Semarak Milad ke-109 'Aisyiyah Sragen

Suara Muhammadiyah

24 July 2026

136
Istimewa

Istimewa

Luncurkan GACA, Perkuat Gerakan Perlindungan Anak

SRAGEN, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Daerah 'Aisyiyah (PDA) Kabupaten Sragen meluncurkan Gerakan 'Aisyiyah Cinta Anak (GACA) dalam Resepsi Milad ke-109 'Aisyiyah yang dirangkaikan dengan Peringatan Hari Anak Nasional ke-42, Kamis (23/7/2026).

Mengusung tema "Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan melalui Gerakan 'Aisyiyah Cinta Anak (GACA): Sayang Anak, Lindungi, dan Bangun Masa Depan", kegiatan ini menjadi momentum penguatan komitmen 'Aisyiyah dalam membangun gerakan dakwah kemanusiaan untuk memperkuat perlindungan anak melalui kolaborasi keluarga, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan.

Acara dihadiri Bupati Sragen Sigit Pamungkas, S.IP., M.A., Ketua Pimpinan Wilayah 'Aisyiyah (PWA) Jawa Tengah Dr. Eny Winaryati, M.Pd., Ketua Majelis Tabligh dan Ketarjihan Pimpinan Pusat 'Aisyiyah Evi Sofia Inayati, S.Psi., jajaran Pimpinan Daerah Muhammadiyah dan 'Aisyiyah, pimpinan organisasi perempuan, kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), serta ratusan kader 'Aisyiyah se-Kabupaten Sragen.

Dalam sambutannya, Bupati Sragen mengajak 'Aisyiyah untuk terus menjadi mitra strategis pemerintah dalam mengatasi berbagai persoalan anak dan keluarga, mulai dari stunting, perundungan (bullying), kekerasan terhadap anak, hingga penguatan ketahanan ekonomi keluarga.

Sigit mengakui, di tengah derasnya arus informasi saat ini, masyarakat mudah terjebak pada pesimisme karena terus disuguhi berbagai persoalan sosial.

"Mudah bagi kita untuk melipat tangan dan berkata: 'Masalah daerah ini terlalu besar, masalah bangsa ini terlalu rumit, apa yang bisa dilakukan oleh sebuah organisasi perempuan?'"

Namun, menurutnya, optimisme justru tumbuh ketika melihat kiprah para kader 'Aisyiyah yang selama ini konsisten mengabdi di tengah masyarakat.

"Namun, berdiri di podium ini, menatap wajah-wajah Ibu-Ibu kader 'Aisyiyah, para perempuan berkemajuan yang mengenakan kerudung dengan senyum ketulusan, saya menolak pesimisme itu!" tegasnya.

Sementara itu, Ketua PDA Kabupaten Sragen, Dra. Dwi Astuti, M.Pd., menjelaskan bahwa GACA merupakan implementasi nilai-nilai Al-Qur'an, khususnya QS An-Nisa ayat 9, sebagai gerakan bersama untuk mewujudkan generasi yang kuat, berkarakter, terlindungi, dan berkemajuan.

Selain peluncuran GACA, resepsi milad juga diisi dengan tausiyah oleh Ketua Majelis Tabligh dan Ketarjihan Pimpinan Pusat 'Aisyiyah, Evi Sofia Inayati, S.Psi.

Dalam tausiyahnya, Evi menegaskan bahwa perlindungan anak merupakan bagian dari dakwah kemanusiaan yang harus menjadi gerakan bersama. 

Ia mengajak seluruh kader 'Aisyiyah untuk memperkuat implementasi Fikih Perlindungan Anak, membangun lingkungan yang aman dan ramah anak, serta terus berkolaborasi dengan keluarga, masyarakat, dan pemerintah dalam mewujudkan generasi yang berkualitas menuju Indonesia Emas 2045.

Menyiapkan Generasi Radhiyyan

Anak bukan sekadar hadir untuk memenuhi kebahagiaan sebuah keluarga. Mereka adalah amanah yang harus dipersiapkan menjadi generasi penerus, bukan hanya penerus garis keturunan, melainkan penerus nilai, perjuangan, dan peradaban.

Pesan itulah yang mengemuka dalam ceramah Ketua Pimpinan Wilayah 'Aisyiyah (PWA) Jawa Tengah, Dr. Eny Winaryati, M.Pd., pada resepsi Milad 'Aisyiyah Pimpinan Daerah 'Aisyiyah (PDA) Sragen yang dirangkai dengan Peringatan Hari Anak Nasional. 

Di hadapan peserta, ia mengajak seluruh keluarga besar 'Aisyiyah memaknai kehadiran anak sebagai amanah besar yang harus dipersiapkan sejak sebelum kelahirannya hingga tumbuh menjadi pribadi yang membawa kemaslahatan bagi sesama.

Menurutnya, inspirasi itu dapat ditemukan dalam kisah Nabi Zakariya yang diabadikan Allah dalam Surah Maryam ayat 1-13.

Nabi Zakariya tidak sekadar memohon dikaruniai seorang anak. Di usia senja, beliau memanjatkan doa agar Allah menganugerahkan seorang penerus yang mampu melanjutkan risalah dan perjuangan menegakkan nilai-nilai kebenaran.

Doa itu dikabulkan melalui kelahiran Nabi Yahya. Sosok yang sejak usia dini dianugerahi hikmah, diperintahkan untuk berpegang teguh pada kitab Allah, serta tumbuh menjadi pribadi yang diridhai Allah (radhiyyan). 

Bagi Dr. Eny, kisah tersebut bukan sekadar sejarah para nabi, melainkan peta jalan pendidikan keluarga yang tetap relevan hingga hari ini.

"Memiliki anak bukan sekadar punya keturunan, tetapi melahirkan generasi rabban radhiyyan, generasi yang diridai Allah, beriman, berakhlak, dan menjadi penerus kebaikan.," ungkapnya.

Karena itu, proses mendidik anak tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan fisik. 

Anak membutuhkan keteladanan, kasih sayang, pembiasaan, penguatan karakter, serta lingkungan yang menumbuhkan kecintaan kepada ilmu dan nilai-nilai Islam.

Dalam pemaparannya, Dr. Eny menegaskan bahwa Surah Maryam ayat 1-13 menyimpan banyak pelajaran tentang pembangunan generasi. 

Anak dipandang sebagai karunia sekaligus amanah. Orang tua dituntut memiliki visi yang jelas dalam mendidik anak sebagai penerus perjuangan.

Pendidikan dimulai dengan doa, dilanjutkan dengan proses pengasuhan yang konsisten, hingga melahirkan generasi yang diridhai Allah.

Ia juga menyoroti pentingnya budaya literasi. Ketika Allah memerintahkan Nabi Yahya agar berpegang teguh pada kitab-Nya, pesan itu bukan hanya mengajarkan membaca teks wahyu, tetapi juga membangun tradisi berpikir. 

"Literasi tidak berhenti pada kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan membaca ilmu pengetahuan, membaca realitas sosial, serta membaca fenomena alam sebagai ayat-ayat kauniyah yang menunjukkan kebesaran Allah," paparnya. 

Di tengah derasnya perubahan zaman, anak-anak juga perlu dipersiapkan menjadi pribadi yang kuat, bukan hanya secara intelektual, tetapi juga secara mental, spiritual, dan moral.

Hikmah yang Allah anugerahkan kepada Nabi Yahya sejak usia kanak-kanak menjadi inspirasi bahwa karakter mulia dapat ditanamkan sejak dini melalui pendidikan yang tepat.

"Dunia membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak, peduli, serta mampu memberi manfaat bagi masyarakat," tegasnya.

Semangat membangun generasi itulah yang, menurut Dr. Eny, telah menjadi denyut gerakan 'Aisyiyah selama lebih dari satu abad. 

Setahap demi setahap, selangkah demi selangkah, organisasi perempuan Muhammadiyah ini menghadirkan dakwah kemanusiaan melalui gerakan amar makruf nahi mungkar yang diwujudkan dalam pendidikan, pelayanan kesehatan, pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, pembinaan keluarga, hingga berbagai pelayanan sosial.

Baginya, dakwah bukan hanya disampaikan melalui mimbar dan ceramah, tetapi diwujudkan dalam karya nyata yang menyentuh kehidupan masyarakat. 

Sekolah, taman kanak-kanak, rumah sakit, panti asuhan, hingga berbagai program pemberdayaan menjadi bukti bahwa dakwah dapat hadir dalam bentuk pelayanan dan pengabdian.

Momentum Milad 'Aisyiyah yang bertepatan dengan Hari Anak Nasional pun menjadi pengingat bahwa ikhtiar membangun generasi tidak boleh berhenti. 

Tantangan zaman terus berubah, namun cita-cita tetap sama, yakni melahirkan generasi radhiyyan, generasi yang beriman, mencintai ilmu, memiliki budaya literasi, kuat mental dan spiritual, berakhlak mulia, serta siap melanjutkan perjuangan mewujudkan masyarakat yang berkemajuan.

Membumikan Fikih Perlindungan Anak
 
Usia 109 tahun bukan sekadar penanda panjangnya perjalanan sebuah organisasi. Bagi 'Aisyiyah, usia itu adalah pengingat bahwa semakin panjang perjalanan, semakin besar pula amanah untuk terus menghadirkan manfaat bagi umat.
 
Pesan tersebut disampaikan Ketua Majelis Tabligh dan Ketarjihan Pimpinan Pusat 'Aisyiyah, Evy Sofia Inayati, S.Psi., dalam Resepsi Milad ke-109 'Aisyiyah yang dirangkaikan dengan Peringatan Hari Anak Nasional, yang diselenggarakan oleh Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Sragen, Kamis (23/7/2026). 
 
Menurutnya, rasa syukur atas usia panjang organisasi harus diwujudkan melalui dakwah yang membumi dan amal nyata yang dirasakan masyarakat.
 
Semangat itu telah menjadi karakter gerakan 'Aisyiyah sejak awal berdirinya. 
 
"Melalui tradisi filantropi berkemajuan berupa zakat, infak, sedekah, dan wakaf, 'Aisyiyah terus menggerakkan pemberdayaan masyarakat, memperkuat ketahanan keluarga, sekaligus menghadirkan solusi atas berbagai persoalan sosial," ungkapnya. 
 
Dalam kesempatan tersebut, Pimpinan Daerah 'Aisyiyah (PDA) Sragen juga mengukuhkan empat Pimpinan Ranting 'Aisyiyah (PRA). Bagi Evy Sofia, pengukuhan itu bukan sekadar pelantikan kepengurusan baru, melainkan awal dari semakin kuatnya gerakan di tingkat akar rumput.
 
Ia menegaskan bahwa kekuatan sesungguhnya 'Aisyiyah berada di ranting. Di sanalah para kader hidup berdampingan dengan masyarakat, memahami persoalan keluarga, mengenali kebutuhan anak-anak, dan menjadi pihak pertama yang dapat menghadirkan solusi.
 
Karena itu, setiap PRA didorong segera bergerak dengan program-program yang terarah, termasuk meningkatkan kualitas Amal Usaha Muhammadiyah seperti TK ABA. 
 
Penguatan ranting, menurutnya, perlu terus didampingi oleh Pimpinan Cabang maupun Pimpinan Daerah agar gerakan berjalan berkesinambungan.
 
Komitmen tersebut berangkat dari prinsip Islam Berkemajuan yang menjadi ruh gerakan Muhammadiyah dan 'Aisyiyah. 
 
Berlandaskan amar ma'ruf nahi munkar, tajdid, dan wasathiyah, berbagai program dijalankan untuk menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam.
 
Dalam isu perlindungan anak, 'Aisyiyah mengacu pada Fikih Perlindungan Anak Muhammadiyah, sebuah pedoman yang sejalan dengan ikhtiar bangsa dalam mewujudkan generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berkarakter.
 
Perhatian Muhammadiyah terhadap anak, jelasnya, bukanlah sesuatu yang baru. Sejak masa KH Ahmad Dahlan, pendidikan anak usia dini telah menjadi perhatian utama melalui pendirian sekolah, madrasah, dan Taman Kanak-kanak Bustanul Athfal (TK ABA). 
 
Ikhtiar itu dilakukan agar anak-anak tumbuh menjadi generasi yang lebih baik, baik secara spiritual, intelektual, maupun sosial.
 
Landasan gerakan tersebut juga bersumber dari Al-Qur'an, salah satunya QS. An-Nisa ayat 9 yang mengingatkan umat Islam agar tidak meninggalkan generasi yang lemah. 
 
Kelemahan yang dimaksud tidak hanya menyangkut aspek keagamaan, tetapi juga pendidikan, kesehatan, dan kondisi ekonomi.
 
Selain itu, Muhammadiyah memiliki pedoman Tuntunan Menuju Keluarga Sakinah sebagai panduan membangun keluarga yang kokoh. 
 
Dari keluarga yang kuat itulah perlindungan anak dapat diwujudkan secara nyata.
 
Evy Sofia menjelaskan, Fikih Perlindungan Anak Muhammadiyah memiliki pendekatan yang berbeda dari fikih pada umumnya. Fikih ini tidak berhenti pada pembahasan halal dan haram, melainkan menggunakan Manhaj Tarjih yang diawali dengan perumusan nilai-nilai dasar sebelum menyusun panduan praktis. 
 
Dengan cara ini, masyarakat tidak hanya mengetahui apa yang harus dilakukan, tetapi juga memahami alasan dan nilai yang melandasinya.
 
Ada empat nilai utama yang menjadi fondasi fikih tersebut. Pertama, tauhid, yang memandang anak sebagai amanah Allah sehingga memenuhi hak-haknya merupakan bagian dari ibadah. 
 
Kedua, al-'adl atau keadilan, yaitu memperlakukan setiap anak tanpa diskriminasi dan memastikan seluruh haknya terpenuhi.
 
Nilai ketiga adalah rahmah atau kasih sayang, sebagai wujud Islam rahmatan lil 'alamin yang menghadirkan kepedulian kepada semua anak, termasuk anak yatim dan kelompok rentan. 
 
Sementara nilai keempat adalah perlindungan, yang berlandaskan maqashid syariah untuk menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Karena itu, upaya mencegah stunting, kekerasan terhadap anak, hingga berbagai bentuk penelantaran merupakan bagian dari pelaksanaan tujuan syariat.
 
Keempat nilai tersebut menjadi pijakan bagi 'Aisyiyah dalam membaca berbagai persoalan anak yang terus berkembang. 
 
"Dengan fondasi teologis, metodologis, dan praktis yang kuat, gerakan perlindungan anak tidak berhenti pada respons sesaat, tetapi menjadi gerakan yang berkelanjutan," terangnya. 
 
Menutup penyampaiannya, Evy Sofia mengajak seluruh jajaran 'Aisyiyah, mulai dari ranting, cabang, hingga daerah, untuk terus menggerakkan program-program perlindungan anak sebagai amanah organisasi. 
 
Ia juga mendorong penguatan kolaborasi dengan Nasyiatul 'Aisyiyah, Fatayat, pemerintah, dan berbagai elemen masyarakat agar upaya mewujudkan keluarga yang tangguh dan anak-anak yang terlindungi dapat dilakukan secara lebih luas.

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah — Dua peserta Jalan Sehat Milad Ke-63 Universitas Muhammadiyah Ma....

Suara Muhammadiyah

17 June 2026

Berita

Renungan Ramadhan tentang Rambut Oleh: Mohammad Fakhrudin Sebagai orang beriman, dengan beribadah ....

Suara Muhammadiyah

6 March 2026

Berita

AGAM, Suara Muhammadiyah - Rencana Program Nagari Muhammadiyah di Nagari Sungai Batang Kecamatan Tan....

Suara Muhammadiyah

25 December 2023

Berita

BANDAR LAMPUNG, Suara Muhammadiyah - Tim Jurnalis SMK Muhammadiyah Tumijajar, Kabupaten Tulang Bawan....

Suara Muhammadiyah

12 December 2024

Berita

SEMARANG, Suara Muhammadiyah - Kepala SMP DIMSA Sragen, Wibowo Juli Saputro, M.Pd menandatangani Not....

Suara Muhammadiyah

5 June 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah