Secanggih-canggihnya Artificial Intelligence, Manusia Tetap Segala-galanya dalam Kehidupan

Suara Muhammadiyah

5 October 2026

132
Prof Dr Haedar Nashir, MSi. Foto: Cris

Prof Dr Haedar Nashir, MSi. Foto: Cris

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Membangun sistem organisasi menjadi keniscayaan. Dan itu, kata Haedar Nashir, harus terus dihidupkan. “Sebagai kekuatan yang akan jauh lebih abadi ketimbang person (orang),” kata Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu.

Dalam hal ini, Muhammadiyah, disebut Haedar terus melakukan itu. Yang kemudian diwujudkan melahirkan KTAM (Kartu Tanda Anggota Muhammadiyah), SatuMu (paltform digital terintegrasi untuk mendukung tata kelola Persyarikatan), dan MASA.

“Dan itu ternyata menggelinding sampai ke wilayah, daerah,” ujarnya. Ini yang disebut Haedar sebagai reformasi organisasi. Bahwa, reformasi organisasi di Muhammadiyah terus berjalan seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat.

 “Tetapi, Muhammadiyah ini sehebat-hebat kita kelola organisasi ini menjadi sebuah sistem digital, misalkan, tetap manusia harus menjadi bagian penting dari proses itu,” tekannya.

Meski saat ini, dunia berada dalam cengkeraman kecerdasan buatan (artificial intelligence) yang begitu rupa hebatnya. Di sinilah Muhammadiyah, kata Haedar, harus menjadi pelopor.

“Manusia adalah segala-galanya dalam kehidupan ini, fi ahsan at-taqwim (dalam bentuk penciptaan yang sebaik-baiknya),” tegas Haedar, Jumat (2/10) saat Ta’aruf PP Nasyiatul Aisyiyah periode 2026-2030 di SM Tower Malioboro Yogyakarta.

Menukil tulisan Komarudin Hidayat bertajuk Algo Sapiens: Ketika Manusia Dikendalikan Mesin, disebut kalau Algo Sapiens bukanlah manusia yang berubah menjadi robot, namun cara berpikir kebiasaannya semakin dipengaruhi dan dikendalikan oleh algoritma.

“Tetapi manusia ini tetap punya kekuatan kekuatan karena punya qalb dan punya akal pikiran yang tidak dimiliki oleh makhluk yang bernama artificial intelligence,” tekannya.

Dan itu, harus terus dihdupkan lewat koridor pendidikan, termasuk juga lewat medium pergerakan organisasi baik di Muhammadiyah, ‘Aisyiyah, maupun organisasi otonom (ortom).

“Pergerakan kita ini harus menghidupkan kecerdasan pikiran kita, menghidupkan kecerdasan hati kita,” tegasnya sekali lagi.

Dalam pada itu, Haedar mengutip 10 ikrar komitmen Nasyiatul Aisyiyah. Dari 10 ikrar tersebut, salah satu yang digarisbawahi Haedar di poin 6; membaca satu hari satu tema.

“Bagus itu kalau ditradisikan untuk menghidupkan pikiran kita, sehingga biarpun ada artificial intelligence, ada program berbagai aplikasi yang hebat, kita tetap menghidupkan pikiran kita, apalagi para pimpinan,” sebutnya. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

SLEMAN, Suara Muhammadiyah - 688 Siswa mengikuti kegiatan Ceria Pandu Athfal Kepanduan Hizbul Wathan....

Suara Muhammadiyah

15 April 2025

Berita

SM Akan Launching dan Bedah 70 Tahun Syafiq Mughni: Cendikiawan Melintas Batas  SIDOARJO, Suar....

Suara Muhammadiyah

13 June 2024

Berita

DENPASAR, Suara Muhammadiyah - Mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammad....

Suara Muhammadiyah

13 May 2024

Berita

SELANGOR, Suara Muhammadiyah - Rektor Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) Dr. Saidul Amin, di ....

Suara Muhammadiyah

5 November 2023

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Pondok Pesantren Modern (PPM) MBS Yogyakarta menggelar acara ....

Suara Muhammadiyah

14 July 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah