JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Kesabaran telah melekat dalam kehidupan umat manusia. Spektrum kesabaran ini, sering dikonotasikan dengan kesedihan dan kemasygulan.
Abdul Mu’ti memberikan sampel terkait hal itu. Yakni musibah karena tinggal pergi selamanya oleh anggota keluarga, musibah bencana alam, atau musibah-musibah yang lain.
“Itu sering kita menyampaikan kepada sahabat, sejawat kita untuk besabar. Itu tidak keliru, itu ada tuntunannya,” kata Mu’ti.
Berbicara ihwal musibah, lanjut Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu, tidak selalu sesuatu yang bersifat kesedihan. “Tapi bisa sesuatu yang bersifat keberhasilan,” lanjutnya, Jumat (27/2) dalam Program Jendela Ramadhan di TvMu Channel.
Di situlah, sebut Mu’ti, banyak orang yang tidak sadar ketika sedang berhasil, tidak menempatkan kesabaran dalam dirinya. “Orang yang sedang berhasil itu, seringkali lupa diri,” ucapnya, yang dibarengi munculnya perilaku yang bertentangan dengan tuntunan agama.
“Orang dalam hidup ini diuji oleh Allah tidak hanya dengan kesulitan, tapi juga dengan berbagai macam kemudahan. Dalam studi-studi akhlak itu disebut dengan istidraj,” jelas Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah tersebut.
Menekankan penjelas istidraj, sebuah kondisi di mana kelimpahan nikmat (sukses), yang semuanya bisa diraih. Namun, ungkap Mu’ti, hal itu sebagai ujian dari Allah.
“Ketika orang berhasil terus, kemungkinan menjadi orang yang takabur (sombong). Karena dia punya kebanggaan diri (self pride) yang sangat tinggi,” tegasnya.
Kemungkinan berikutnya, bisa melampaui batas. Sebagai ilustrasi, ketika dilimpahkan banyak harta, tak pelak ada dorongan untuk membeli semua yang diinginkan (konsumtif).
“Karena semuanya dia beli dengan uang yang dimiliki,” tuturnya, menyebut ilustrasi yang lain, yakni menyangkut jabatan. “Apa pun bisa dilakukan dengan jabatan itu. Istilah yang sering kali muncul itu sabdo pandito ratu,” sambungnya.
Kemungkinan selanjutnya, ketika sedang berjaya, sesungguhnya sedang menuju pada proses untuk terperosok ke tubir kerugian. “Karena tidak sadar dan tidak sabar dengan yang dimiliki,” imbuh Mu’ti. Di sinilah manusia tak menutup kemungkinan diuji Allah deengan keberhasilan.
“Sabar ketika sedang berjaya itu adalah sikap yang harus kita miliki. Kita diberi Allah harta yang banyak jangan untuk foya-foya, tapi mari kita dermakan untuk sesama,” bebernya. Demikian juga dengan sematan jabatan, yang mesti digunakan sebagaimana semestinya.
“Membantu mereka yang memerlukan pertolongan kita dengan kebijakan yang kita buat. Sehingga makin tinggi posisi kita, kita harus semakin arif, sehingga kebijakan yang kita buat adalah kebijakan yang terbaik,” ujar Mu’ti.
Dengan seperti itu, muncul kesadaran bahwa semua yang ada di dunia hanya bersifat sementara. Tidak ada yang kekal dan abadi.
“Ketika sedang berjaya, kita harus sabar dan sadar bahwa semuanya adalah titipan dari Allah. Sehingga dengan kita sabar ketika sedang berjaya, kita tidak menjadi orang yang sombong dan melampaui batas, sehingga kita tetap berada pada jalan yang benar,” pungkasnya. (Cris)

