Luncurkan GACA, Perkuat Gerakan Perlindungan Anak
SRAGEN, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Daerah 'Aisyiyah (PDA) Kabupaten Sragen meluncurkan Gerakan 'Aisyiyah Cinta Anak (GACA) dalam Resepsi Milad ke-109 'Aisyiyah yang dirangkaikan dengan Peringatan Hari Anak Nasional ke-42, Kamis (23/7/2026).
Mengusung tema "Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan melalui Gerakan 'Aisyiyah Cinta Anak (GACA): Sayang Anak, Lindungi, dan Bangun Masa Depan", kegiatan ini menjadi momentum penguatan komitmen 'Aisyiyah dalam membangun gerakan dakwah kemanusiaan untuk memperkuat perlindungan anak melalui kolaborasi keluarga, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan.
Acara dihadiri Bupati Sragen Sigit Pamungkas, S.IP., M.A., Ketua Pimpinan Wilayah 'Aisyiyah (PWA) Jawa Tengah Dr. Eny Winaryati, M.Pd., Ketua Majelis Tabligh dan Ketarjihan Pimpinan Pusat 'Aisyiyah Evi Sofia Inayati, S.Psi., jajaran Pimpinan Daerah Muhammadiyah dan 'Aisyiyah, pimpinan organisasi perempuan, kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), serta ratusan kader 'Aisyiyah se-Kabupaten Sragen.
Dalam sambutannya, Bupati Sragen mengajak 'Aisyiyah untuk terus menjadi mitra strategis pemerintah dalam mengatasi berbagai persoalan anak dan keluarga, mulai dari stunting, perundungan (bullying), kekerasan terhadap anak, hingga penguatan ketahanan ekonomi keluarga.
Sigit mengakui, di tengah derasnya arus informasi saat ini, masyarakat mudah terjebak pada pesimisme karena terus disuguhi berbagai persoalan sosial.
"Mudah bagi kita untuk melipat tangan dan berkata: 'Masalah daerah ini terlalu besar, masalah bangsa ini terlalu rumit, apa yang bisa dilakukan oleh sebuah organisasi perempuan?'"
Namun, menurutnya, optimisme justru tumbuh ketika melihat kiprah para kader 'Aisyiyah yang selama ini konsisten mengabdi di tengah masyarakat.
"Namun, berdiri di podium ini, menatap wajah-wajah Ibu-Ibu kader 'Aisyiyah, para perempuan berkemajuan yang mengenakan kerudung dengan senyum ketulusan, saya menolak pesimisme itu!" tegasnya.
Sementara itu, Ketua PDA Kabupaten Sragen, Dra. Dwi Astuti, M.Pd., menjelaskan bahwa GACA merupakan implementasi nilai-nilai Al-Qur'an, khususnya QS An-Nisa ayat 9, sebagai gerakan bersama untuk mewujudkan generasi yang kuat, berkarakter, terlindungi, dan berkemajuan.
Selain peluncuran GACA, resepsi milad juga diisi dengan tausiyah oleh Ketua Majelis Tabligh dan Ketarjihan Pimpinan Pusat 'Aisyiyah, Evi Sofia Inayati, S.Psi.
Dalam tausiyahnya, Evi menegaskan bahwa perlindungan anak merupakan bagian dari dakwah kemanusiaan yang harus menjadi gerakan bersama.
Ia mengajak seluruh kader 'Aisyiyah untuk memperkuat implementasi Fikih Perlindungan Anak, membangun lingkungan yang aman dan ramah anak, serta terus berkolaborasi dengan keluarga, masyarakat, dan pemerintah dalam mewujudkan generasi yang berkualitas menuju Indonesia Emas 2045.
Menyiapkan Generasi Radhiyyan
Anak bukan sekadar hadir untuk memenuhi kebahagiaan sebuah keluarga. Mereka adalah amanah yang harus dipersiapkan menjadi generasi penerus, bukan hanya penerus garis keturunan, melainkan penerus nilai, perjuangan, dan peradaban.
Pesan itulah yang mengemuka dalam ceramah Ketua Pimpinan Wilayah 'Aisyiyah (PWA) Jawa Tengah, Dr. Eny Winaryati, M.Pd., pada resepsi Milad 'Aisyiyah Pimpinan Daerah 'Aisyiyah (PDA) Sragen yang dirangkai dengan Peringatan Hari Anak Nasional.
Di hadapan peserta, ia mengajak seluruh keluarga besar 'Aisyiyah memaknai kehadiran anak sebagai amanah besar yang harus dipersiapkan sejak sebelum kelahirannya hingga tumbuh menjadi pribadi yang membawa kemaslahatan bagi sesama.
Menurutnya, inspirasi itu dapat ditemukan dalam kisah Nabi Zakariya yang diabadikan Allah dalam Surah Maryam ayat 1-13.
Nabi Zakariya tidak sekadar memohon dikaruniai seorang anak. Di usia senja, beliau memanjatkan doa agar Allah menganugerahkan seorang penerus yang mampu melanjutkan risalah dan perjuangan menegakkan nilai-nilai kebenaran.
Doa itu dikabulkan melalui kelahiran Nabi Yahya. Sosok yang sejak usia dini dianugerahi hikmah, diperintahkan untuk berpegang teguh pada kitab Allah, serta tumbuh menjadi pribadi yang diridhai Allah (radhiyyan).
Bagi Dr. Eny, kisah tersebut bukan sekadar sejarah para nabi, melainkan peta jalan pendidikan keluarga yang tetap relevan hingga hari ini.
"Memiliki anak bukan sekadar punya keturunan, tetapi melahirkan generasi rabban radhiyyan, generasi yang diridai Allah, beriman, berakhlak, dan menjadi penerus kebaikan.," ungkapnya.
Karena itu, proses mendidik anak tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan fisik.
Anak membutuhkan keteladanan, kasih sayang, pembiasaan, penguatan karakter, serta lingkungan yang menumbuhkan kecintaan kepada ilmu dan nilai-nilai Islam.
Dalam pemaparannya, Dr. Eny menegaskan bahwa Surah Maryam ayat 1-13 menyimpan banyak pelajaran tentang pembangunan generasi.
Anak dipandang sebagai karunia sekaligus amanah. Orang tua dituntut memiliki visi yang jelas dalam mendidik anak sebagai penerus perjuangan.
Pendidikan dimulai dengan doa, dilanjutkan dengan proses pengasuhan yang konsisten, hingga melahirkan generasi yang diridhai Allah.
Ia juga menyoroti pentingnya budaya literasi. Ketika Allah memerintahkan Nabi Yahya agar berpegang teguh pada kitab-Nya, pesan itu bukan hanya mengajarkan membaca teks wahyu, tetapi juga membangun tradisi berpikir.
"Literasi tidak berhenti pada kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan membaca ilmu pengetahuan, membaca realitas sosial, serta membaca fenomena alam sebagai ayat-ayat kauniyah yang menunjukkan kebesaran Allah," paparnya.
Di tengah derasnya perubahan zaman, anak-anak juga perlu dipersiapkan menjadi pribadi yang kuat, bukan hanya secara intelektual, tetapi juga secara mental, spiritual, dan moral.
Hikmah yang Allah anugerahkan kepada Nabi Yahya sejak usia kanak-kanak menjadi inspirasi bahwa karakter mulia dapat ditanamkan sejak dini melalui pendidikan yang tepat.
"Dunia membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak, peduli, serta mampu memberi manfaat bagi masyarakat," tegasnya.
Semangat membangun generasi itulah yang, menurut Dr. Eny, telah menjadi denyut gerakan 'Aisyiyah selama lebih dari satu abad.
Setahap demi setahap, selangkah demi selangkah, organisasi perempuan Muhammadiyah ini menghadirkan dakwah kemanusiaan melalui gerakan amar makruf nahi mungkar yang diwujudkan dalam pendidikan, pelayanan kesehatan, pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, pembinaan keluarga, hingga berbagai pelayanan sosial.
Baginya, dakwah bukan hanya disampaikan melalui mimbar dan ceramah, tetapi diwujudkan dalam karya nyata yang menyentuh kehidupan masyarakat.
Sekolah, taman kanak-kanak, rumah sakit, panti asuhan, hingga berbagai program pemberdayaan menjadi bukti bahwa dakwah dapat hadir dalam bentuk pelayanan dan pengabdian.
Momentum Milad 'Aisyiyah yang bertepatan dengan Hari Anak Nasional pun menjadi pengingat bahwa ikhtiar membangun generasi tidak boleh berhenti.
Tantangan zaman terus berubah, namun cita-cita tetap sama, yakni melahirkan generasi radhiyyan, generasi yang beriman, mencintai ilmu, memiliki budaya literasi, kuat mental dan spiritual, berakhlak mulia, serta siap melanjutkan perjuangan mewujudkan masyarakat yang berkemajuan.

