Saad Ibrahim Tegaskan Jihadun Nafs Mesti Menjadi Prioritas Utama

Publish

7 April 2025

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
1273
Dr KH Muhammad Saad Ibrahim, MA,

Dr KH Muhammad Saad Ibrahim, MA,

PASURUAN, Suara Muhammadiyah –  Adakah kalian mengira kalian akan masuk surga? Padahal Allah belum menyaksikan kalian berjihad dan kalian konsisten, kalian bersabar, menerima seluruh konsekuensi jihad tersebut.  Itulah yang disampaikan oleh Muhammad Saad Ibrahim, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam khutbah Idul Fitri 1446 H di Lapangan Stadium Pogar PCM Bangil, Senin (31/3).

Dalam khutbahnya, Saad menyampaikan bahwa ketika seseorang berjihad dan tetap konsisten menjalaninya—meskipun harus merasakan berbagai konsekuensi seperti penderitaan, kepedihan, bahkan kegoncangan hidup—maka di situlah sunnatullah berlaku. Setelah itu, Allah akan menganugerahkan kemenangan dan pertolongan-Nya.

"Simpulan kita, ibadah puasa adalah poin penting yang kemudian dihubungkan dengan jihad. Maka kalau ini kita fahami sesungguhnya begitu kita selesai melaksanakan ibadah puasa seperti ini maka, sekali lagi kita akan menghadapi dan itu harus sebagai syarat untuk sekedar merasa bahwa kita akan masuk surga. Tidak lain dan tidak bukan adalah jihad," jelasnya.

Menurut Saad jihad dalam konteks sekarang, bukanlah perang seperti pada zaman Rasulullah, tapi lebih pada jihadun nafs. "Jihad untuk mengendalikan libido kita, untuk mengendalikan nafsu kita, maka inilah jihad bahkan ini adalah jihad yang terbesar," tukasnya. 

Mengendalikan nafsu-nafsu, sambung Saad, terkait dengan hal-hal yang rendah, di antaranya makan-minum. Orientasinya melatih kesabaran dan empati kepada yang kurang beruntung, supaya dapat mensyukuri nikmat Allah. Kemudian juga mengendalikan libido, sebagai upaya menjaga diri dari hawa nafsu, dan memperkuat hubungan dengan Pencipta-nya. Sehingga dapat diambil hikmah dari puasa adalah pembelajaran kepada seseorang untuk bersikap bijaksana dalam menghadapi godaan duniawi.

Maka kemudian al-Baqarah ayat 183-187 bicara tentang puasa Ramadhan. Dan juga al-Baqarah ayat 188, yang memerintahkan untuk jangan memakan harta dengan cara yang batil.

"Sehingga dapat diambil hikmah dari puasa adalah pembelajaran kepada seseorang untuk bersikap bijaksana dalam menghadapi godaan duniawi," ucap Saad.

"Intinya yang kita konsumsi, yang kita makan, semuanya harus kemudian halal, semuanya harus dibenarkan oleh Allah. Ini adalah jihad yang juga sangat mendesak, kenapa? Ya secara logis negara ini, kawasan kita Indonesia ini adalah sebuah kawasan yang sangat kaya, yang sangat subur," ungkapnya.

Tapi kemudian belum bisa menjadikan masyarakat sejahtera, tidak lain tidak bukan itu karena tidak bisa mengendalikan keinginan-keinginannya, nafsu-nafsu untuk menumpuk harta kekayaan, maka terjadilah korupsi yang sangat masif hampir pada semua lini.

"Oleh karena itu, ini adalah jihad yang sangat mendesak dan kalau kita gagal maka bangsa ini akan gagal," pungkas Saad. (Tia/Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

Overview Live In Society: Mendayung diantara Al-Maun dan Al-Ashr Oleh: Hendro Susilo Dua tahun ter....

Suara Muhammadiyah

16 November 2023

Berita

SURABAYA, Suara Muhammadiyah - Mendapat jadwal visitasi penilaian Muhammadiyah Future School (MFS), ....

Suara Muhammadiyah

18 March 2024

Berita

MELBOURNE, Suara Muhammadiyah — Dosen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Maka....

Suara Muhammadiyah

7 November 2024

Berita

SLEMAN, Suara Muhammadiyah - Jalan Sehat Songsong Milad ke-113 Muhammadiyah sekaligus rangkaian punc....

Suara Muhammadiyah

16 November 2025

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Di tengah perubahan yang sangat cepat, bagi Irwan Akib, sosialisasi....

Suara Muhammadiyah

29 August 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah