama. Apakah kader sudah diberikan ruang pembinaan yang cukup? Apakah kader sudah diberikan kesempatan untuk belajar memimpin? Apakah kader sudah diberikan ruang untuk mengambil peran strategis?

Pertanyaan yang sederhana tetapi penting:

Setelah 13 tahun perjalanan PTM Maumere, berapa banyak kader IMM yang lahir dari kampus Muhammadiyah Maumere dan mampu mengambil peran strategis, khususnya dalam ruang kepemimpinan dan pengambilan kebijakan di lingkungan kampus sendiri?

Pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan pihak tertentu. Pertanyaan ini adalah bentuk evaluasi terhadap amanah yang kita emban bersama.

Sebab apabila sebuah Perguruan Tinggi Muhammadiyah hanya menghasilkan lulusan akademik, tetapi tidak mampu melahirkan kader Persyarikatan, maka ada bagian dari amanah Muhammadiyah yang perlu kita perbaiki.

Jangan sampai IMM hanya dibutuhkan ketika membawa nama Muhammadiyah dalam kegiatan, tetapi tidak mendapatkan ruang ketika berbicara tentang proses kepemimpinan dan kesempatan berkembang.

Keberpihakan terhadap IMM bukan berarti memberikan perlakuan khusus tanpa dasar. Keberpihakan berarti memastikan bahwa kader Muhammadiyah mendapatkan ruang yang adil untuk berkembang berdasarkan kemampuan, kompetensi, integritas, dan proses kaderisasi yang telah mereka jalani.

Sebagaimana pesan Prof. Ahmad Muttaqien, persoalan dalam Persyarikatan bukan hanya tentang orang yang berada di luar Muhammadiyah, tetapi juga tentang bagaimana orang-orang yang berada di dalam Muhammadiyah menjalankan amanahnya.

Jangan sampai ada pihak yang menggunakan nama besar Muhammadiyah, menikmati fasilitas Muhammadiyah, berada dalam lingkungan Muhammadiyah, tetapi lupa terhadap tanggung jawab Muhammadiyah dalam dakwah dan perkaderan.

Inilah yang harus menjadi bahan renungan bersama. Sebab amanah kepemimpinan bukan hanya tentang jabatan, tetapi tentang tanggung jawab moral untuk menjaga tujuan didirikannya Muhammadiyah.

Selain persoalan kaderisasi, saya juga ingin mengingatkan pentingnya membangun tata kelola organisasi yang sehat dalam tubuh PTM Maumere.

PTM Maumere adalah organisasi profesional. Di dalamnya terdapat sistem, struktur, aturan, serta pembagian tugas yang jelas. Setiap pimpinan memiliki amanah masing-masing yang harus dijalankan secara bertanggung jawab.

Jangan sampai dalam sebuah organisasi muncul terlalu banyak pusat kendali. Jangan sampai ada banyak “matahari” yang ingin menjadi pusat perhatian dan mengambil peran yang bukan menjadi kewenangannya.

Organisasi yang sehat bukan organisasi yang bergantung pada satu orang. Organisasi yang sehat adalah organisasi yang seluruh unsurnya mampu bekerja sesuai tugas pokok dan fungsi masing-masing.

Rektor memiliki amanah. Wakil rektor memiliki amanah. Pimpinan fakultas memiliki amanah. Seluruh unsur memiliki tanggung jawab yang harus dihormati. Tidak perlu mengambil peran orang lain hanya untuk menunjukkan eksistensi. Sebab pemimpin yang kuat bukan pemimpin yang menguasai seluruh ruang, tetapi pemimpin yang mampu memastikan seluruh sistem berjalan dengan baik.

Muhammadiyah membutuhkan pemimpin yang mampu menjaga amanah, bukan hanya pemimpin yang memiliki jabatan. Jangan sampai kita menjadi bagian dari Muhammadiyah hanya secara identitas, tetapi kehilangan semangat Muhammadiyah dalam tindakan.

Jangan sampai kita berada di dalam rumah besar Muhammadiyah, tetapi lupa menjaga tujuan didirikannya rumah tersebut. Sebab ukuran keberhasilan seorang pemimpin Muhammadiyah bukan hanya seberapa lama ia memegang amanah, bukan hanya seberapa besar ruang yang ia kuasai, tetapi seberapa besar manfaat yang ia tinggalkan dan seberapa banyak kader yang berhasil ia lahirkan.

Pada akhirnya, perjalanan 13 tahun PTM Maumere harus menjadi momentum evaluasi bersama. Bukan untuk mencari siapa yang salah, tetapi untuk memastikan bahwa PTM Maumere benar-benar menjadi tempat pendidikan, dakwah, dan perkaderan Muhammadiyah. Karena Muhammadiyah membutuhkan kader yang besar.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Oleh: Irwan Akib, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Sejak berdirinya 19 Mei 1917 hingga usia yang k....

Suara Muhammadiyah

19 May 2025

Wawasan

Sepak Bola dan Cara Kita Melihat Peristiwa Oleh: Ahsan Jamet Hamidi Beberapa hari sebelum laga fin....

Suara Muhammadiyah

20 July 2026

Wawasan

Oleh: Dr Waluyo, Lc., MA, Wakil Sekretaris Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah Allah Subḥ....

Suara Muhammadiyah

23 December 2025

Wawasan

Wakaf Hutan dan Keberlanjutan Lingkungan Oleh: Muhammad Zulfikar Yusuf, Ketua Divisi Dakwah Sekolah....

Suara Muhammadiyah

13 January 2026

Wawasan

Kisah Yusuf as: Kritik Kepakaran dan Paceklik Masa Kini Oleh: Al-Faiz MR Tarman, M.Ag/Dosen Univers....

Suara Muhammadiyah

22 March 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah