Satu Frekuensi dalam Pengamalan Puasa

Suara Muhammadiyah

30 June 2026

162
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Satu Frekuensi dalam Pengamalan Puasa

Oleh: Mohammad Fakhrudin

Dari segi hukum, ada dua macam puasa, yakni puasa wajib dan puasa sunnah. Puasa Ramadhan merupakan salah satu puasa yang bersifat wajib sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Qur’an surat al-Baqarah (2):183. Oleh karena itu, tiap muslim yang tidak mempunyai uzur syar’i mengerjakannya. Hal itu membuat suasana bulan Ramadhan benar-benar satu frekuensi.

Pada bulan yang penuh berkah itu tidak hanya orang dewasa yang berpuasa, tetapi juga  anak berusia 4 tahun. Ada yang "berpuasa" sampai pada waktu duhur. Kemudian, setelah “berbuka” pada waktu duhur, mereka berpuasa lagi sampai magrib. Di samping itu, ada anak berusia 5 tahun berpuasa sampai magrib. Masyaallah!

Komitmen Satu Frekuensi di dalam Keluarga

Pada bulan Ramadhan seluruh anggota keluarga umumnya mempunyai komitmen mengondisikan pengamalan ibadah tersebut berlangsung khusyuk. Anggota keluarga dewasa yang mempunyai uzur syar’i sehingga tidak berpuasa, tetap satu frekuensi dengan suasana puasa. Mereka tidak mengganggu orang yang berpuasa dengan makan dan minum secara demonstratif.

Banyak amal yang dilakukannya untuk anggota keluarga yang berpuasa. Berbelanja, memasak, dan menyiapkan buka dan menyiapkan sahur merupakan beberapa contoh. Bahkan, ada di antara mereka yang tidak berpuasa, makan malam pada waktu anggota keluarga yang berpuasa berbuka. Luar biasa!

Satu frekuensi dalam pengamalan puasa sunnah seperti puasa Senin Kamis, ayyamul bidh, 9 Zulhijjah, 10 Muharram, atau yang lain sangat bagus jika menjadi kebiasaan di dalam keluarga. Tentu saja semua itu dapat  dilakukan jika tidak ada uzur syar’i seperti sedang safar jauh atau menemani saudara atau tamu yang sedang safar. 

Satu Frekuensi Mendidik Anak Cucu Berpuasa

Suasana satu frekuensi dalam pengamalan puasa, baik puasa wajib maupun puasa sunnah tidak hanya bermanfaat bagi orang dewasa yang melakukannya, tetapi juga bagi anak-anak. Jika orang dewasa yang berpuasa bertambah kebaikannya sehingga keberkahan makin dirasakan di dalam keluarga, hal itu berpengaruh positif dan sangat besar terhadap anak-anak. Pengaruh itu makin nyata ketika anak-anak ikut berpuasa sunnah dan dengan senang melakukannya. 

Kegembiraan anak cucu makin bertambah lagi karena ayah ibu dan kakek nenek ketika berpuasa, tetap beraktivitas dengan penuh semangat. Mereka berolah raga juga. Olahraga yang dilakukannya makin mendekatkan dirinya dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kakek nenek memilih salah satu olahraga yang disukai Rasulullah shallallalahu ‘alaihi wa sallam. 

Olahraga yang dipilih itu dilakukannya sambil secara sir bertasbih سُبْحَانَ الله (“Maha Suci Allah”), mengucapkan tahmid الْحَمْدُ للهِ (“Segala puji bagi Allah”), mengucapkan tahlil  لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ (“Tidak ada Tuhan selain Allah”), dan mengucapkan takbir اللَّهُ أَكْبَرُ (“Allah Maha Besar”). Joging merupakan salah satu jenis olahraga yang dapat dilakukan sambil berzikir demikian. Ketika berangkat, mereka melangkah awal dengan kaki kanan sambil mengucapkan tasbih dan selanjutnya berjalan sambil mengucapkan tahmid, tahlil, dan takbir. Mereka mengucapkannya dengan "khusyuk" sampai di tempat tujuan.

Ketika pulang, mereka berzikir yang ringan di lisan, tetapi berat di timbangan pahalanya sebagaimana dijelaskan di dalam HR al-Bukhari dan Muslim, yakni 

سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

"Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya. Maha Suci Allah Yang Maha Agung".

Zikir tersebut diucapkannya dengan “khusyuk” sejak melangkah awal dengan kaki kanan sampai tiba kembali di rumah. Muslim yang memilih olahraga bersepeda tidak lupa setiap mengayuh pedal sepeda sambil berzikir juga. Dengan doa dan ikhtiar yang demikian mereka memperoleh kebugaran fisik dan kesehatan mental yang bagus. 

Satu Frekuensi dalam Tadarus

Tadarus pada bulan Ramadhan menjadi aktivitas yang menyatu dengan puasa. Aktivitas tersebut umumnya diselenggarakan di masjid dan musala. Waktu pelaksanaannya sehabis tarawih. Pesertanya umumnya laki-laki berjumlah sekitar 15 orang. Sangat sedikit keluarga yang menyelenggarakan tadarus di rumah.  

Di luar bulan Ramadhan tadarus yang demikian tidak lagi diselenggarakan. Tentu tidak menjadi masalah sama sekali jika tadarus tetap berlangsung, tetapi hanya berpindah tempat, yakni dari masjid dan musala ke rumah-rumah. 

Jika tadarus telah menjadi bagian aktivitas sehari-hari di keluarga sejak anak-anak, tentu dapat diharapkan aktivitas tersebut berlanjut hingga mereka menjadi “orang senior”. Bahkan, makin “senior”, tadarusnya makin intensif. 

Kabiasaan tadarus yang demikian dapat mendidik anak cucu mempunyai kebiasaan tadarus. Mereka tidak lagi bergantung pada keberadaan orang tuanya di rumah. Ketika orang tuanya tidak di rumah (karena bekerja atau mempunyai suatu keperluan lain), mereka dapat secara mandiri melaksanakan tadarus pada waktu mereka biasa tadarus. 

Tentu orang tua perlu memantaunya. Pada era sekarang, mereka (yang mampu) dapat memantaunya melalui video call atau kamera pengawas.  

Berdasarkan uraian tersebut kita ketahui bahwa kondisi satu frekuensi dalam pengamalan puasa dan tadarus merupakan modal pemerolehan (1) kebugaran fisik  dan kesehatan mental, (2) kedamaian dan kemanfaatan, baik bagi diri maupun bagi orang lain, dan (3) kepribadian dan tingkah laku yang terpuji. Semua itu dapat memotivasi anak cucu untuk mencontohnya.

Cukup banyak keluarga yang mempunyai kebiasaan satu frekuensi dalam pengamalan puasa sunnah. Kiranya sangat bagus jika pengamalan puasa sunnah tersebut menjadi bagian dari kebiasaan di lingkungan tempat tinggal, di sekolah,  dan di tempat bekerja juga. Jika kebiasaan tersebut terwujud, Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti mencurahkan keberkahan.

Mereka mempunyai hak memperoleh keberkahan karena telah berusaha secara maksimal menjadi muslim yang (1) memancarkan kepribadian yang saleh yang menghadirkan kedamaian dan kemanfaatan bagi dirinya dan bagi sesamanya dan (2) berkepribadian dan tingkah laku yang terpuji. Mereka menjadikan dirinya sebagai rahmatan lil’alamin.. 

Satu frekuensi dalam shalat Duha di sekolah sudah menjadi bagian dari aktivitas sekolah. Tidak hanya pendidik dan tenaga kependidikan, tetapi juga peserta didik yang mengerjakannya. Fenomena itu dapat kita saksikan di madrasah yang dikelola oleh Kementerian Agama RI, Ormas Islam, dan di sekolah umum juga. Oleh karena itu, merupakan suatu keniscayaan jika satu frekuensi dalam pengamalan puasa sunnah pun menjadi bagian dari aktivitas pendidik, tenaga kependidikan, dan peserta didik di sekolah.

Bukan Menunggu

Satu frekuensi dalam ibadah merupakan bagian dari bekal untuk hidup selama-lamanya di akhirat. Kiranya aktivitas yang demikian menjadi bagian warisan yang sangat berarti. Boleh jadi, warisan tersebut lebih berarti daripada warisan harta benda.

Berkaitan dengan kematian, ada ungkapan yang sangat popular di masyarakat misalnya (1) “Hidup hanya sekali, maka harus dinikmati” dan (2) “Mati pasti terjadi. Kapan? Rahasia Ilahi. Setiap orang telah ditentukan waktunya. Tinggal menunggu saatnya tiba. Menunggu giliran.” 

Timbul pertanyaan: Benarkah (1) hidup hanya sekali? dan (2) kita menunggu kematian? Bagi orang beriman, hidup tidak hanya sekali karena masih ada kehidupan sesudah mati dan kehidupan inilah yang abadi. Pada kehidupan ini setiap orang menerima balasan sesuai dengan amalnya masing-masing. 

Kita tidak sedang menunggu kematian, tetapi sedang menuju kematian sesuai dengan ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, kita harus memanfaatkan sisa usia untuk menambah bekal dengan beramal saleh, bukan untuk hura-hura. Mati dapat datang ketika kita sedang bernyanyi hura-hura, tetapi juga dapat datang ketika sedang mengaji dengan sepenuh jiwa. Tentu kita ingin sampai pada kematian ketika sedang mengaji dengan sepenuh jiwa. 

Aamiin!


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas   Mari kita bedah Surah A....

Suara Muhammadiyah

30 May 2025

Wawasan

Cahaya Tajdid di Balik Kebun Kurma Menjemput Kebenaran, Meruntuhkan Fanatisme Penulis: M. Saifudin....

Suara Muhammadiyah

28 February 2026

Wawasan

Pelegalan Alat Kontrasepsi untuk Remaja Merusak Masa Depan Bangsa Oleh: Nur Ngazizah,S.Si.M.Pd., Ke....

Suara Muhammadiyah

9 August 2024

Wawasan

Mencerdaskan Kader Sebelum Mencerdaskan Bangsa Oleh: Amrizal Tema Muktamar Muhammadiyah ke 49 tah....

Suara Muhammadiyah

12 June 2026

Wawasan

Oleh: Ayu Nadya, Mahasiswa S1 Akuntansi Tahun 2021 ITB Ahmad Dahlan Program KKN Plus Institut Tekno....

Suara Muhammadiyah

6 September 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah