YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Sabtu pagi (31/1), Grha Ibnu Sina SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta terasa berbeda. Bukan hanya lantunan ayat suci yang mengalun lembut, tetapi juga wajah-wajah muda yang memancarkan keteduhan. Di ruangan itu, 132 siswa sekolah dan madrasah Muhammadiyah se-Kota Yogyakarta berdiri dengan satu prestasi yang sama: menjadi penghafal Al-Qur’an.
Mengusung tema “Mewujudkan Generasi Qur’ani untuk Negeri. Menebar Damai di Bumi Pertiwi”, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Yogyakarta mewisuda 42 siswa dan 85 siswi dalam Wisuda Tahfidz Al-Qur’an. Bagi Muhammadiyah, momen ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan investasi jangka panjang untuk masa depan bangsa.
Ketua Majelis Pendidikan Dasar Menengah dan Pendidikan Non Formal PDM Kota Yogyakarta, Dr Ishafit, MSi menegaskan bahwa para hafidz hari ini adalah calon pemimpin masa depan. Menurutnya, tidak mustahil dari barisan wisudawan tersebut kelak lahir sosok pemimpin negara yang unggul secara intelektual sekaligus kokoh secara moral.
“Ini adalah ikhtiar sekolah-sekolah Muhammadiyah untuk menghadirkan generasi Qur’ani. Harapannya, mereka kelak menjadi pemimpin bangsa yang menebarkan kedamaian, kesejahteraan, dan keadilan,” ujarnya.
Program tahfidz sendiri telah menjadi ciri khas pendidikan Muhammadiyah. Melalui kurikulum ISMUBA (Al-Islam, Muhammadiyah, dan Bahasa Arab), tahfidz bukan hanya kegiatan tambahan, tetapi bagian integral dari pembentukan karakter peserta didik.
Bahkan, dalam dua tahun terakhir, standar wisuda diperketat. Hanya siswa dengan hafalan minimal dua juz yang dapat mengikuti prosesi wisuda.
Kebanggaan serupa diungkapkan Ketua PDM Kota Yogyakarta H Aris Madani, SPdI., MSi baginya, setiap ayat yang dihafalkan adalah benih kebaikan yang ditanam untuk masa depan. Ia menyebut wisuda tahfidz sebagai hari bersejarah bagi Muhammadiyah.
“Prestasi kalian bukan hanya soal hafalan, tetapi tentang kegigihan, keuletan, dan kesabaran. Setiap hal yang indah selalu diawali dengan proses yang sulit,” tuturnya di hadapan para santri.
Aris juga berpesan agar para hafidz senantiasa menjaga hafalan, bersikap tawadu, serta santun dalam kehidupan sehari-hari. Ia menyebut para wisudawan sebagai “anak panah Muhammadiyah” yang siap menjadi kader penerus perjuangan Persyarikatan.
Di balik keberhasilan para santri, ada peran besar para pendidik. Aris secara khusus menyampaikan apresiasi kepada para ustaz dan ustazah yang dengan sabar dan ikhlas membimbing para siswa hingga mampu menghafal Al-Qur’an. “Semoga Allah membalas jasa para guru dengan pahala yang berlipat ganda. Jazakumullahu khairan katsira,” ucapnya.
Dukungan juga datang dari Pemerintah Kota Yogyakarta. Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat, Hilmy Arifin, SE., MSE., MArt menyebut Muhammadiyah sebagai salah satu pilar utama lahirnya hafidz Al-Qur’an di Kota Yogyakarta.
“Keteguhan generasi muda ini tidak lahir di ruang hampa. Mereka tumbuh dari institusi yang memiliki visi besar dalam menjaga moralitas bangsa. Muhammadiyah sedang mencetak generasi yang cerdas secara intelektual dan beradab sebelum berilmu,” ungkapnya.
Wisuda tahfidz ini pun menjadi penanda bahwa pendidikan tidak hanya soal nilai akademik, tetapi juga tentang membangun jiwa. Dari Kota Pelajar, Muhammadiyah terus menanam benih kebaikan, menghadirkan generasi Qur’ani yang kelak menebar damai di Bumi Pertiwi. (Fab)

