Seabad Lulusan Sekolah Calon Pemimpin

Publish

10 May 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
298
Foto: Muhammad Sayuti

Foto: Muhammad Sayuti

Seabad Lulusan Sekolah Calon Pemimpin

Penulis: Abd Rohim Ghazali, Senior Fellow Maarif Institute, Wakil Ketua Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik PP Muhammadiyah

Minggu pagi yang cerah, 10 Mei 2026, sebagai salah satu wali santri, saya menghadiri “Haflah Takharruj” Madrasah Muallimin Muhammadiyah, di Kampus UNISA Yogyakarta. Ini merupakan angkatan yang ke-100 pelepasan “anak panah” kader Muhamadiyah.

Seratus angkatan bukan sekadar hitungan administratif sebuah lembaga pendidikan. Ia adalah penanda sejarah, jejak panjang pengabdian, sekaligus saksi perjalanan bangsa. Amat terasa bahwa acara ini bukan hanya seremoni kelulusan biasa. Ada getaran emosional, kebanggaan, dan harapan besar yang menyatu dalam wajah para wisudawan, orang tua, guru, dan alumni. Di usia 107 tahun, Muallimin tidak hanya melahirkan lulusan, tetapi berusaha membentuk manusia yang diproyeksikan menjadi pemimpin umat dan bangsa.

Tagline “Sekolah Calon Pemimpin” memang terdengar berat. Tidak semua sekolah berani memikul amanat sebesar itu. Sebab kepemimpinan bukan sekadar kemampuan berbicara di depan publik atau menduduki jabatan tertentu. Kepemimpinan adalah kemampuan memikul tanggung jawab sejarah. Pemimpin adalah mereka yang sanggup menjadi pelita ketika masyarakat mengalami kebingungan moral, menjadi penengah ketika bangsa terjebak polarisasi, dan menjadi penggerak ketika umat dilanda keputusasaan.

Di sinilah Muallimin memiliki karakter khas. Sejak awal berdirinya oleh Ahmad Dahlan, pendidikan tidak dimaksudkan hanya untuk mencetak orang pandai, melainkan membentuk manusia yang tercerahkan. Pendidikan harus melahirkan pribadi yang memiliki kedalaman ilmu, keluasan pandangan, ketangguhan moral, dan semangat pengabdian. Karena itu, Muallimin tidak hanya mendidik siswa di ruang kelas, tetapi juga membentuk karakter melalui disiplin hidup, organisasi, dakwah, dan tradisi intelektual.

Keistimewaan Muallimin juga tampak dari jejak para tokoh yang pernah memimpinnya. Tidak banyak lembaga pendidikan yang dalam perjalanan sejarahnya pernah dipimpin oleh tiga pahlawan nasional sekaligus, selan Kiai Dahlan sendiri, ada KH Mas Mansyur dan KH A. Kahar Muzakkir. Kehadiran tokoh-tokoh besar itu menunjukkan bahwa Muallimin sejak awal memang dirancang bukan sekadar sebagai institusi pendidikan biasa, tetapi sebagai kawah candradimuka kader umat dan bangsa.

Dari rahim Muallimin pula lahir tokoh-tokoh penting Indonesia. Salah satunya adalah Ahmad Syafii Maarif, sosok guru bangsa yang dikenal karena keluasan wawasan, keteguhan moral, dan komitmennya pada kemanusiaan dan kebinekaan. Buya Syafii menjadi contoh bagaimana seorang alumni Muallimin tidak hanya tumbuh sebagai intelektual Muslim, tetapi juga menjadi suara moral bangsa. Dalam dirinya, kita melihat perpaduan antara keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan universal.

Seratus lulusan angkatan berarti seratus gelombang kader yang telah menyebar ke berbagai medan pengabdian. Ada yang menjadi ulama, akademisi, guru, dokter, birokrat, pengusaha, aktivis sosial, bahkan pemimpin publik. Namun lebih dari profesi itu semua, yang paling penting adalah bagaimana mereka membawa nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan dalam kehidupan nyata. Sebab ukuran keberhasilan sekolah calon pemimpin bukan semata pada banyaknya alumni yang terkenal, tetapi pada seberapa besar mereka memberi manfaat bagi sesama.

Di tengah zaman yang berubah cepat, tantangan kepemimpinan justru semakin kompleks. Dunia hari ini menghadapi krisis keteladanan. Banyak orang memiliki jabatan, tetapi kehilangan integritas. Banyak yang memiliki kekuasaan, tetapi miskin empati. Kita hidup di era ketika popularitas sering lebih dihargai daripada kapasitas, ketika pencitraan kadang lebih penting daripada ketulusan. Dalam situasi seperti itu, sekolah kader seperti Muallimin menjadi semakin relevan.

Pemimpin masa depan tidak cukup hanya cerdas secara akademik. Mereka harus memiliki ketahanan moral dan kematangan spiritual. Sebab tantangan terbesar pemimpin modern bukan hanya kompetisi global, melainkan godaan kekuasaan, materialisme, dan narsisme sosial. Pendidikan kepemimpinan sejati harus mampu menanamkan kesadaran bahwa jabatan bukan sarana memperbesar diri, melainkan alat untuk melayani.

Karena itu, momen Haflah Takharruj sesungguhnya bukan garis akhir, tetapi titik awal perjalanan panjang. Para wisudawan hari ini baru saja memasuki kehidupan nyata yang penuh tantangan. Mereka akan bertemu dunia yang tidak selalu ideal. Akan ada godaan pragmatisme, tekanan sosial, bahkan mungkin kekecewaan. Namun justru di situlah nilai pendidikan diuji. Apakah ilmu yang diperoleh mampu menjaga integritas? Apakah nilai yang ditanamkan mampu menjadi kompas moral di tengah perubahan zaman?

Sebagai orang tua, kebahagiaan melihat putra tercinta diwisuda tentu sulit diungkapkan dengan kata-kata. Ada rasa haru ketika menyadari bahwa anak yang dahulu diantar dengan penuh kecemasan kini berdiri lebih dewasa dengan semangat dan cita-cita yang lebih matang. Namun kebanggaan sejati bukan hanya karena kelulusan itu sendiri, melainkan harapan bahwa anak-anak ini kelak tumbuh menjadi manusia yang berguna bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan.

Nama seperti Zidni Ilman Nafian mungkin hari ini hanyalah satu dari ratusan wisudawan. Tetapi sejarah sering kali lahir dari orang-orang muda yang ditempa dengan nilai dan idealisme. Tidak ada yang tahu siapa di antara mereka yang kelak menjadi pemimpin besar, pembaru pendidikan, penggerak sosial, atau penjaga moral bangsa. Namun satu hal yang pasti, setiap generasi memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan obor peradaban.

Seabad lulusan Muallimin menunjukkan bahwa pendidikan kader tidak pernah kehilangan relevansinya. Bangsa ini selalu membutuhkan manusia-manusia yang berilmu sekaligus berakhlak, modern tetapi tetap berakar pada nilai, religius namun terbuka terhadap kemajuan. Di tengah dunia yang semakin bising oleh konflik dan kepentingan, kehadiran sekolah calon pemimpin adalah harapan agar lahir generasi yang mampu menghadirkan keteduhan dan kebijaksanaan.

Haflah Takharruj ke-100 bukan sekadar perayaan kelulusan, yang oebih penting adalah tentang kesinambungan cita-cita. Tentang keyakinan bahwa pendidikan masih menjadi jalan paling mulia untuk membangun masa depan bangsa. Dan dari ruang-ruang sederhana di Muallimin itu, sejarah mungkin sedang menyiapkan pemimpin-pemimpin masa depan yang kelak akan memberi cahaya bagi Indonesia dan dunia.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

Oleh: Akhiruddin Nasution  Haji Ilyas Miloen, nama ini bagi warga Persyarikatan Muhammadiyah, ....

Suara Muhammadiyah

28 October 2023

Berita

SIDRAP, Suara Muhammadiyah – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswi Universit....

Suara Muhammadiyah

19 February 2026

Berita

SURAKARTA, Suara Muhammadiyah – Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM) ....

Suara Muhammadiyah

20 September 2023

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali ....

Suara Muhammadiyah

20 March 2025

Berita

MEDAN, Suara Muhammadiyah - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M....

Suara Muhammadiyah

9 July 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah