Sakit
Cerpen Affan Safani Adham
Tangan kananku masih memegang bor cordless ketika jarum jam sudah menunjukkan pukul 06.30 WIB. Biasanya butuh waktu 15 menitan menuju kantor yang berjarak 8 km dari rumah karena faktor medan yang banyak belokannya.
Range waktu pagi itu aku manfaatkan untuk menyelesaikan pekerjaan. Padahal, tadi malam lebih dari pukul 23.00 WIB baru membereskan peralatan.
“Sudah siang, Mas!” istriku mengingatkan.
Padahal masih pagi ukuran normal. Biasanya diikuti informasi bahwa pakaian seragam sudah disetrika dan siap. Sarapan sudah disajikan. Terus minta izin mengantar anak ke sekolah sambil mencium tanganku.
Sejak istri tahu kalau aku suka bikin perabotan rumah tangga sendiri, berkali-kali minta dibuatkan agar ukuran sesuai yang diinginkan. Sebenarnya, aku kurang percaya diri karena sekadar menyalurkan hobi. Tapi cara dia merayu dengan memuji habis-habisan hasil karyaku, membuatku nekat menuruti kemauannya. Padahal, endingnya dia bilang, "Kata-kata pujianku kalau buat beli sudah dapat lo, Mas."
Biasanya lantas kujawab dengan cubitan kecil di bahunya.
***
KARENA anak-anak yang kos sudah selesai teori di kampusnya, kontrakan dan kos-kosan sudah diakhiri. Akibatnya, mereka akan banyak tinggal di rumah menyelesaikan skripsi atau tugas lainnya.
Istri usul agar kamar mereka dimake over agar lebih nyaman. Tentu, butuh waktu yang lumayan panjang karena aku mengerjakannya sendirian. Meskipun jika sekadar menuangkan lem, pegangin daun pintu dan sejenisnya, anak-istri bisa membantu.
Istriku rela menemaniku hingga larut malam meskipun tidak melakukan pekerjaan yang berarti hingga aku mengemasi peralatan. Cukup menyiapkan kudapan dan membikinkan kopi serta sesekali mengajak ngobrol. "Biar nggak jenuh," katanya.
“Sudah siang lo, Mas...” pingin banget denger suara merdu itu lagi. Tapi yang terlintas di pikiran dan perasaanku dia bilang, "aku pamit duluan ya, Mas. Allah SWT telah memanggilku. Baik-baik di rumah, rawat anak-anak dan antarkan mereka ke gerbang kesuksesan."
Aku tidak bisa menjawab kecuali butiran air mata yang berkali-kali menetes di lantai.
***
"JANGAN capek-capek," katanya di suatu sore, saat aku bantu dia menuju kamar mandi setelah aku tuangkan air hangat.
"Mengapa?" tanyaku.
Lalu dengan sangat gamblang dia sampaikan bahwa sakitnya saat ini juga sering kecapekan.
"Oya, Mas. Anak-anak kangen dengan masakanmu. Aufa ingin dibuatkan selat, Arsi pingin digorengkan tahu susur," kata istriku.
Permohonan anak-anak tersebut yang selalu membuatnya makin bersemangat untuk sembuh. Kadang, aku dan istri berusaha memposisikan anak sebagai sahabat agar bisa mengobrol lebih leluasa sehingga bisa menggali keinginan anak yang sesungguhnya. Istriku sangat piawai dalam hal ini karena frekuensi kedekatan dengan anak terbangun sedemikian rupa. Itu semua dilakukan tanpa mengabaikan kewajibannya kepada suami, mengurus anak-anak, membersihkan dapur, mencuci dan seabrek pekerjaan domestik lainnya.
Aku hanya bisa memfasilitasi agar banyak kemudahan saat istri menyelesaikan pekerjaannya. Sesekali juga membantu tidak menjadikan aku turun derajat sebagai kepala keluarga.
Sejak berumah tangga aku berusaha tidak menjadi suami yang ribet, makan harus diambilkan, minum harus dibuatkan, air untuk mandi harus disiapkan. Bahkan dalam situasi tertentu mencuci, menyapu atau menyetrika tidak segan-segan aku lakukan. Karena memang sebenarnya itu semua kewajiban suami. Meskipun kadang-kadang istri melarang, "Nggak usah Mas. Entar aku saja yang ngerjain."
Aku selalu mengajarkan kepada anak-anak agar dalam kondisi normal mencuci piring dan gelasnya sendiri setelah makan sebagaimana yang kulakukan hingga kini untuk meringankan beban.
***
“AKU nggak kuat, Mas," istriku menghentikan langkahnya.
Wajah penyesalan terlihat jelas di raut mukanya. Air matanya membasahi kedua pipinya
“Aku kan sudah bilang nggak usah ke dapur dulu. Besok kalau sudah sehat aku temani bikin request-nya anak-anak!” kataku sambil memapahnya kembali ke tempat tidur.
Perempuan harus mendapatkan tempat yang proporsional sesuai martabat keperempuanannya. Ia berhak mendapatkan perlindungan, rasa aman dan kenyamanan dalam kehidupan rumah tangga. Dihargai dan memperoleh apresiasi dengan tetap menjaga privasinya. Terpenuhi keinginan dan kebutuhannya sesuai kemampuanku sebagai suami.
Kami saling menyayangi dan berusaha merawat cinta kasih bersama-sama. Satu hal yang menyesakkan dada dan keinginan itu diucapkan berkali-kali setiap ada kesempatan di sela-sela sakitnya. Kadang berbisik, tapi sering juga dengan suara yang cukup lantang: "Mas, apakah aku bisa menua bersamamu?”
Aku hanya bergumam mengiyakan dan mengangguk pelan khawatir butir air mata di sudut mataku terjatuh.
“Bisa ya, Mas?” tanyanya lagi.
Lalu kupeluk istriku dan kami menangis bersama. “Yakinlah, pasti bisa.” Kali ini suaraku terdengar lebih tegas.
Aku ingat betul istriku kadang-kadang merasa cukup lama tidak boncengan motor denganku. Lalu kami keluar sekadar menikmati jahe susu di angkringan atau mencari wedang ronde sebagai penghangat badan. Dia sudah lega. Dan kalimat bahwa sudah lama tidak berboncengan itu diucapkan lagi di tengah kemustahilan karena terhalang penyakit yang dideritanya.
“Segera sehat nanti kita jalan-jalan dan berangkat touring lagi ya?"
Senyumnya terasa lepas. Energi kasih sayang dan cinta yang dianugerahkan kepadaku jauh lebih kecil dibanding dengan cinta dan kasih sayang Allah SWT kepadanya. Satu-satunya perempuan yang menempati ruang hati sebagai komponen separuh nafasku telah dipertemukan dengan cinta sejati-Nya.
Hidup harus dilanjutkan. Anak-anak berhak mendapatkan perhatianku untuk mencapai masa depannya. Keluarga, saudara, sahabat, tetangga dan handai taulan menyuntikkan gelora semangat kepadaku. Puisi dan untaian syair menghibur tidak kenal lelah dilantunkan di tengah keterpurukan perasaanku.
Notoprajan, November 2023
Cerpen SM Edisi 03 tahun 2024

