Seni Mengucap Insya Allah: Antara Kepasrahan dan Kepastian

Publish

13 February 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
104
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Seni Mengucap Insya Allah: Antara Kepasrahan dan Kepastian

Penulis: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Dalam lanskap budaya dan religiusitas umat Islam, sulit menemukan frasa yang lebih sering diucapkan selain Insya Allah. Kalimat yang secara harfiah berarti "jika Allah menghendaki" ini telah melampaui batas-batas ritualistik dan menjadi bagian dari nafas percakapan sehari-hari. Namun, di balik popularitasnya, tersimpan kedalaman makna yang sering kali tereduksi oleh kebiasaan, atau bahkan disalahpahami dalam konteks interaksi modern. Untuk memahami urgensi dan cara menempatkan kalimat ini secara proporsional, kita harus kembali pada sumber asalnya, yaitu Al-Quran, serta membedah konteks historis dan teologis yang menyertainya.

Titik berangkat dari pembahasan ini adalah Surah Al-Kahfi ayat 23-24. Al-Quran menyatakan dengan tegas: “Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, 'Aku pasti melakukan itu besok pagi,' kecuali (dengan menambahkan), 'Insya Allah'.” Ayat ini tidak turun dalam ruang hampa. Secara historis, ayat ini merupakan bagian dari respons Ilahi atas sebuah peristiwa yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW di Makkah.

Dikisahkan dalam berbagai tafsir klasik, kaum Quraisy yang meragukan kenabian Muhammad SAW mengirim utusan untuk berkonsultasi dengan para rabi Yahudi di Madinah. Para rabi tersebut menyarankan agar mereka menanyakan tiga hal yang hanya bisa dijawab oleh seorang Nabi: tentang pemuda yang tertidur di gua (Ashabul Kahfi), tentang pengembara besar yang mencapai timur dan barat (Dzulkarnain), dan tentang hakikat Ruh.

Ketika pertanyaan itu diajukan, Nabi Muhammad SAW, dengan penuh keyakinan bahwa wahyu akan segera turun, menjawab: "Datanglah besok, aku akan memberi tahu kalian jawabannya." Namun, apa yang terjadi kemudian adalah sebuah ujian kesabaran. Wahyu tidak turun keesokan harinya, bahkan tidak pula dalam beberapa hari berikutnya. Beberapa riwayat menyebutkan jeda waktu hingga lima belas hari. Penundaan ini menjadi celah bagi kaum musyrikin untuk mencemooh Nabi, sementara Nabi sendiri berada dalam kondisi batin yang penuh kecemasan dan rasa canggung.

Pesan yang ingin disampaikan melalui peristiwa ini sangatlah jelas: Kepastian masa depan—bahkan bagi seorang utusan Tuhan sekalipun—bukanlah milik manusia. Ayat ini hadir sebagai pendidikan mental bagi sang Nabi dan seluruh umatnya bahwa manusia hanyalah perencana, sedangkan Allah adalah penentu akhir.

Dalam banyak Al-Quran terjemahan bahasa Inggris maupun Indonesia, sering kali terdapat penyisipan kata yang tidak ada dalam teks asli, seperti frasa "tanpa menambahkan" atau "tanpa mengucapkan."

Penyisipan ini, meski bertujuan untuk memperjelas, terkadang secara tidak sengaja menggeser fokus pesan. Seolah-olah kesalahan utamanya hanyalah "lupa mengucapkan sebuah kata lisan." Padahal, jika kita merujuk pada teks literal seperti terjemahan Pickthall, pesan intinya lebih menekankan pada larangan bersikap absolut terhadap rencana masa depan.

Ayat ini bukan sekadar tentang formalitas kata, melainkan tentang adab batin. Ada perbedaan besar antara seseorang yang secara lisan mengucap Insya Allah namun di hatinya merasa sombong bahwa dia pasti bisa melakukannya, dengan seseorang yang mungkin tidak sempat berucap lisan namun batinnya penuh dengan rasa ketergantungan kepada Tuhan. Idealnya, tentu saja, keduanya harus selaras: lisan yang berdzikir dan hati yang tawakal.

"Insya Allah" dalam Perspektif Lintas Agama

Menariknya, konsep ini bukanlah sesuatu yang eksklusif milik Islam saja. Dalam tradisi Kristen, tepatnya pada Kitab Yakobus 4:13-15, terdapat pesan yang hampir identik. Yakobus menegur mereka yang berkata, "Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung," sementara mereka tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Yakobus menyarankan agar mereka berkata, "Jika Tuhan menghendaki, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu."

Hal ini menunjukkan bahwa pengakuan atas kedaulatan Tuhan di atas kehendak manusia adalah nilai universal dalam agama-agama abrahamaik. Manusia, dalam keterbatasannya, sering kali terjebak dalam delusi kontrol. Kita merasa bahwa dengan teknologi, kalender yang rapi, dan modal yang cukup, kita memiliki kuasa penuh atas hari esok. Insya Allah adalah sebuah interupsi spiritual terhadap delusi tersebut.

Namun, di era modern, penggunaan Insya Allah mengalami pergeseran makna yang cukup mengkhawatirkan. Sering kali, kalimat ini digunakan sebagai eufemisme untuk mengatakan "tidak" atau sebagai "pintu darurat" jika seseorang tidak yakin bisa memenuhi janjinya. Dalam konteks sosial di beberapa tempat, jika seseorang berkata "Insya Allah saya datang," lawan bicaranya justru menjadi ragu, seolah-olah probabilitas kedatangannya hanya 50%.

Inilah yang disebut aspek yang bermasalah. Penggunaan yang berlebihan atau salah tempat justru bisa merusak citra seorang Muslim.

Mari kita ambil contoh kasus pernikahan atau kontrak bisnis. Dalam proses akad nikah, ketika penghulu bertanya kepada pengantin pria mengenai kesediaannya, jawaban yang dibutuhkan adalah jawaban yang pasti: "Saya terima." Jika pengantin pria menjawab "Saya terima, Insya Allah," secara hukum ini bisa dianggap membuat ikrar tersebut menjadi bersyarat, padahal akad nikah adalah sebuah perjanjian yang kuat (mitsaqan ghalizha). Begitu pula dalam bisnis. Jika Anda menjanjikan pengiriman barang pada tanggal tertentu dalam dokumen resmi, pelanggan membutuhkan kepastian profesional.

Keseimbangan: Batin yang Bertawakal, Lisan yang Tegas

Lalu, bagaimana kita menyeimbangkan antara perintah Al-Quran untuk mengucap Insya Allah dengan tuntutan dunia modern akan kepastian?

Konteks kehendak Tuhan juga mencakup kehendak-Nya agar kita bersikap jujur dan tegas. Dalam situasi kontrak atau janji sosial, adalah kehendak Allah agar kita menjadi pribadi yang dapat dipercaya (Al-Amin). Oleh karena itu, bersikap pasti dalam sebuah janji ("Ya, saya akan menyelesaikannya besok jam 9 pagi") tidaklah bertentangan dengan ayat Al-Kahfi, selama di dalam hati kita tetap meyakini bahwa keberhasilan tersebut hanya terjadi atas izin Allah.

Artinya, kita harus mampu membedakan antara sikap batin (selalu menyadari ketergantungan pada Tuhan (Inilah esensi Insya Allah) dan sikap sosial (menunjukkan keseriusan dan integritas dengan memberikan kepastian kepada sesama manusia.

Jika kita merasa bahwa mengucapkan Insya Allah secara lisan justru akan membuat orang lain bingung atau merusak kepercayaan dalam sebuah kesepakatan profesional, maka kita bisa menyimpannya sebagai keyakinan batin yang kuat. Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati. Namun, jika dalam percakapan informal dengan teman, mengucapkannya adalah bentuk adab yang sangat baik.

Pada akhirnya, memahami ayat 23-24 dari Surah Al-Kahfi adalah tentang memahami posisi kita sebagai hamba di hadapan Sang Khalik. Insya Allah bukan sekadar "tambahan kalimat" agar rencana kita sukses. Ia adalah pengakuan atas keterbatasan manusiawi kita.

Pelajaran dari kisah penundaan wahyu kepada Nabi Muhammad SAW mengajarkan kita bahwa ketidakpastian adalah bagian dari ujian. Ketika kita berencana, kita harus melakukannya dengan penuh kesungguhan. Namun ketika rencana itu gagal atau tertunda, kita memiliki landasan spiritual untuk tidak hancur dalam kekecewaan, karena kita tahu ada kehendak yang lebih besar di atas segalanya.

Mari kita kembalikan kehormatan kalimat Insya Allah. Jangan jadikan ia sebagai tameng atas kemalasan atau ketidakpastian kita. Jadikan ia sebagai puncak dari sebuah perencanaan yang matang; sebuah pernyataan bahwa setelah semua usaha maksimal dilakukan, kita meletakkan hasilnya di tangan yang paling berkuasa. Dengan demikian, kita bisa menjadi pribadi yang teguh secara profesional di mata manusia, namun tetap rendah hati secara spiritual di hadapan Tuhan.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Orasi dari Timur: Lawatan Politik Buya Hamka ke Bima, 1955 Oleh: Imam Ahnafudin, Aktivis IMM Ciputa....

Suara Muhammadiyah

17 September 2025

Wawasan

Oleh: Donny Syofyan  Sebelum Abu Bakar wafat, ia menominasikan penasihat militernya, Umar bin ....

Suara Muhammadiyah

24 July 2023

Wawasan

Sudah Hadir di 30 Negara: Mengapa Perlu Ada PCIM di Luar Negeri?  Oleh: Sonny Zulhuda, Dosen I....

Suara Muhammadiyah

12 January 2026

Wawasan

Agama Sebagai Pandangan Hidup Oleh: Prof Dr Syamsul Anwar, MA Agama dapat didefinisikan dari beber....

Suara Muhammadiyah

14 June 2024

Wawasan

Revitalisasi Tradisi Intelektual IMM  Oleh: M. Rendi Nanda Saputra, Sekretaris Umum PC IMM AR ....

Suara Muhammadiyah

1 March 2025