Sebuah Refleksi tentang Hati, Ilmu, dan Ketundukan

Suara Muhammadiyah

15 August 2026

39
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Sebuah Refleksi tentang Hati, Ilmu, dan Ketundukan

Oleh: Dr. Jaharuddin, Dosen FEB Universitas Muhammadiyah Jakarta

Ada satu kecenderungan yang sering muncul ketika manusia membaca sejarah, kita merasa sedang membaca kehidupan orang lain. Kita mengenal nama-nama umat terdahulu, mengetahui kesalahan mereka, mendengar bagaimana mereka menolak para utusan Allah, lalu merasa bahwa kisah itu telah selesai bersama berlalunya zaman. Padahal, bagi seorang mukmin, kisah-kisah semacam itu tidak seharusnya hanya meninggalkan informasi. Ia seharusnya melahirkan perenungan. Pertanyaan yang penting bukan hanya, “Apa yang dahulu mereka lakukan?”, tetapi juga, “Pelajaran apa yang harus saya bawa pulang untuk memperbaiki diri saya hari ini?”

Surah At-Taghabun ayat 5–6 memberikan ruang perenungan yang sangat kuat. Pada ayat kelima, Allah mengingatkan tentang orang-orang yang kufur pada masa sebelumnya. Mereka telah merasakan akibat buruk dari perbuatannya dan bagi mereka terdapat azab yang pedih. Ayat keenam kemudian menerangkan bahwa para rasul telah datang kepada mereka membawa al-bayyināt, keterangan-keterangan yang jelas, tetapi mereka mempertanyakan bagaimana manusia dapat memberi petunjuk kepada mereka, kemudian mereka ingkar dan berpaling. Pada akhir ayat ditegaskan bahwa Allah tidak membutuhkan mereka; Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji. Inilah struktur dasar ayat yang dapat kita pegang dengan aman sebelum melangkah kepada wilayah refleksi.

Salah satu pelajaran yang dapat direnungkan dari susunan tersebut adalah bahwa persoalan manusia tidak selalu berhenti pada kurangnya informasi. Dalam konteks ayat ini, risalah telah disampaikan dan para rasul telah membawa bayyināt. Namun penyampaian kebenaran tidak otomatis menghasilkan penerimaan. Ada jarak antara mengetahui bahwa sesuatu telah disampaikan dengan kesediaan seseorang untuk menerimanya. Di sinilah ayat tersebut mengajak kita memikirkan sesuatu yang sangat mendasar dalam kehidupan manusia, kebenaran bukan hanya membutuhkan pikiran yang mampu mengenalinya, tetapi juga hati yang bersedia tunduk kepadanya.

Tentu refleksi seperti ini harus ditempatkan secara proporsional. Kita tidak boleh mengambil ayat yang secara langsung berbicara tentang orang-orang yang mengingkari para rasul, kemudian dengan mudah menerapkannya sebagai vonis kekafiran terhadap orang yang berbeda pendapat, orang yang sedang melakukan kesalahan, atau seorang Muslim yang masih memiliki kelemahan akhlak. Itu adalah lompatan yang tidak tepat. Yang dapat kita ambil adalah ibrah, kesombongan, penolakan terhadap nasihat, kecenderungan mempertahankan diri, dan ketidakmauan tunduk kepada kebenaran adalah penyakit moral yang patut diwaspadai siapa pun. Mengambil pelajaran tidak sama dengan menyamakan status keagamaan seseorang dengan kaum yang dibicarakan ayat.

Justru di sinilah Al-Qur’an dapat menjadi cermin yang sangat personal. Cermin tidak diberikan kepada kita agar kita sibuk melihat wajah orang lain. Ia diberikan agar kita melihat diri sendiri. Maka setelah membaca ayat tentang orang-orang yang berpaling, pertanyaan pertama seorang mukmin seharusnya bukan, “Siapa orang di sekitar saya yang seperti mereka?”, tetapi, “Adakah dalam diri saya kecenderungan untuk menolak sesuatu hanya karena ia tidak sesuai dengan keinginan saya?” Pertanyaan seperti ini lebih aman, lebih mendidik, dan jauh lebih bermanfaat bagi kehidupan spiritual.

Kadang-kadang yang paling sulit bukanlah menemukan kebenaran, melainkan membiarkan kebenaran mengoreksi diri kita. Kita dapat menerima nasihat selama nasihat itu ditujukan kepada orang lain. Kita dapat berbicara tentang tawaduk selama kita tidak sedang dikoreksi. Kita dapat memuji musyawarah selama pendapat kita diterima. Kita dapat berbicara tentang keikhlasan selama nama kita tetap disebut. Tetapi kualitas batin seseorang mulai diuji ketika kebenaran mengharuskannya mengurangi ego, mengakui kesalahan, mengubah pendapat, atau melepaskan sesuatu yang sangat ia cintai.

