Sebuah Ironi Dalam Dunia Kerja Hari Ini; Ketika yang Sudah Bekerja Ingin Berhenti, sementara yang Belum Bekerja Berjuang Mendapat Kesempatan
Oleh: Muhammad Zakiy (Dosen Ekonomi Syariah UMY)
Dunia kerja hari ini menghadirkan sebuah ironi yang semakin nyata. Di satu sisi, ada orang yang setiap pagi berangkat bekerja dengan tubuh yang lelah, pikiran yang penuh tekanan, target yang terus bertambah, rapat yang tidak berkesudahan, dan tuntutan untuk selalu produktif. Di sisi lain, pada waktu yang hampir bersamaan, ada orang lain yang membuka laptop, memperbarui CV, mengirim lamaran ke berbagai perusahaan, mengikuti tes dan wawancara, lalu menunggu berhari-hari bahkan berbulan-bulan tanpa kepastian.
Ironi itu bukan sekadar ungkapan emosional. Ia menggambarkan dua realitas yang hidup berdampingan dalam pasar kerja modern. Data BPS menunjukkan bahwa pada Februari 2026 terdapat sekitar 154,91 juta orang dalam angkatan kerja, dengan 147,67 juta orang bekerja, sementara Tingkat Pengangguran Terbuka berada pada 4,68 persen. Rata-rata upah buruh tercatat sekitar Rp3,29 juta per bulan. Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa dunia kerja bukan hanya tentang tersedia atau tidak tersedianya pekerjaan, tetapi juga tentang kualitas pekerjaan, kecocokan pekerjaan, keamanan kerja, penghasilan, kesempatan berkembang, dan makna yang dirasakan seseorang dari pekerjaannya.
Ada masa ketika seseorang berdoa agar diterima bekerja. Ia membayangkan pekerjaan sebagai jawaban atas kebutuhan hidup, sebagai pintu menuju kemandirian, sekaligus sebagai bentuk aktualisasi diri. Namun setelah pekerjaan itu diperoleh, realitas terkadang berbeda. Target meningkat. Tanggung jawab bertambah. Teknologi membuat pekerjaan menjadi semakin cepat. Komunikasi digital membuat batas antara waktu kerja dan waktu pribadi semakin kabur. Seorang pekerja mungkin sudah pulang dari kantor, tetapi pekerjaannya belum benar-benar selesai karena pesan WhatsApp, email, atau permintaan atasan, bawahan, klien, konsumen masih terus masuk.
Akhirnya muncul paradoks yaitu “Ada yang mengeluh karena tanggung jawab, ada yang berdoa agar diberi kesempatan”.
Bagi sebagian pekerja, pekerjaan adalah sumber penghasilan sekaligus sumber kelelahan psikologis. Mereka bukan tidak bersyukur. Mereka hanya sedang menghadapi kenyataan bahwa bekerja dalam organisasi modern saat ini tidak selalu identik dengan kesejahteraan. Sebaliknya, bagi seseorang yang belum mendapatkan pekerjaan, memperoleh kesempatan wawancara saja bisa menjadi sesuatu yang sangat berarti bagi mereka. Untuk itu, persoalan dunia kerja tidak cukup dilihat dari pertanyaan: “Apakah seseorang sudah bekerja?” Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Apakah pekerjaan tersebut memungkinkan manusia hidup secara layak, berkembang, dihargai, dan tetap memiliki kehidupan di luar pekerjaan?”
Salah satu ironi terbesar adalah ketika seseorang yang telah memiliki pekerjaan mulai berpikir untuk mengundurkan diri, sementara orang lain yang belum bekerja bahkan rela menerima pekerjaan yang tidak sepenuhnya sesuai dengan pendidikan, minat, atau cita-citanya. “Ada yang ingin berhenti dari pekerjaan, ada yang rela melakukan apa saja demi mendapatkannya”. Namun di sinilah kita perlu berhati-hati. Pernyataan tersebut bukan berarti orang yang ingin resign adalah orang yang tidak bersyukur, dan bukan pula berarti pencari kerja harus menerima kondisi kerja yang tidak manusiawi.
Dunia kerja yang sehat harus mampu membedakan antara ketangguhan dan eksploitasi. Ketangguhan berarti seseorang mampu menghadapi kesulitan, belajar dari tekanan, dan bertahan ketika keadaan belum ideal. Tetapi eksploitasi terjadi ketika seseorang terus-menerus dituntut bekerja tanpa penghargaan yang layak, tanpa perlindungan, tanpa kesempatan berkembang, atau bahkan tanpa penghormatan terhadap martabatnya sebagai manusia. Oleh karena itu, tanggung jawab membangun dunia kerja bukan hanya berada di pundak pekerja. Organisasi, pemimpin, pemerintah, institusi pendidikan, dan masyarakat juga memiliki tanggung jawab.
Dunia kerja berubah: yang dicari bukan hanya ijazah
Dinamika pekerjaan saat ini juga memperlihatkan perubahan besar dalam hubungan antara pendidikan dan pekerjaan. Gelar akademik tetap penting, tetapi tidak lagi selalu menjadi jaminan memperoleh pekerjaan. Perusahaan semakin mencari kombinasi antara kompetensi teknis, kemampuan digital, komunikasi, kemampuan beradaptasi, kreativitas, kolaborasi, problem solving, dan karakter. Dalam konteks ini, manusia tidak lagi cukup hanya menjadi job holder. Ia harus menjadi continuous learner. Pekerja perlu terus belajar karena pekerjaan berubah. Profesi yang hari ini dianggap penting dapat berubah bentuk beberapa tahun kemudian. Teknologi, otomatisasi, kecerdasan buatan, ekonomi digital, dan perubahan model bisnis membuat organisasi semakin membutuhkan manusia yang mampu beradaptasi.
Tetapi ada bahaya lain yaitu jangan sampai manusia akhirnya hanya dipandang sebagai “resource” yang harus selalu produktif. Manajemen sumber daya manusia seharusnya tidak berhenti pada bagaimana membuat pekerja lebih produktif. Pertanyaan yang lebih fundamental adalah: Produktif untuk apa? Untuk siapa? Dan dengan mengorbankan apa? Manusia bukan mesin produksi. Ia memiliki keluarga, kebutuhan sosial, spiritualitas, emosi, harga diri, dan kebutuhan akan makna.
Dalam masyarakat modern, keberhasilan sering kali diukur melalui jabatan, gaji, posisi, rumah, kendaraan, atau pencapaian karier yang bagus. Padahal pekerjaan seharusnya bukan sekadar sarana memperoleh pendapatan. Dalam perspektif Islam, bekerja dapat menjadi bagian dari ibadah ketika dilakukan dengan niat yang benar, cara yang halal, amanah, dan memberikan manfaat. Islam memberikan penghargaan tinggi terhadap kerja dan usaha. Al-Qur'an mengingatkan bahwa manusia memperoleh sesuai dengan apa yang diusahakannya (QS. An-Najm: 39). Namun Islam juga mengajarkan bahwa hasil bukan sepenuhnya berada dalam kendali manusia. Di sinilah konsep ikhtiar, tawakkal, dan qadar menjadi sangat relevan dalam kehidupan kerja. Ikhtiar mengajarkan manusia untuk berusaha secara sungguh-sungguh. Tawakkal mengajarkan manusia menyerahkan hasil kepada Allah setelah melakukan usaha terbaik. Sedangkan kesadaran terhadap qadar mengajarkan manusia menerima bahwa tidak semua hasil dapat dikendalikan oleh manusia.
Maka, kegagalan mendapatkan pekerjaan bukan selalu berarti seseorang tidak kompeten. Tidak segera mendapatkan promosi bukan berarti usaha seseorang sia-sia. Demikian pula kehilangan pekerjaan tidak otomatis berarti masa depan seseorang telah berakhir. Ada bagian dari kehidupan yang dapat kita kendalikan seperti usaha, integritas, kompetensi, sikap, dan keputusan. Namun ada pula yang berada di luar kendali kita yaitu kapan kesempatan datang, siapa yang memilih kita, kapan promosi diberikan, atau kapan sebuah perusahaan melakukan restrukturisasi.
“Bersungguh-sungguh” saja tidak selalu cukup Pesan Prof. Haedar Nashir sangat relevan untuk direnungkan dalam konteks ini yaitu “Banyak orang sukses bersungguh-sungguh, tapi gagal dalam bersabar”. Kalimat ini mengandung kritik sekaligus pelajaran penting tentang dunia kerja. Banyak orang memiliki semangat untuk sukses. Mereka bekerja keras, belajar, membangun jaringan, mengejar target, dan berusaha meningkatkan kompetensi. Namun tidak semua orang mampu menjalani proses yang panjang. Padahal karier bukan perlombaan lari seratus meter. Karier lebih menyerupai perjalanan panjang yang membutuhkan konsistensi. Ada orang yang gagal mendapatkan pekerjaan setelah sepuluh lamaran. Ada yang baru diterima setelah puluhan lamaran. Ada yang membutuhkan bertahun-tahun untuk mendapatkan posisi yang diinginkan. Ada pula yang baru menemukan pekerjaan yang benar-benar sesuai setelah mencoba beberapa bidang.
Untuk itu, bersungguh-sungguh membutuhkan pasangan bernama sabar. Kesungguhan membuat kita bergerak, kesabaran membuat kita tidak berhenti, dan tawakkal membuat kita tidak kehilangan arah ketika hasil belum sesuai harapan.
Pada akhirnya, mungkin kita perlu belajar melihat pekerjaan dengan perspektif yang berbeda. Pekerjaan yang hari ini kita anggap melelahkan mungkin adalah pekerjaan yang sedang didambakan seseorang. Gaji yang kita anggap kecil mungkin adalah penghasilan yang sangat berarti bagi keluarga lain. Jabatan yang kita anggap biasa mungkin adalah pencapaian besar bagi seseorang yang bertahun-tahun berjuang. Oleh karena itu sesuatu yang kita keluhkan hari ini, bisa jadi adalah sesuatu yang sedang diperjuangkan orang lain dalam doanya setiap hari.
Pesan bagi pekerja yaitu bersyukurlah atas pekerjaan sambil terus meningkatkan kualitas diri, dan bagi pencari kerja, jangan berhenti berusaha hanya karena beberapa pintu belum terbuka. Untuk pimpinan organisasi, jangan hanya menuntut loyalitas, tapi ciptakan lingkungan yang layak untuk membuat orang ingin bertahan. Di tengah hiruk-pikuk dunia kerja hari ini, kita perlu mengingat satu hal sederhana yaitu Tidak semua orang sedang mengeluhkan pekerjaan yang sama. Sebagian sedang berdoa agar suatu hari nanti mereka mendapat kesempatan untuk mengeluhkannya.

