Saat Perubahan Terasa Berat, Padahal Niat Sudah Kuat

Publish

8 January 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
158
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Saat Perubahan Terasa Berat, Padahal Niat Sudah Kuat

Oleh: Ratna Arunika, Pengurus Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Timur

Awal tahun sering menjadi momen reflektif bagi banyak orang. Kita menamainya resolusi, niat untuk hidup lebih baik dari sebelumnya. Berbagai harapan dipancangkan; ingin lebih sehat, lebih tertata secara finansial, berkembang secara profesional, atau lebih hadir bagi keluarga dan kehidupan spiritual. Resolusi lahir dari kesadaran sederhana bahwa hidup bisa dijalani dengan cara yang lebih bermakna.

Namun, resolusi bukan sekadar daftar target tahunan. Ia mencerminkan dorongan manusia untuk berkembang untuk memperbaiki diri, pikiran, dan cara menjalani hidup. Perubahan bukan hanya persoalan teknis atau kebiasaan baru, melainkan proses untuk menjadi diri sendiri dengan lebih sadar dan  lebih sungguh-sungguh.

Keinginan untuk berubah menjadi lebih baik adalah bagian dari naluri manusia. Dalam perspektif Islam, dorongan ini disebut fitrah, kecenderungan alami yang Allah tanamkan agar manusia mencari kebaikan, makna, dan ketenangan. Hidup yang stagnan, mematikan makna. Hidup akan terasa hampa dan kosong hingga memunculkan kegelisahan, bukan karena kurang hiburan, tetapi karena jiwa membutuhkan pertumbuhan. Manusia selalu berada dalam proses menjadi, bukan sudah jadi. Kita tidak dilahirka sebagai pribadi yang sempurna, dan sepanjang hidup kita terus belajar, berubah, dan membentuk diri.

Manusia dianugerahi akal untuk belajar dan menyadari kesalahan, qalb untuk merasakan kegelisahan moral, serta nafs yang bisa diarahkan menuju kebaikan atau sebaliknya. Ketika hidup menjauh dari nilai-nilai yang diyakini, hati memberi sinyal lewat rasa tidak tenang. Dari sanalah niat untuk berubah biasanya muncul. Kesadaran inilah tanda akal dan jiwa yang hidup.

Niat adalah Fondasi Perubahan

Dalam Islam niat mendahului amal, menempati posisi sentral. Artinya sebuah amal yang sama bisa bernilai berbeda. Rasulullah SAW bersabda, 

“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya” (HR. Bukhari dan Muslim). 

Niat membantu manusia memahami mengapa ia melangkah, sebelum menentukan ke mana ia akan pergi. Tanpa niat, resolusi mudah berubah menjadi tekanan. Dengan niat yang disadari, perubahan menjadi komitmen batin. Niat juga membuat seseorang lebih tahan menghadapi kegagalan, karena kegagalan dipahami sebagai bagian dari proses, bukan akhir perjalanan.

Dari sudut pandang neuroscience, niat yang jelas berkaitan dengan aktivasi prefrontal cortex, bagian otak yang berperan dalam perencanaan, pengendalian impuls, dan pengambilan keputusan dalam memprioritaskan tindakan. Niat bukan sekadar konsep spiritual, tetapi juga membantu otak bekerja lebih terarah dan lebih siap bertindak konsisten.

Banyak resolusi gagal bukan karena malas atau kurang niat, melainkan karena otak manusia secara alami menyukai hal yang familiar. Secara evolusioner, rutinitas dan kebiasaan lama dibaca otak sebagai kondisi aman. Sebaliknya, perubahan meski membawa kebaikan sering dipersepsikan sebagai ketidakpastian. 

Otak juga cenderung menghemat energi. Kebiasaan lama tersimpan dalam jalur saraf yang sudah kuat sehingga dijalani secara otomatis. Perubahan berarti membangun jalur baru, yang membutuhkan perhatian dan usaha lebih besar. Maka wajar jika muncul rasa malas, menunda, atau kehilangan motivasi.

Dengan kata lain, otak tidak menolak perubahan. Ia menolak ketidakjelasan yang dianggap sebagai sebuah ancaman.

Dalam bukunya Atomic Habits, James Clear menjelaskan bahwa perubahan jangka panjang tidak dimulai dari target, melainkan dari identitas, keyakinan tentang siapa diri kita. Identitas, dalam cara kerja otak dipahami sebagai proyeksi diri masa depan. Gambaran di kepala kita berfungsi seperti peta yang mengarahkan perilaku, meskipun diri tersebut belum sepenuhnya terwujud hari ini.kita bertindak bukan hanya berdasarkan tujuan yang ingin dicapai, tetapi berdasarkan diri kita ini sedang menuju kemana. Target bersifat sementara identitas bersifat berkelanjutan.

Otak manusia bekerja sebagai mesin prediksi. Ketika seseorang memandang dirinya sebagai “orang yang peduli kesehatan”, otaknya akan lebih mudah memilih perilaku yang selaras dengan identitas tersebut. Dalam psikologi, konsep ini dikenal sebagai possible self, gambaran diri yang sedang dibentuk.

Identitas lebih kuat dari target, ketika target dicapai kadang motivasi mudah menguap. Namun sebaliknya setiap tindakan kecil yang selaras dengan identitas akan memperkuatnya. Otak merespons konsistensi ini dengan rasa puas, sehingga perilaku baik lebih mudah diulang. Disinilah otak menemukan arah, makna, dan struktur tentang siapa dirinya menjadi.

Sistem Mengalahkan Motivasi

Motivasi naik turun, dan resolusi yang hanya dipikirkan akan terasa berat. Akan tetapi ketika resolusi ditulis, akan lebih fokus pada langkah berikutnya. Karena otak lebih mudah mengeksekusi langkah nyata daripada tujuan abstrak dan resolusi juga membutuhkan sistem. Sistem adalah lingkungan, kebiasaan, dan rencana konkret yang mendukung niat.

Menuliskan peta jalan resolusi membantu otak berpindah dari mode niat ke mode tindakan. Dengan menulis roadmap otak akan membacanya sebagai sinyal yang lebih terstruktur sehingga meningkatkan peluang keberhasilan resolusi. Riset psikologi menunjukkan bahwa if–then planning (perencanaan bersyarat) dapat meningkatkan peluang keberhasilan perubahan perilaku. 

Contohnya: resolusi memperbaiki kualitas ibadah ditengah jadwal yang padat. Niat kita “Ingin lebih konsisten sholat tepat waktu”. Kenyataan di lapangan-jadwal padat: rapat online, deadline bertumpuk, notifikasi tak berhenti. Sistem yang bisa kita buat semisal mengaktifkan alarm adzan tanpa model silent, atur jadwal meeting tidak melewati waktu sholat, mushola kantor sudah diketahui posisinya. If-then planningnya: jika adzan Zuhur berbunyi saat aku sedang bekerja, maka aku akan hentikan pekerjaan 5 menit dan sholat dulu. Hasilnya, kita akan melihat dalam beberapa hari jika sistem tersebut diterapkan konsistensi akan tumbuh karena ada aturan sederhana, bukan karena dorongan emosional.

Motivasi itu seperti cuaca, bisa cerah, bisa mendung. Sedangkan sistem itu seperti rumah, tetap berdiri meski cuaca berubah. Hal inilah yang membuat perubahan terasa lebih mungkin, bukan karena memaksa diri, tetapi karena kita membuat hidup lebih mendukung pada perubahan itu sendiri.

Membuat hidup menjadi lebih baik tidak perlu menunggu waktu, perubahan itu bisa dimulai dari sekarang, dan dari hal-hal kecil.  Perubahan yang bertahan jarang dimulai dari langkah besar. Ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang dilakukan konsisten. Dalam Islam, prinsip ini dikenal sebagai istiqamah. Dari ’Aisyah radhiyallahu ’anha, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” 

Kebiasaan lima menit berjalan kaki singkat, membaca beberapa ayat Al-Qur’an, atau menulis refleksi harian mungkin terasa sederhana, tetapi efek akumulatifnya nyata.

Dalam kehidupan pekerja kota, resolusi sering berbenturan dengan ritme harian yang padat. Berangkat pagi, pulang malam, terjebak macet, dikejar target, dan masih harus membagi energi untuk keluarga. Tidak heran jika resolusi sering terasa terlalu ideal dan akhirnya ditinggalkan.

Ambil contoh resolusi hidup sehat. Banyak pekerja kota membayangkan olahraga harus satu jam di gym atau mengikuti kelas khusus. Padahal, perubahan tidak harus dimulai dari sana. Lima menit peregangan setelah bangun tidur, memilih naik tangga satu lantai, atau berjalan kaki sebentar saat jam makan siang sudah cukup untuk membangun kebiasaan awal. Bagi otak, ini adalah sinyal bahwa identitas baru sedang dibentuk: seseorang yang mulai peduli pada tubuhnya. 

Bagi pekerja kota, produktivitas sering dimaknai sebagai kecepatan dan hasil. Padahal, produktivitas juga berarti menjaga keberlanjutan diri. Mengatur jam tidur, membatasi penggunaan gawai sebelum istirahat, atau menuliskan tiga hal yang disyukuri di akhir hari adalah contoh sistem kecil yang membantu resolusi bertahan di tengah tekanan hidup urban.

Islam dan Makna Perubahan

Islam memandang perubahan sebagai proses sadar yang dimulai dari dalam diri, seperti yang dijelaskan dalam QS. Ar-Ra’d: 11. 

لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ وَاِذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗۚ وَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّالٍ

“Baginya (manusia) ada (malaikat-malaikat) yang menyertainya secara bergiliran dari depan dan belakangnya yang menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka. Apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, tidak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”

Keinginan untuk berubah menjadi lebih baik bukan sekedar ambisi, tetapi panggilan fitrah yang Allah tanamkan dalam diri manusia. Tugas kita sebagai manusia adalah menyambut dorongan resolusi itu dengan kesadaran, merawatnya dengan ikhtiar dan menjaga dengan tawakal. 

Ikhtiar diperlukan, tetapi hasil akhirnya diserahkan kepada Allah melalui tawakal. Tawakal bukan pengganti usaha, melainkan penyerahan setelah kesungguhan. Allah berfirman, “……Apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah” (QS. Ali Imran: 159). Ayat ini menegaskan keseimbangan antara usaha dan kepercayaan. Tawakal setelah ikhtiar sebagai penyerahan hasil, bukan pengganti usaha.

Sebagai umat dari Rasulullah SAW, umat Islam diingatkan agar tiap waktunya menjadi orang yang lebih baik. Perubahan ini dilandaskan pada apa yang disabdakan Rasululah SAW dalam hadits :

"Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang beruntung, (dan) barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin dialah tergolong orang yang merugi dan bahkan, barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin dialah tergolong orang yang celaka." (HR Al Hakim)

Resolusi bukan tentang menjadi orang baru secara instan. Ia adalah upaya mendamaikan kebutuhan akan stabilitas dengan dorongan untuk bertumbuh. Perubahan bukan proyek cepat, melainkan proses jangka panjang.

Resolusi juga menjadi momen ketika manusia mengambil kendali dan berkata “aku bertanggungjawab atas hidupku”, itulah sebabnya resolusi selalu lahir pada saat pergantian waktu, masa-masa kritis, menghadapi kegalauan hidup dan kesunyian.

Manusia membuat resolusi karena menyadari keterbatasan waktu hidup. Resolusi adalah cara berkata, selagi ada waktu, aku ingin hidup lebih benar. Menyadari akan kefanaan, hidup yang terbatas, dan tak bisa diulang.  Bukan janji untuk sempurna, melainkan keberanian untuk menjadi sedikit lebih baik dari hari sebelumnya.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Oleh: Wildan dan Nucholid Umam Kurniawan "Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu  Pemeri....

Suara Muhammadiyah

1 November 2023

Wawasan

Mubalig Hijrah, Kaderisasi dan Dakwah Global Oleh: Elis Zuliati Anis, Dosen Universitas Ahmad Dahla....

Suara Muhammadiyah

5 April 2024

Wawasan

Menjaga Ruang Kebebasan Berekspresi dari Ancaman Kepala Babi Oleh: Ahsan Jamet Hamidi, Wakil Sekret....

Suara Muhammadiyah

25 March 2025

Wawasan

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Konferensi Tingkat Tinggi Perubahan Iklim (Conference of Parties/COP30....

Suara Muhammadiyah

26 November 2025

Wawasan

Hukuman dalam Al-Qur'an: Memahami Konteks dan Fleksibilitas Hukum Islam Oleh: Donny Syofyan, Dosen ....

Suara Muhammadiyah

17 October 2025