Di sinilah ilmu juga menghadapi ujiannya sendiri. Ilmu adalah kemuliaan apabila ia menuntun manusia kepada kejernihan, ketakwaan, keadilan, dan kerendahan hati. Tetapi banyak mengetahui tidak dengan sendirinya menjamin seseorang telah terbebas dari ego. Manusia masih mungkin menggunakan kecerdasannya untuk mencari kebenaran, tetapi ia juga mungkin menggunakan kecerdasannya untuk membela sesuatu yang sejak awal ingin ia benarkan. Karena itu, salah satu latihan intelektual yang sangat penting adalah belajar membedakan dua hal yang tampaknya serupa, mencintai kebenaran dan mencintai pendapat kita sendiri tentang kebenaran.

Orang yang sungguh-sungguh mencari kebenaran tidak harus kehilangan pendirian. Ia boleh memiliki keyakinan yang kuat, argumentasi yang kokoh, dan pandangan yang tegas. Namun kekuatan itu tetap ditemani oleh kesadaran bahwa dirinya adalah manusia yang mungkin keliru. Ia tidak merasa rendah ketika harus mengatakan, “Dalam bagian ini saya belum tahu.” Ia tidak kehilangan kehormatan ketika harus berkata, “Pendapat saya perlu diperbaiki.” Justru kemampuan mengoreksi diri adalah salah satu tanda bahwa ilmu masih berfungsi sebagai cahaya, bukan berubah menjadi alat untuk meninggikan diri.

Refleksi ini sangat penting bagi orang-orang yang memperoleh amanah dalam dakwah, pendidikan, kepemimpinan, dan pelayanan umat. Semakin sering seseorang berbicara, semakin ia perlu memastikan bahwa dirinya masih mampu mendengar. Semakin sering ia menasihati, semakin ia perlu memeriksa apakah dirinya masih dapat menerima nasihat. Semakin luas pengaruh seseorang, semakin besar kebutuhannya untuk mempunyai ruang sunyi bersama Allah, tempat ia tidak sedang menjadi tokoh, pemimpin, pembicara, guru, atau orang yang dihormati. Di hadapan Allah, semua gelar sosial itu tidak dapat menggantikan ketulusan hati.

Ada bahaya yang sangat halus dalam aktivitas kebaikan, manusia dapat memulai suatu amal karena Allah, kemudian tanpa sadar mulai terlalu menikmati pengakuan manusia. Ia masih berbicara tentang agama, tetapi hatinya mulai mencari penghargaan. Ia masih mengajak kepada kebaikan, tetapi menjadi gelisah ketika orang lain lebih diperhatikan. Ia masih bekerja untuk umat, tetapi kecewa ketika jasanya tidak diketahui. Hal-hal seperti ini tidak perlu dijadikan alasan untuk meninggalkan amal. Justru ia menjadi alasan untuk terus memperbaiki niat. Hati manusia berubah-ubah, dan karena itu keikhlasan bukan sesuatu yang sekali diperoleh kemudian selesai; ia perlu terus dijaga.

Pada akhir ayat keenam terdapat kalimat yang sangat kuat untuk meruntuhkan rasa penting dalam diri manusia, Allah tidak membutuhkan mereka, dan Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji. Kesadaran ini membawa kita kepada inti kehambaan. Allah tidak menjadi lebih agung karena ibadah kita, dan kekuasaan-Nya tidak bergantung pada kontribusi kita. Kita yang membutuhkan Allah. Kita membutuhkan petunjuk-Nya agar tidak kehilangan arah. Kita membutuhkan ibadah agar hati tidak sepenuhnya dikuasai keinginan. Kita membutuhkan Al-Qur’an agar kehidupan tidak hanya diukur dengan keuntungan, popularitas, kekuasaan, atau kenyamanan.

Pemahaman semacam ini juga penting dalam dakwah. Kita sebaiknya berhati-hati terhadap perasaan bahwa agama atau perjuangan Islam bergantung kepada diri kita. Setiap amanah adalah kehormatan, tetapi bukan alasan untuk merasa berjasa kepada Allah. Bila seseorang diberi kesempatan mengajar, berdakwah, menulis, memimpin, atau melayani masyarakat, sikap batin yang lebih sehat bukanlah, “Betapa pentingnya saya bagi dakwah,” melainkan, “Betapa besar karunia Allah karena saya masih diberi kesempatan untuk melakukan sesuatu yang mudah-mudahan bernilai di sisi-Nya.”

Kesadaran tersebut tidak mengecilkan peran manusia. Sebaliknya, ia membersihkan peran itu dari kesombongan. Kita tetap bekerja dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak menyembah hasil. Kita tetap membangun lembaga, tetapi tidak menganggap lembaga sebagai tujuan akhir. Kita tetap mengembangkan pemikiran, tetapi tidak menjadikan kecerdasan sebagai berhala baru. Kita tetap berusaha menjadi bermanfaat, tetapi tidak menggantungkan harga diri kepada tepuk tangan manusia. Ada kebebasan spiritual yang sangat besar ketika seseorang memahami bahwa tugasnya adalah berikhtiar sebaik mungkin, sedangkan nilai terakhir amalnya berada dalam pengetahuan dan penilaian Allah.

Di tengah zaman yang dipenuhi informasi dan pendapat, pelajaran ini semakin penting. Hari ini orang dapat berbicara kepada ribuan manusia dalam beberapa detik. Pendapat dapat tersebar sebelum sempat direnungkan. Perdebatan dapat dimenangkan karena retorika, bukan karena kebenaran. Popularitas dapat disalahpahami sebagai ukuran otoritas. Dalam keadaan semacam itu, kita membutuhkan jenis kecerdasan yang lebih dalam, kemampuan untuk menunda penilaian, memeriksa informasi, membedakan fakta dan tafsir, mendengar orang lain secara adil, serta berani mengoreksi diri ketika alasan yang lebih kuat ditemukan.

Barangkali salah satu tanda kematangan spiritual dan intelektual adalah ketika seseorang tidak lagi merasa harus memenangkan setiap percakapan. Ada saat ketika mengatakan “saya belum tahu” lebih dekat kepada amanah ilmu daripada memaksakan jawaban. Ada saat ketika mendengar lebih bermanfaat daripada berbicara. Ada saat ketika meminta maaf jauh lebih mulia daripada mempertahankan citra. Dan ada saat ketika mundur dari pendapat yang lemah justru menunjukkan kekuatan jiwa. Kemenangan terbesar bukan selalu ketika orang lain akhirnya mengakui bahwa kita benar, tetapi ketika kita berhasil mengalahkan keinginan untuk selalu dianggap benar.

Karena itu, QS. At-Taghabun ayat 5–6 sebaiknya tidak hanya dibaca sebagai cerita tentang kegagalan orang-orang dahulu. Ia dapat menjadi pintu muhasabah bagi manusia hari ini, selama kita menjaga batas antara makna langsung ayat dan refleksi yang kita kembangkan darinya. Ayat itu memperingatkan tentang mereka yang mengingkari para rasul; sedangkan bagi kita, salah satu pelajaran moral yang dapat direnungkan adalah pentingnya menjaga hati agar tidak sombong terhadap kebenaran. Kita tidak mengambil ayat untuk menghakimi orang lain, tetapi untuk membuat diri sendiri lebih berhati-hati.

Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu menemani perjalanan ilmu dan iman kita mungkin bukan hanya, “Seberapa banyak kebenaran yang telah saya ketahui?” Ada pertanyaan yang lebih sunyi dan lebih berat, “Ketika kebenaran itu mengharuskan saya berubah, apakah saya masih bersedia mengikutinya?” Ketika nasihat menyentuh kelemahan kita, ketika bukti meminta kita memperbaiki pandangan, ketika agama meminta kita meninggalkan kepentingan pribadi, ketika amanah meminta kita mengalahkan ego—di situlah kualitas ketundukan mulai terlihat.

Semoga Allah menjaga kita dari pengetahuan yang membuat hati semakin keras, dari amal yang melahirkan rasa berjasa, dari dakwah yang membuat kita lupa memperbaiki diri, dan dari kecerdasan yang hanya digunakan untuk membenarkan ego. Semoga ilmu membuat kita semakin jernih, amanah membuat kita semakin rendah hati, perbedaan membuat kita semakin adil, dan setiap kebenaran yang sampai kepada kita menjadi jalan untuk semakin dekat kepada Allah. Sebab pada akhirnya, kemuliaan seorang manusia bukan terletak pada seberapa sering ia berhasil membuktikan dirinya benar di hadapan manusia, tetapi pada seberapa tulus ia bersedia memperbaiki dirinya ketika kebenaran datang mengetuk pintu hatinya.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Oleh: Sudarnoto Abdul Hakim  Gugatan heroik Afrika Selatan terhadap Israel di Mahkamah Interna....

Suara Muhammadiyah

27 January 2024

Wawasan

Pendidikan Kuat, Bangsa Berdaulat Penulis: Moh In’ami, PDM Kudus Membicarakan masalah pendid....

Suara Muhammadiyah

2 May 2026

Wawasan

Idul Fitri Tradisi Menyemai Nilai Autentik Oleh: Rumini Zulfikar (GusZul), Penasehat PRM Troketon ....

Suara Muhammadiyah

15 April 2024

Wawasan

Pentingnya Peran Ulama Menuntun Umaro sebagai Pengayom dan Pemakmur Umat Oleh: Rumini Zulfikar, Pen....

Suara Muhammadiyah

10 December 2024

Wawasan

Oleh: Amalia Irfani Aksi bela Palestina yang bergemuruh dipenjuru negeri dan terus menjadi gerakan ....

Suara Muhammadiyah

13 November 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah